Suasana malam di perkampungan pendaki Danau Segara Anak,Rinjani, Lombok.

Mencumbu Anjani (1)

Feminisme Rinjani bisa dilihat di setiap lekuk tubuh Sang Dewi

Banyak gunung yang menawarkan keindahan yang mempesona di jagat ini. Tetapi, tidak banyak gunung yang memiliki kecantikan semolek Rinjani.

Apink Alkaff – Utarakita

Umumnya, gunung-gunung yang populer di jamah pendaki dunia memiliki nama maskulin. Seperti, gunung tertinggi dunia, Everest di perbatasan Nepal dan Cina yang memiliki titik tertinggi 8.848 meter di atas permukaan laut (mdpl). Atau Mont Blanc di perbatasan Italy dan Prancis dengan ketinggian 4.810 mdpl. Atau Gunung Elbrus di Rusia dengan puncak tertinggi 5.642 mdpl.

Di Tanzania, ada Gunung Kilimanjaro dengan tingginya 5.892 mdpl. Sedangkan di Amerika Utara ada Gunung Mc Kenley dengan ketinggian 6.194 mdpl dan Gunung Aconcagua di Argentina dengan puncak ketinggian 6.962 mdpl.

Di lihat dari nama, bisa dipastikan bahwa gunung-gunung di berbagai belahan dunia tadi berjenis kelamin laki-laki. Mereka bertubuh kekar dengan puncak bersalju dan bersuhu ekstrim.

Di Papua, ada Carstenz Pyramid dengan puncak 4.884 mdpl. Meski ini gunung tertinggi di Indonesia, tetapi gunung yang akrab disebut Puncak Jaya ini tidak berapi alias mandul. Sedangkan puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia adalah Kerinci dengan ketinggian 3.805 mdpl.

Vintage: Pintu Masuk Sungai Penuh, Taman Nasional Kerinci, Sumatera, 1998.

Vintage: Pintu Masuk Sungai Penuh, Taman Nasional Kerinci, Sumatera, 1998.

Selain Kerinci, di Indonesia banyak gunung yang menjadi tujuan pendaki. Antara lain, Gunung Dempo, Semeru, Selamet, Arjuno, Gede Pangrango, Merbabu, Raung, Agung, dan masih banyak gunung lain. Sesuai nama dan karakternya, gunung-gunung di ini juga berjenis kelamin laki-laki. Hanya Rinjani yang merupakan Singgasana Dewi Anjani yang memiliki karakter seorang wanita.

Vintage: Ranu Kumbolo, Semeru, Jawa Timur, 1999

Vintage: Ranu Kumbolo, Semeru, Jawa Timur, 1999

Kecantikannya dan keindahan tubuh Sang Dewi tak perlu diragukan lagi. Setiap pendaki yang pernah mencumbu kemolekannya pasti akan selalu merasakan kerinduan yang tak berkesudahan. Bahkan, semakin sering seorang pendaki mencumbunya, akan semakin besar pula kerinduan yang akan menguasai hari-harinya.

Vintage: Satu momen di Puncak Arjuno, Jawa Timur, 1995.

Vintage: Satu momen di Puncak Arjuno, Jawa Timur, 1995.

Feminisme Rinjani bisa dilihat dari keindahan setiap lekuk dan sisi tubuh Sang Dewi. Kuning langsat savana dari jalur pendakian Sembalun sampai Pelawangan yang tersapu sinar mentari pagi di musim kemarau adalah kaki kanan Anjani. Lanskap Pelawangan Sembalun dengan jutaan bunga edelweis di tebing curamnya layaknya paha mulus Sang Dewi yang tersingkap badai.

Dari paha Pelawangan ini kita bisa melihat sebagian keindahan dan kecantikan tubuh Sang Dewi. Dari sini pula, karisma wajah Anjani (puncak) yang terkadang tertutup kabut sutra putih di arah mentari terbit bisa dinikmati. Dan jika kabut-kabut sutra itu tidak menutupi sisi barat, kita pasti terkesima melihat hamparan rahim Danau Segara Anak.

Rahim yang merupakan sumber kehidupan itu tampak hijau dengan tepian kekuning-kuningan. Asap putih tipis yang keluar perlahan dari puncak payudara Gunung Baru dengan latar tebing cadas mengelilingi dada dan perutnya menyempurnakan keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa.

Suasana malam di perkampungan pendaki Danau Segara Anak, Rinjani, Lombok.

Suasana malam di perkampungan pendaki Danau Segara Anak, Rinjani, Lombok.

Meski paha Pelawangan adalah pintu angin, ini adalah salah satu titik terindah untuk berlama-lama bercumbu dan berbagi hati dengan Sang Dewi. Dari titik, kita harus cukup beristirahat menyiapkan bekal dan mental sebelum merasakan harumnya debu melintasi lekuk pinggang dan punggung Anjani.

Biasanya, perjalanan menuju wajah Sang Dewi ini dilakukan mulai pukul 02.00 Wita dini hari. Menjelang subuh, kita mulai bisa mencium pasir dan batu di sekitar leher Anjani. Dari sini kita pun mulai menghitung langkah. Terkapar, merangkak, dan tiarap adalah keniscayaan yang tak terelakkan.

Nafas tersengal lantaran oksigen yang menipis terkadang membuat kita terlelap dan pingsan sejenak. Kemudian angin dingin yang menusuk pori-pori akan membangunkanmu. Debu malam yang tersapu angin memaksa cairan tubuh keluar dari hidung perih yang terkelupas. Bibir pecah, mulut enggan berucap, dan rasa kantuk akan terus menghantui setiap langkah.

Di titik inilah, logistik berkualitas dan semangat ekstra sangat dibutuhkan. Tetapi, semua letih itu akan terbayar dan nafas akan kembali normal ketika wajah bersujud mencium kening Anjani. Kemudian, dari Singgasana Sang Dewi ini pandangan akan berputar dan terpana melihat seluruh lekuk tubuhnya. Sensasi berada di titik berapi 3.726 meter di atas permukaan laut ini sulit terungkapkan dengan kata-kata. (bersambung)

*Tertarik dengan petualangan ini, call us: 081805224550

 

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com