Intiha, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lombok Utara, NTB.

PKH, KLU Dapat Jatah Rp 9,7 miliar per Tahun – UTARAKITA

‘’Angka kemiskinan Lombok Utara turun signifikan’’

Lombok Utara – Ini kabar baik sekaligus kabar menyedihkan. Kabar baiknya, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), mendapat dana bantuan sekitar Rp 9,7 miliar per tahun untuk program keluarga harapan (PKH). Dana sebesar ini dikucuran pemerintah pusat lantaran Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Sosnakertran) KLU menjadi pemenang PKH Award Kategori Kerjasama dan Pendampingan Operator PKH terbaik 2014 lalu. Artinya, penyaluran dana PKH di KLU sejak 2012 sampai 2015 ini sukses dan tidak ada masalah.

Penghargaan tingkat nasional atas keberhasilan Dinas Sosnakertran KLU dalam menyalurkan dana program keluarga harapan.

Penghargaan tingkat nasional atas keberhasilan Dinas Sosnakertran KLU dalam menyalurkan dana program keluarga harapan.

Kabar menyedihkannya, program ini juga digulirkan karena Lombok Utara tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan angka kemiskinan cukup tinggi, 43 persen. Syukurnya, dalam enam tahun terakhir, angka kemiskinan di KLU ini turun signifikan sampai angka 32 persen.

Kadis Sosnakertrans KLU, Intiha menjelaskan, program PKH ini dimulai sejak 2012 lalu. Dalam perjalanannya, PKH ini menyisir seluruh kecamatan di Lombok Utara. ‘’PKH ini merupakan salah satu program pemerintah yang menyentuh langsung masyarakat miskin di Lombok Utara,’’ kata Intiha di ruang kerjanya, Kamis (17/9).

Berdasarkan hasil pendataan 2013 lalu jelas Intiha, angka penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) alias warga miskin di KLU mencapai 36.910 kepala keluarga (KK). Dari lima kecamatan di KLU, angka PMKS terbesar ada di Kecamatan Bayan, disusul Tanjung, Kayangan, Gangga, dan Pemenang. ‘’Angka keluarga sangat miskin (KMS) di Lombok Utara juga paling tinggi di Kecamatan Bayan,’’ terang Intiha yang didampingi dua kabid-nya.

Nah, angka KMS inilah kata Intiha, yang akan menjadi sasaran program kelompok usaha bersama (kube) dan program rumah tidak layak huni (Rutilahu). ‘’Berdasarkan hasil survei Indonesia Goverment Index, angka kemiskinan di KLU tertinggi se-Indonesia,’’ akunya.

Terkait penanganan angka kemiskinan ini ujar Intiha, Pemda Lombok Utara mengambil langkah strategis sesuai prioritas pembangunan. Turunnya PKH dari 2012 lalu ini sebutnya, merupakan salah satu strategi jitu yang menurunkan angka kemiskinan di KLU. Hasilnya, angka kemiskinan di Lombok Utara turun dari 43 persen menjadi 32 persen.

Oleh pemerintah pusat, pada 2015 ini, KLU kembali mendapat kucuran dana untuk program kube PKH. Nantinya, sebanyak 5.090 kelompok usaha bersama (kube) akan mendapatkan bantuan dana masing-masing Rp 20 juta. Setiap kube beranggotakan 10 orang. Berarti setiap orang akan mendapatkan bantuan uang tunai Rp 2 juta.

Pencairan dana kube ini langsung dilakukan bank yang ditunjuk. ‘’Kami hanya merekomendasikan kube yang akan menerima dana bantuan ini. Insyaallah dalam waktu dekat dana ini akan segera cair,’’ tandas Intiha.

Terkait penghargaan PKH Award Intiha menjelaskan, penghargaan tingkat nasional ini diterima KLU karena dianggap sukses dalam kategori kerjasama pendampingan dan operator PKH terbaik 2014. Penghargaan yang diberikan Direktorat Jaminan Sosial, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI ini diserahkan Menteri Sosial kala itu, Salim Segaf Aljufri di Maluku Utara.

Kerjasama yang dimaksud terangnya, kerjasama antara Dinas Sosnakertran KLU dengan 41 orang pendamping PKH. Sebanyak 39 diantaranya pendamping PKH dan tiga operator. ‘’Mulai dari pendamping sampai penerima manfaat, penyaluran PKH ini dinilai sangat sukses. Mulai dari tingkat dusun, desa, kecamatan, dan dinas terkait dinilai bekerjasama sesuai tugas masing-masing,’’ imbuhnya.(Apink Alkaff)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com