70 persen pasutri di KLU tidak punya dokumen nikah

Lombok Utara (Utarakita) – Sebanyak 70 persen pasangan suami-istri (pasutri) di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak mempunyai dokumen pernikahan resmi. Kondisi memperihatinkan ini mendapat sorotan serius dari Bupati KLU H Djohan Sjamsu belum lama ini.

Menurut Djohan, pihaknya sudah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya, dengan menggelar isbat nikah bagi pasangan yang belum memiliki dokumen pernikahan. ‘’Kita sudah menggelar isbat nikah untuk 50 pasangan pengantin lama,’’ kata Djohan.

Jika persoalan ini tidak segera diselesaikan, Djohan khawatir, ini akan berdampak pada anak-anak Lombok Utara. Karena dokument nikah itu, berkaitan dengan sejumlah dokumen lain yang sangat dibutuhkan, seperti akta kelahiran.
Untuk kedepan, Djohan berjanji pihaknya akan memberikan perhatian serius dengan persoalan ini. Sehingga tegasnya, seluruh pasangan nikah di Lombok Utara memiliki dokumen resmi yang dikeluarkan negara. ‘’Dalam suatu pernikahan itu ada dua hukum yang harus dipenuhi. Pertama, hukum agama dan kedua hukum negara. Dokumen nikah ini adalah salah satu persyaratan yang harus dipenuhi setiap pasangan nikah,’’ tandasnya.

Selain kurangnya kesadaran akan pentingnya dokumen tersebut, angka pernikahan usia dini juga masih menjadi persoalan serius di kabupaten termuda NTB ini. Tak heran, saat ini pemerintah setempat juga tengah berupaya menekan dan mencegah warganya yang menikah dini.

Masih banyak pernikahan usia dini di KLU ini dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan KLU dr Beni Nugroho dan anggota DPRD KLU dari Partai Bulan Bintang, M Nasahar. Bahkan, Nasahar mengakui, belum lama ini lalu salah satu keluarganya menikah di usia dini.

‘’Beberapa hari yang lalu, salah satu keluarga saya menikah. Padahal dia masih duduk di bangku SMP,’’ aku Nasahar.

Nasahar kemudian menyarankan agar Dinas Kesehatan Lombok Utara kembali menggalakkan program pembatasan usia pernikahan. ‘’Kita memang harus memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya usia ideal pernikahan,’’ kata dr Beni.

Disamping berdampak pada kesehatan, pernikahan usia dini juga secara otomatis berdampak buruk kepada kualitas pendidikan. Karena sambung Nasahar, tingginya angka siswa putus sekolah di KLU ini juga disebabkan lantaran pernikahan usia dini. ‘’Saat ini, angka siswa putus sekolah paling banyak terjadi di Kecamatan Bayan. Salah satu penyebab siswa putus sekolah ini tidak lain adalah karena pernikahan usia dini,’’ sebut Nasahar. (Apink Alkaff)

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda