Kepala Bappeda NTB, DR. Ir. H. Rosiady Sayuti, M.Sc, sedang menjelaskan alur pelayaran internasional yang melalui kawasan perairan Indonesia, salah satunya melalui Selat Lombok. (photo: Sigit SL)

Lombok Utara Masa Depan NTB

Mataram (Utarakita) – Lombok Utara adalah masa depan Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehadiran dua mega proyek Pelabuhan Kayangan dan kilang minyak yang akan menghiasi keindahan tiga gili menyedot perhatian Elite NTB, bahkan Nasional.

Tak heran, perebutan kekuasaan di Lombok Utara yang sudah ditabuh Komisi Pemilihan Umum KLU juga memiliki daya magnet tersendiri bagi para pelaku wisata, politisi, ekonom, dan para pelaku dunia bisnis lain.

Para politisi sekelas Gubernur NTB pun dikabarkan kasak kusuk memberikan dukungannya kepada salah satu kandidat Bupati dan Wakil Bupati KLU. Padahal, seharusnya TGB duduk manis dan menikmati pentas panggung politik Lombok Utara tersebut.

Itu dari kalangan politisi, kalangan investor asing pun mulai menyebut Lombok Utara sebagai satu diamond yang tak ternilai harganya. Mereka pun mulai berbondong-bondong berinvestasi. Mulai dari pembebasan lahan sampai bisnis perumahan.

Menurut Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bidang Tata Ruang Dinas PU NTB, IDG Supartha IAI, KLU akan menjadi daerah transit pelayaran para pelaku kegiatan ekonomi dunia. ‘’Nantinya, Lombok Utara merupakan jalur lintas tol laut,’’ ungkap Supartha disela-sela Rapat Koordinasi Forum Perumahan Rakyat, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PKP) Dinas PU NTB di Golden Palace Hotel, Mataram, Kamis (10/9).

Potensi bidang tersebut kata dia, mengharuskan masyarakat bekerjasama dengan para pengembang yang nanti akan dibantu peraturan daerah terkait dengan pengembang kawasan Pelabuhan Kayangan. ‘’Nantinya Kayangan akan menjadi kota yang memiliki pengembangan ekonomi jangka panjang,’’ kata Supartha.

Untuk menggoalkan gagasan tersebut, perlu revisi tata ruang KLU. Sekaligus dengan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi NTB nomor tiga 2010. Yang tentunya sudah dapat direvisi pada 2015 ini. ‘’Berlaku RTRW dan kabupaten kota 20 tahun dan setiap lima tahun direvisi,’’ tegas Supartha.

Gagasan Global Hub ini sambungnya, sangat terkait dengan persiapan infrastruktur semua sektor. Artinya, masyarakat Lombok Utara khususnya harus mendapatkan informasi tentang pengembangan kawsan perekonomian berskala global. Termasuk, perumahan, pemukiman, air bersih, jalan, listrik, limbah, jaringan telekomunikasi, dan banyak lagi. ‘’Nantinya, luas kawasan Global Hub itu 20 persen dari luas Kabupaten Lombok Utara,’’ tandas Supartha. (Nasri Afif)

Editor: Apink Alkaff

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com