Murid SDN 6 Akar Akar, Bayan, Lombok Utara. (photo: Apink)

Kecamatan Bayan tertinggi angka putus sekolah

Lombok Utara (Utarakita) – Kecamatan Bayan tercatat sebagai daerah yang menyumbangkan angka putus sekolah tertinggi di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB). Tercatat, angka siswa putus sekolah di kecamatan paling timur KLU ini 54 kasus atau 32 persen dari total kasus pada 2013-2014 lalu.

Ironisnya, kasus siswa putus sekolah ini terjadi di semua jenjang pendidikan. Kasus siswa DO tertinggi terjadi di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengkat atas. ‘’Di tingkat SD, kasus siswa putus sekolah didominasi laki-laki, sedangkan di tingkat SMA atau SMK didominasi siswa perempuan,’’ kata M Nasahar, salah seorang legislator Lombok Utara belum lama ini.

Lebih jauh dijelaskan, kasus siswa putus sekolah (drop out) pada 2011 sebanyak 21 kasus, kemudian pada 2012 meningkat lima kali lipat menjadi 111 kasus. Angka siswa putus sekolah ini kembali meningkat pada 2013 menjadi 167 kasus.

Menurut Nasahar, pembangunan sektor prioritas daerah ini juga dianggap tidak menggembirakan. Selama tiga tahun terakhir, Pemda KLU sudah mengalokasikan belanja pendidikan rata-rata 28 persen dari total belanja daerah. Alokasi dana pendidikan ini lebih tinggi dari amanat undang-undang. Kendati demikian, belanja tersebut ungkapnya, justeru dialokasikan untuk membayar gaji pegawai, guru, dan tenaga pendidik lainnya. Sisanya 6-8 persen dialokasikan untuk belanja program pendidikan yang manfaatnya langsung diterima siswa.

Penurunan jumlah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) padahal anggaran program PAUD ini sudah ditingkatkan, juga mendapat sorotan serius. Jumlah PAUD menurun tujuh lembaga pada 2014. ‘’Empat tahun sebelum 2014, jumah PAUD ini meningkat 88 lembaga. Penurunan jumlah lembaga ini perlu mendapat perhatian serius,’’ kata Nasahar.

Badan Pusat Statistik (BPS) KLU juga mencatat, rasio guru dan murid tingkat dasar dan SMP juga masih tinggi. Yakni, 1: 42 untuk SMP dan 1:31 untuk tingkat SD. Rasio yang tinggi ini kata Nasahar, mencerminkan kurang efektifnya proses belajar mengajar. Kondisi ini juga akan berdampak pada buruknya mutu pendidikan.

Penurunan angka partisipasi murni tingkat SD dan SMP juga mendapat sorotan pansus. Pansus juga menyoroti tidak sebandingnya jumlah SMA atau SMK dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun di KLU. Hingga 2013, rasionya 929 per unit sekolah dan diperkirakan meningkat menjadi 933 per unit sekolah pada 2014 ini.

Selama lima tahun kata politisi Partai Bulan Bintang ini, jumlah SMA dan SMK bertambah satu unit. Total jumlah SMA/SMK di KLU 12 unit. Beda halnya dengan jumlah SMP yang meningkat signifikan sebanyak 23 unit hingga 2014. ‘’Total jumlah SMP di KLU sekarang 38 unit,’’ jelasnya.(Apink Alkaff)

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda