Regulasi 10 desa pemekaran sudah kuat

Lombok Utara (Utarakita) – Regulasi yang mengatur 10 desa pemekaran sudah kuat. Pasalnya, peraturan bupati (perbub) Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait pemekaran ini sudah ditandatangani. Kini, penjabat kades 10 desa pemekaran sudah dilantik.

Saat ini KLU hanya memiliki 33 desa yang tersebar di lima kecamatan. Artinya, jika pemekaran desa ini disetujui gubernur, KLU bakal memiliki 43 desa.

Kabag Pembangunan Pemkab Lombok Utara H Irnadi Kusuma menjelaskan, pemekaran desa ini dilakukan di empat kecamatan. Tiga desa di Kecamatan Bayan, tiga desa di Kecamatan Gangga, satu desa di Kecamatan Tanjung dan satu desa di Kecamatan Pemenang.

Di Kecamatan Bayan beber Irnadi, Desa Sukadana mekar dan melahirkan Desa Batu Rakit. Desa Akar-Akar mekar menjadi Desa Andalan dan Desa Gunjan Asri. Desa Sesait menelurkan Desa Pansor dan Desa Santong Mulia.

Untuk Kecamatan Gangga, Desa Bentek terbelah dan melahirkan Desa Selelos. Desa Genggelang juga melahirkan Desa Segara Katon dan Desa Rempek mekar dan menelurkan Desa Rempek Darussalam. Sedangkan Kecamatan Tanjung memekarkan Desa Jenggala dan melahirkan Desa Samaguna. Dan Kecamatan Pemenang memekarkan Desa Pemenang Barat dan melahirkan Desa Menggala.

Menurut Irnadi, pemekaran ini diperlukan karena jumlah penduduk dan luas wilayah di desa terkait sangat layak dimekarkan.

‘’Kita juga ingin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kami juga berharap masyarakat bisa lebih bergairah dengan pemekaran ini,’’ kata mantan Camat Tanjung ini.

Lulusan IPDN asal Lombok Utara pertama ini juga berharap, langkah memekarkan 10 desa ini bisa memberikan dampak positif dalam semua aspek. Khususnya, aspek perekonomian masyarakat setempat.

Di tempat yang sama, Sekertaris Panitia Pemekaran Desa Rempek Muliadi mengungkapkan, sebelum ada tiga nama sebelum nama Rempek Darussalam disepakati masyarakat. Awalnya kata Muliadi, saat Lombok Utara masih bergabung dengan Lombok Barat (2005), nama desa pemekaran Rempek yang pertama kali diusulkan adalah Keramat Jati. Selanjutnya, ketika KLU terbentuk nama yang diusulkan Rempek Daya dan Sangaji Puri.

‘’Karena berbagai pertimbangan, kita sepakati nama Desa Rempek Darussalam. Karena bagaimanapun juga, kita tidak bisa lepas dari nama Rempek memiliki sejarah panjang,’’ jelas Muliadi yang mengaku sangat bersyukur karena pemekaran tersebut sudah diteken Bupati KLU.

Lebih jauh Muliadi mengaku, saat ini masyakat Rempek Darussalam sudah membuka jalan baru secara suadaya sepanjang 400 meter dengan lebar tujuh meter.

‘’Nantinya jalan ini akan menghubungkan pasar Rempek dengan jalan menuju Dusun Busur,’’ ujarnya penuh semangat.(Apink Alkaff)

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda