Makam Alhabib Ahmad bin Isa Almuhajir, keturunan Bani Alawiyin pertama yang hijrah dari Irak ke Hadramaut, Yaman.

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (1) – UTARAKITA

Demi Keamanan, Wartawan Dilarang Masuk Yaman

Pergolakan politik di Yaman yang kian memanas kala itu sama sekali tidak mengurangi niat para peziarah mendatangi Hadramaut, Yaman, khususnya Kota Tarim. Buktinya, penerbangan Yemenia Airways Jakarta – Sana’a (ibukota Yaman) selalu dipenuhi peziarah. Berikut ‘’Catatan Pulang’’ wartawan Utarakita.com dari Negeri Para Aulia sebelum negeri ini porak-poranda dilanda perang saudara (2013 lalu).

Singgah beberapa saat di Doha, Ibukota Qatar. (photo: Apink Alkaff)

Singgah beberapa saat di Doha, Ibukota Qatar. (photo: Apink Alkaff)

Apink Alkaff- Utarakita.com

Bagi sebagian besar warga keturunan arab di Indonesia, nama Hadramaut atau Tarim tentu sudah sangat akrab. Maklum, leluhur mereka berasal dari negeri subsahara yang dulunya merupakan daerah Yaman Selatan ini.

Februari 2004, Yaman yang beribukota Sana’a dibagi menjadi dua puluh kegubernuran (muhafazat) dengan satu Kotamadya Amanat Al-Asemah. Yaman adalah satu-satunya negara yang menganut sistem republik di Jazirah Arab. Negara yang berada Asia Barat Daya ini berbatasan dengan Laut Arab di sebelah selatan, Teluk Aden dan Laut Merah di sebelah barat. Sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Oman dan Arab Saudi di sebelah utara. Orang-orang keturunan Arab di Indonesia sebagian besarnya berasal dari negari ini.

Penduduk Yaman diperkirakan berjumlah sekitar 23 juta jiwa. Luas negara ini sekitar 530 ribu kilo meter persegi dan wilayahnya meliputi lebih dari 200 pulau. Pulau terbesarnya, Sokotra, terletak sekitar 415 kilometer dari selatan Yaman, di lepas pantai Somalia. Yaman adalah satu-satunya negara republik di Jazirah Arab.

Ibukota Yaman, Sana'a, sebelum kota ini hancur karena perang saudara. (photo: Apink Alkaff)

Ibukota Yaman, Sana’a, sebelum kota ini hancur karena perang saudara. (photo: Apink Alkaff)

Sejak 2004 itulah, Yaman yang tadinya terbagi dua, Yaman Selatan dan Yaman Utara sepakat melebur menjadi Yaman. Belakangan, penggabungan dua daerah tersebut tidak dirasakan memberikan manfaat bagi sebagian rakyatnya. Wabilkhusus bagi rakyat Yaman Selatan. Alhasil, seiring gencarnya revolusi yang terjadi kawasan timur tengah kala itu, tuntutan rakyat Yaman Selatan untuk memisahkan diri terus mencuat. Sejak awal Februari 2013 lalu, aksi massa sudah marak terjadi di sejumlah kota di Yaman Selatan.

Rupanya, suhu politik Yaman yang terus memanas itu berdampak langsung ketika saya mengajukan permohonan mendapatkan visa. Awalnya, pengajuan izin masuk ke Yaman itu terasa mudah dan lancar. Bahkan, saat mendatangi Keduataan Yaman di Jalan Subang, Menteng, Jakarta, saya yang ditemani seorang teman asal Yaman bisa bertemu langsung dengan Duta Besar (Dubes) Yaman untuk Indonesia saat itu, Ali Ali Alsoswa.

Mendengar saya wartawan, Ali Alsoswa terlihat bersemangat. Dia lantas meminta saya segera mengajukan surat tugas yang menyantumkan maksud dan tujuan saya mendatangi Yaman. Tak lupa, Dubes asal Yaman bagian utara ini meminta saya melampirkan daftar riwayat hidup dan hasil tes kesehatan (HIV/AIDS dan hepatitis B).

Dubes murah senyum itu meminta sejumlah berkas tadi agar saya bisa mengantongi izin resmi selama peliputan di Yaman. Intinya, Ali Alsoswa ingin membantu agar saya bisa lebih mudah dan aman menjalankan pekerjaan jurnalis di negerinya.

Simbul-simbul da bendera perlawanan (Yaman Selatan) di Kota Tarim, Hadramout, Kota Para Aulia.(Photo: Apink Alkaff)

Simbul-simbul dan bendera perlawanan Yaman Selatan yang ingin memisahkan diri di Kota Tarim, Hadramout, Kota Para Aulia.(Photo: Apink Alkaff)

Karena surat-surat yang diminta tadi sudah siap sejak jauh hari sebelumnya, otomatis saat itu juga berkas yang diminta langsung saya sodorkan. ”Insyaallah, visanya akan segera keluar,” kata Ali dalam bahasa Inggris yang fasih.

Untuk berkunjung, Kedutaan Yaman tergolong mudah mengeluarkan visa. Jika persyaratan sudah lengkap ditambah dana 35 USD (sekitar Rp 340 ribu), visa berkunjung ke Yaman bisa rampung dalam satu atau dua hari.

Apesnya, pengajuan visa jurnalis itu justeru bikin ribet dan mempersulit saya. Setiap kali datang, petugas bagian pengurusan visa selalu menggelengkan kepala. ”Visa baru bisa keluar sampai ada pemberitahuan dan izin dari Yaman,” kata Dina, petugas Kedutaan Yaman yang berparas manis.

Memang, Ali Alsoswa tidak menyebutkan alasan tidak bisa keluarnya visa jurnalis yang saya ajukan. Namun, Ali mengisyaratkan bahwa pergolakan politik dan alasan keamanan saat itulah (Februari 2013) yang tidak memperbolehkan wartawan masuk Yaman untuk melakukan aktivitas peliputan dalam bentuk apapun.

Syukurnya, dengan bantuan seorang kawan asal Yaman, saya bisa bertatap muka untuk kali kedua dengan Ali Alsoswa di ruang kerjanya. Hanya saja, kali ini saya menemui Dubes Yaman itu seorang diri. Nah, saat itulah saya berusaha meyakinkannya bahwa kedatangan saya ke Hadramaut, Yaman hanya untuk wisata religi (ziarah) dan mempelajari akar keturunan Bani Alawiyin.

Syukurnya, lobi kali ini berbuah manis. Setelah hampir tiga minggu menunggu di Jakarta, visa yang masa berlakunya 30 hari itu ada di tangan saya. Dengan syarat, saya tidak boleh mengaku wartawan dan membawa identitas jurnalis. ”Ingat, jangan mengaku wartawan di Yaman,” kata Ali dalam bahasa Inggris sambil mengacungkan jari telunjuk. (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com