Mangrove, selain sebagai penyangga pesisir, tumbuhan ini memiliki nilai ekonomis bagus untuk masyarakat. (photo: Apink Alkaff)

Mangrove Solusi Persoalan Masyarakat Pesisir Lombok Utara – UTARAKITA

LOMBOK UTARA – Mangrove solusi persoalan masyarakat pesisir Lombok Utara. Tanaman tangguh ini tumbuh dan berkembang sebagai suatu ekosistem alami dengan berbagai kondisi dan kekhasan telah membentuk suatu keseimbangan ekologi yang menyimpan banyak potensi. Dan potensi ini sudah sepatutnya diungkapkan, dipelajari, diteliti, dan dikembangkan sebagai sumber belajar, aset ekonomi, sosial, serta aset budaya yang dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kabupaten Lombok Utara (KLU) memiliki garis pantai sepanjang 125 kilometer. Ironisnya, sebagian besar masyarakat miskin Lombok Utara justru terkonsentrasi di kawasan pesisir. Padahal, kawasan pesisir KLU ini menyimpan segudang potensi kelautan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Profesor Dr Agil Al Idrus M.Si, ahli mangrove Universitas Mataram menjelaskan, pihaknya sudah cukup lama mengamati karakteristik kawasan pesisir Lombok Utara. Menurut dia, sejumlah kawasan pantai KLU sangat potensial untuk pengembangan mangrove.

Profesor Agil Alidrus, ahli mangrove dari Unram.

Profesor Agil Alidrus, ahli mangrove dari Unram.

‘’Mangrove ini tanaman penyangga. Selain akarnya yang sangat kuat sebagai pemecah gelombang, mangrove ini bisa mencegah abrasi dan memiliki nilai produksi yang sangat tinggi,’’ ungkap guru besar Unram kelahiran Lombok Timur 11 September 1957, Kamis.

Terkait nilai produksinya, buah mangrove ini bisa dimanfaatkan sebagai dodol, lotion, sirup, dan banyak lagi manfaat lain. Selain sebagai tempat hidup ikan dan berbagai binatang, daun mangrove juga bisa digunakan sebagai obat sakit perut.

Agil yang sudah melakukan penelitian mangrove sejak study S2 (1994-2014) ini mengaku setiap tahun dirinya mendapat surat keputusan (SK) Gubernur NTB terkait mangrove. Hanya saja, kegiatan terkait mangrove yang dilakukan selama ini hanya bersifat seminar saja. Itu pun kegiatannya hanya digelar sekali setahun.

‘’Kegiatannya hanya bersifat seminar saja tanpa ada aksi. Padahal, kita bisa kerjasama dengan badan rehabilitasi mangrove nusa tenggara,’’ ujarnya.

Mantan Dekan FKIP Unram (1998-2002) menyebutkan, biaya pengembangan mangrove atau bakau untuk mencegah abrasi ini jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangunan fisik (talud).

Di KLU kata dia, pengembangan mangrove sangat penting. Karena, kawasan pesisir Lombok Utara cukup panjang dan sangat potensial untuk pengembangan mangrove.

Saat ini sambung lulusan pascasarjana UGM ini, ada sejumlah kawasan pesisir KLU yang ada mangrovenya. Salah satunya di Gili Meno. Hanya saja, tanaman mangrove di Gili Meno ini sudah sangat menipis dan terancam punah. ‘’Seharusnya, mangrove di Gili Meno itu dipertahankan sebagai salah satu ciri khas pulau itu.

Disamping itu, tanaman ini memiliki banyak manfaat untuk lingkungan maupun untuk masyarakat pesisir disekitarnya,’’ ujar Agil yang dianugerahi sebagai guru besar 2008 lalu ini.

Dalam mengembangkan mangrove, yang harus diperhatikan hanya pemeliharaan saja. Biasanya, pemeliharaan ini dilakukan hanya tiga bulan sampai setahun. Tentu, proses pemeliharaan tersebut harus melibatkan masyarakat setempat. Dengan demikian, masyarakat setempat bisa mendapat penghasilan dan akan merasa ikut memiliki.

Agil kerap disebut orang mangrove ini mengatakan, persoalan yang sering terjadi dalam pengembangan mangrove adalah pengelolaan lepas. Artinya, pengembangannya harus terintegrasi.

‘’Ketika kita bisa membuat komunitas mangrove, saya yakin persoalan kemiskinan di kawasan pesisir Lombok Utara akan selesai,’’ tegas Agil yang mengaku sangat siap melakukan pengembangan mangrove di KLU ini.(Apink Alkaff)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com