Suasana kampung tradisional Sembagek, Desa Batu Rakit, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Sembagek, Satu-satunya Kampung Adat yang Masih Orisinil

Lombok Utara (Utarakita) – Dusun Sembagek, Desa Batu Rakit, Kecamatan Bayan, satu-satunya kampung adat  yang masih orisinil di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Awik-awik dan hukum adat masih menjadi panglima yang mengatur hampir sebagian besar sendi kehidupan bermasyarakat. Menariknya, hingga saat ini, masyarakat adat Sembagek tetap mempertahankan kemurnian dan keaslian tradisi warisan nenek moyangnya.

Lombok Utara memang memiliki sejumlah kampung tradisional yang tersebar di dua kecamatan, Bayan dan Kayangan. Hanya saja, sebagian besar perkampungan tradisional masyarakat adat ini mulai tergerus kemajuan zaman. Bahkan, beberapa diantara perkampungan tradisional itu perlahan berubah menjadi pemukiman modern.

Beda halnya dengan masyarakat adat Sembagek, kampung ini tetap kokoh mempertahankan adat dan tradisi nenek moyangnya. Bahkan, hingga saat ini kampung Sambagek tetap menolak aliran listrik masuk ke kampungnya.

Masyarakatnya tetap bertahan menggunakan lampu penerangan tradisional yang terbuat dari buah jarak. Kemajuan zaman adalah hal yang tabu untuk dikembangkan di kampung tradisional ini.

Awik-awik dan hukum adat jelas Sawinggih, tetap menjadi pelindung dan landasan kehidupan bagia 89 kepala keluarga di Sembagek. ‘’Pemukiman tradisional Sembagek ini adalah satu-satunya kampung tradisional di Lombok Utara yang masih mempertahankan kemurnian adat dan tradisi leluhurnya,’’ kata Penjabat Kepala Desa Batu Rakit, Raden Sawinggih di Dusun Sembagek, Sabtu (5/9).

Keunikan dan kemurnian tradisi pemukiman tradisional Sembagek inilah yang rencananya akan coba dikemas Sawinggih bersama tokoh adat setempat menjadi aset wisata budaya baru di Lombok Utara. ‘’Tantangan terberat kita untuk membuka akses pariwisata di kampung Sembagek adalah meyakinkan warga Sembagek tentang pariwisata itu sendiri. Maklum, masyarakat tradisi di Sembagek ini masih sulit menerima kedatangan orang asing. Mereka juga tidak mau adat dan tradisinya dipengaruhi budaya luar,’’ tandas Sawinggih yang dikenal sebagai pegiat budaya asal Bayan, Lombok Utara ini. (Apink Alkaff)

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
  • jamaah

    jagain dong

  • Doni Murlan

    harus di jaga…..kelestariannya…….warisan masa depan

  • Doni Murlan

    harus dijaga….untuk warisan pengetahuan dan untuk anak cucu semua