Aktivitas warga Pulau Bungin, Alas, Sumbawa Besar, NTB di pagi hari.

Pulau Bungin simpan sederet keunikan – UTARAKITA

Sumbawa Besar – Predikat pulau terpadat di dunia membuat Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, menyimpan sederet keunikan. Selain kambing makan kertas, pemukiman padat nelayan ini dihuni multi etnis. Tak heran, jika pulau ini merupakan salah satu surganya photografer.

Rumah-rumah panggung beraneka warna dengan sederet perahu nelayan menjadi landscape yang memiliki daya tersendiri bagi seorang pemburu gambar.

Untuk kedepan, Pulau Bungin juga berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata kuliner. Maklum, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Sayangnya, segudang potensi yang dimiliki pulau berpenghuni sekitar 900 kepala keluarga atau 3.097 jiwa ini belum dikelola serius.

Menariknya, pulau seluas delapan hektar ini selalu bertambah luas seiring meningkatnya jumlah penduduk. Hal ini juga dipengaruhi budaya lokal dimana setiap warga yang hendak menikah selalu membawa karang ketika pulang melaut.
Yang tidak kalah unik, daratan yang dulunya terpisah (pulau) dari Kecamatan Alas ini juga dihuni sekitar 10 suku. Sebagian besar berasal dari suku Bugis dan Bajo.

Tentu, keberadaan suku Bajo dan Bugis ini tidak lepas dari sejarah masa lalu Kerajaan Sumbawa. Dimana, Pulau Bungin ini pernah menjadi basis armada laut Kesultan Sumbawa. Armada tersebut, dipimpin oleh Abdullah Mayuh atau dikenal dengan sebutan Panglima Mayuh.

Menurut Kepala Desa Bungin, Sofian, sekitar abad 18 sekelompok masyarakat asal Sulawesi berlayar dan mendiami Pulau Panjang atau Bungin Kelat, Kecamatan Alas.

‘’Lantaran minimnya air, suku nelayan inin pindah wilayah Nange, di sebelah utara Labuhan Alas. Sisanya, pindah ke daerah Bajo Rai, di sebelah barat Labuhan Alas,’’ kata Sofian, akhir Mei 2015 lalu.
Dulu kata Sofian, kawasan Bungin ini dikenal banyak dihuni perompak. Saat itulah muncul nama Panglima Mayuh yang menjadi tokoh utama pengusiran bajak laut dari perairan Kesultanan Sumbawa.

Awalnya, Panglima Mayuh ini berlayar ke Sumbawa mencari mencari saudaranya. Dalam perjalanan, dia membawa Bendera Naga. Bendera yang juga lambang salah satu kerajaan Sulawesi Selatan dibawa dengan maksud sebagai tanda. Paling tidak, agar saudara-saudaranya bisa mengenali.

Makkadiah, salah seorang warga Bungin yang masih keturunan kelima dari Abdullah Mayuh menuturkan, Panglima Mayuh tiba di Pulau Sumbawa dengan menyandarkan kapal di sebuah bubungin yang dalam bahasa Bajo berarti tumpukan pasir putih. Ia dan keluarganya kemudian menetap di pulau itu hingga kini.
Kabar kesuksesan Abdullah Mayuh menghalau segerombolan bajak laut sampai ke dalam istana Kesultanan Sumbawa. Selanjutnya, Abdullah Mayuh dipanggil Raja Sumbawa kalau itu, Sultan Muhammad Jalaluddin III.

Kesuksesan Abdullah Mayuh dalam mengusir perompak itu diapresiasi Sultan Muhammad Jalaludin III dengan memberikan lambang atau bendera Lipan Api untuk mengamankan perairan Kesultanan Sumbawa. ‘’Sultan juga memberikan dataran Bubungin kepada Abdullah Mayuh,’’ kenang kakek 74 tahun ini sambil memangku lipatan Bendera Lipan Api di pangkuannya.

Sayangnya, keberadaan makam Panglima Mayuh hingga kini belum jelas. Kendati demikian, keberadaan Pasukan Lipan Api di Pulau Bungin masih segar dalam ingatan setiap warga setempat.

Pulau yang kini sudah terhubung dengan dataran Kecamatan Alas ini perlahan menjadi daerah tujuan wisata eksklusif bagi sejumlah komunitas. Namun sebagian traveler masih melihat pulau pluralisme ini sebagai salah satu tujuan wisata budaya baru. Paling tidak, di pulau ini, para petualang masih mudah mendapatkan sekaleng bir dingin sebelum sunset atau pun sunrise. Atau, pengunjung bisa merasakan aroma bulan madu di atas perahu-perahu masyarakat yang tertambat di halaman belakang rumahnya.

‘’Bermalam di atas perahu masyarakat Pulau Bungin saat bulan purnama benar-benar memberikan sensasi romantis dan lebih,’’ kata Andi, salah seorang photografer asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, akhir Mei 2015 lalu.

Selain surganya photografer, Pulau Bungin juga perlahan menjadi arena bermain favorit baru para traveler nasional.
Kaharudin, salah seorang tokoh Pulau Bungin juga menyampaikan hal yang sama. Menurut nelayan suku Bajo, Sulawesi ini, dalam sebulan terakhir ini, banyak photografer dari berbagai daerah datang ke tempat ini.

‘’Memang, belakangan ini banyak photografer datang motret-motret di pulau kami,’’ terang pria berkaca mata ini. (Apink Alkaff)

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda