Rumah warga Pulau Bungin, Alas, Sumbawa Besar, NTB yang dibangun diatas tumpukan karang.

Sebelum menikah, warga pulau Bungin harus bangun rumah karang

Sumbawa Besar (Utarakita) – Sebelum menikah, seorang lelaki pulau Bungin, Kecamatan Alas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB) harus mempunyai rumah karang terlebih dahulu. Rumah panggung mungil yang dibangun di atas tumpukan karang laut inilah yang kemudian menjadi rumah masa depan warga setempat. Artinya, maskawin rumah karang cukup menjadi prioritas warga pulau Bungin.

Kendala keterbatasan lahan di Pulau Bungin pun melahirkan budaya dan kebiasaan penduduknya dalam menjalani hidup. Tidak terkecuali di pulau ini. Jika hendak menikah, warga yang tinggal di pulau dengan populasi sebanyak 3.079 jiwa ini harus menimbun karang laut terlebih dahulu. Hal itu dilakukan karena kurangnya ketersediaan lahan di wilayah Bungin.

“Menimbun karang laut sebelum menikah merupakan aturan di sini. Itu kami lakukan karena kurangnya lahan di sini. Jadi pasangan suami istri harus sediakan lahan sendiri sebelum menikah,” kata kepala Desa Bungin, Sofian.

Dia memaparkan, setiap calon pengantin pria harus menimbun batu karang di laut. Nantinya tumpukan karang akan dijadikan pondasi rumah.

Sang calon bebas menentukan lokasi yang akan dijadikan rumahnya. Yang penting ada persetujuan dari warga yang tinggal di dekat lokasi yang akan dibangun.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang warga setempat, Juhaidin. Ditegaskannya, hal itu merupakan suatu keharusan. “Kalau belum timbun karang acara pernikahan harus ditunda dulu,” ujar ayah empat anak ini.

Caranya, dengan mencungkil batu karang mati dari dalam laut atau diambil dari daratan sekitar. Karang kemudian ditumpuk disekitar daratan. Ketika air pasang, barulah diangkut menggunakan perahu.

Butuh sekitar lima sampai enam tahun untuk menimbun karang dengan panjang sekitar 13 meter dan lebar sekitar 5 meter. Untuk mencapai luas tersebut, jumlah batu yang diangkut bisa ratusan perahu.

“Lain cerita kalau calon pengantinnya berduit. Biasanya mereka beli batu karang. Harganya sekitar Rp 40-60 ribu per perahu,” tandasnya.

Setelah itu, lanjut Juhaidin, tumpukan karang yang diatur persegi empat ditimbun dengan tanah. Kemudian dibangunlah rumah diatasnya. Selain itu, calon pengantin juga bisa membeli rumah warga yang sudah dibangun. Harganya berkisar antara Rp 30 juta sampai Rp 40 juta.

Jika ada warga dari luar yang hendak menikah dengan warga Bungin, tidak harus mengikuti tradisi menimbun karang. “Tergantung kesepakatan keluarga kedua belah pihak,” pungkas Juhaidin. (*)

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda