Marine Police yang tengah mengawasi aktivitas perairan Lombok Utara, NTB. (photo: Apink Alkaff)

Lima Alasan Dipilihnya Lombok Utara Sebagai Poros Maritim Dunia – UTARAKITA

LOMBOK UTARA – Kajian Bappenas 2009 menyebutkan, Indonesia memiliki empat dari 10 lokasi strategis dunia. Indonesia juga berpeluang membangun empat ‘’Singapura besar’’ dan 14 bandar laut kecil/menengah kelas dunia.

Empat kota bandar dunia tersebut berpeluang di bangun di Batam, Kota Agung (Lampung), Lombok Utara, dan Donggala (Sulawesi Tengah). Sedangkan 14 bandar laut kecil atau menengah berpeluang dibangun di Sabang, Medan, Padang, Belitung, Jakarta, Surabaya, Singkawang, Tarakan, Kupang, Bitung, Makasar, Ambon, Morotai, dan Sorong.

Pengembangan kota bandar dunia ini butuhkan Indonesia untuk mereposisi peran dalam sistem industri dan perdagangan serta maritim dunia. Disamping itu, untuk memanfaatkan geopolitik dan geostrategis yang dimiliki negeri ini.

Perairan Lombok Utara, NTB dengan latar belakang Gunung Rinjani. (photo: Apink Alkaff)

Perairan Lombok Utara, NTB dengan latar belakang Gunung Rinjani. (photo: Apink Alkaff)

Lantas apa alasan dipilihnya Lombok Utara untuk pengembangan poros maritim dunia ini? Menurut H Djohan Sjamsu, ada lima alasan dipilihnya Lombok Utara sebagai salah satu pusat pengembangan poros sejati maritim dunia:

Alasan pertama, kedalaman laut perairan Lombok Utara mampu menerima kapal-kapal masa depan yang berukuran besar (300 ribu sampai 1 Juta DWT). ‘’Penelitian untuk pembangunan Bandar Kayangan ini sudah dimulai sejak 2011 lalu,’’ kata Djohan di kediamannya, belum lama ini.

Alasan kedua terang Djohan, lokasi pembangunan Global Hub ini dekat dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI II) yang merupakan jalan tol (highway) pelayaran dunia. ‘’Berdasarkan analisa United Nation Conference on the Trade and Development (UNCTAD), kawasan perairan Lombok Utara berada pada posisi sangat strategis,’’ terang Djohan.

Alasan ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan lahan kosong sampai 10 ribu hektar. Nantinya terang Djohan, seribu hektar untuk kawasan pelabuhan, tiga ribu hektar untuk kawasan industri, seribu hektar untuk CBD (Central, Buisness, District), dan lima ribu hektar untuk kawasan hunian. ‘’Kawasan hunian ini termasuk untuk sarana, prasarana, dan ruang terbuka hijau (RTH),’’ ujar Djohan.

Kawasan wisata tingkat dunia, Gili Trawangan,Lombok Utara, NTB. (photo: Apink Alkaff)

Kawasan wisata tingkat dunia, Gili Trawangan,Lombok Utara, NTB. (photo: Apink Alkaff)

Alasan keempat dipilihnya perairan Lombok Utara sambung Djohan, karena kawasan KLU memiliki keunggulan dalam keindahan alam. Dimana hampir sebagian besar lahan di Lombok Utara ini memiliki latar belakang Gunung Rinjani. Daya tarik khusus dipilihnya daerah Kayangan juga lantaran bersebelahan dengan kawasan pariwisata internasional Lombok (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air).

‘’Alasan kelima dipilihnya Lombok Utara sebagai pos maritim dunia karena berada di kawasan terkenal dan menarik kelas dunia, yaitu Bali – Lombok,’’ beber kandidat kuat calon Bupati KLU periode 2015-2020 ini.

Sayangnya, Djohan tidak berani membeberkan dimana lahan yang nantinya akan menjadi pusat Bandar Kayangan ini. Hal ini sengaja dirahasiakan Djohan untuk menghindari spekulasi calo-calo tanah yang mulai bergantayangan dan memburu lahan di kawasan Kayangan. ‘’Yang jelas, kota Global Hub Bandar Kayangan ini sebagian besar di Kecamatan Kayangan,’’ kelitnya sambil tersenyum. (Apink Alkaff)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com