Pelatihan video jurnalistik singkat dari kamerawan senior TVRI NTB kepada crew Utarakita.com di Tanjung, Lombok Utara, Jumat (4/9).

Nasri Afif: Kameraman Tidak Boleh Melampaui Garis Batas Imajiner

Lombok Utara (Utarakita) – Garis imajiner adalas garis yang memisahkan antara batas kiri dan kanan sebagai acuan pengambilan gambar sehingga tidak terjadi jump shot. Ini merupakan garis khayal panduan kameraman dalam menentukan letak kamera, pencahayaan, komposisi, artis, angle, pergerakan kamera atau lensa, dan segala hal teknis kamera yang dipersiapkan untuk merekam adegan. Hal itu disampaikan H Nasri Afif, kamerawan TVRI NTB dalam pelatihan singkat kepada sejumlah kameraman Utarakita.com Jumat (4/9).
Garis imajiner ini diperlukan untuk menjaga kontiniti, dinamika gambar, dan detail adegan. Hanya saja kata dia, kameraman sering lalai dan melewati garis batas imajiner ini.

Gambar yang dihasilkan kameraman yang melanggar garis imajiner jelas Nasri, tidak dapat disambung. Kalaupun itu dilakukan katanya, kameraman harus menyiapkan shot lain (insert shot) untuk menyambung shot-shot yang melampaui garis imajiner tersebut.

Selain batas imajiner, Nasri juga membeberkan kaidah-kaidah dasar dalam pengambilan gambar. Salah satunya, kontiniti atau kesinambungan. Menurut Nasri, video harus menyajikan citra berkesinambungan, logis, wajar dan masuk akal. Karena film atau video dapat memanipulasi dan menciptakan ruang dan waktunya sendiri.

Dalam video yang baik, penonton tidak merasakan potongan gambar, namun penonton merasakannya menjadi satu rangkaian kejadian. Disinilah dibutuhkan kontiniti atau proses kesinambungan antar gambar. Apalagi sebuah shot dalam video tidak diambil secara berurutan.

Secara garis besar, sebuah rangkaian cerita/film/informasi dibangun dengan mempertahankan dua aspek kontiniti. Yakni, kontiniti ruang dan waktu.

Kontiniti ruang dibutuhkan untuk membangun logika perpindahan ruang yang wajar, meskipun hanya diberikan visual sederhana. Misalnya, perjalanan pesawat dari Lombok ke Surbaya tidak perlu di shot semua aktivitas perjalanannya. Cukup shot pesawat take off kemudian disambung dengan pesawat yg landing. Sedangkan kontiniti waktu dibutuhkan untuk menentukan waktu lampau, sekarang, dan yang akan datang menurut kondisi.

Beberapa elemen lain yg harus diperhatikan adalah kontiniti gerakan dan emosi subyek. Semakin profesional seorang kameraman maka kemampuan dalam kontiniti gerakan dan emosinya diharapkan semakin baik. ‘’Jangan lupa mengambil detai gambar subyek yang biasa dilakukan. Karena setiap subyek memiliki kebiasaan masing-masing. Pengambilan detail ini akan memberikan nilai art tersendiri dalam pengambilan gambar,’’ tandas Nasri.(Apink Alkaff)

 

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com