Dua pelajar asal Lombok di Yaman, Osama BSA dan Mifta saat berkunjung ke Syibam, salah satu kota tua di Hadramaut.

Setiap Saat Terdengar Ledakan Meriam dan Suara Tembakan – UTARAKITA

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (2)

Seperti kura-kura yang berharap mendapat pelajaran dari tatapan mata induknya. Mata hati lebih dominan digunakan ketika bahasa lisan tidak memungkinkan. Seperti itulah saya berharap mendapat sedikit pelajaran selama mondok singkat di Hadramaut.

Pose bersama Dubes RI untuk Yaman, Drs Wajib Fauzi dan istrinya.

Pose bersama Dubes RI untuk Yaman, Drs Wajib Fauzi dan istrinya.

Apink Alkaff – Utarakita.com

Minimnya kemampuan saya berbahasa Arab terasa sangat menyesakkan. Sementara, warga Yaman yang mampu berbahasa Inggris juga sangat terbatas. Alhasil, bahasa isyarat kerap menjadi komunikasi andalan saya selama di Yaman.

Penerbangan Jakarta-Doha yang ditempuh selama sekitar lima jam terasa nyaman. Pelayanan cukup memuaskan yang diberikan awak kabin Qatar airways membuat perjalanan Jakarta-Doha sejauh 7.472 kilometer terasa tidak membosankan. Hanya saja, transit selama delapan jam di Bandara Internasional Qatar sebelum terbang ke Sana’a (ibukota Yaman) benar-benar membuat mati gaya.

Setelah melanjutkan penerbangan selama dua jam dari Doha, tepat pukul 13.30 waktu setempat, saya menginjakkan kaki di Bandara Internasional Yaman, Sana’a. Tentu, negeri coklat dan berdebu itu membuat saya sangat terkesan.

Bandara Internasional Sana’a ini tak lebih seperti bandar udara domestik di Indonesia. Sore itu, tidak lebih dari 10 pesawat jenis boeing terlihat di area parkir. Namun, pesawat tempur dan helikopter jumlahnya jauh lebih banyak. Sedangkan di bagian lain tampak beberapa bangkai pesawat tua yang dibiarkan tergeletak begitu saja.

Kebetulan, dalam penerbangan Doha-Sana’a, ada empat perempuan warga Tionghoa yang didampingi rekan-rekan senegaranya. Begitu tiba di bandar udara Sana’a, keempat perempuan itu langsung mencari kamar mandi. Rupanya, mereka terlihat sudah menyiapkan abaya hitam dan kerudung. Saat itu, mereka tidak mengenakan cadar.

Jika kaum hawa mengenakan abaya dan bercadar, kaum adam mengenakan sarung plekat dan berbaju takwa. Warna putih tetap dominan. Umumnya, para laki-laki ini menggunakan ikat pinggang hijau dan lebar dengan jambia (pisau khas laki-laki Yaman) terselip tepat di depan perut.

Dataran Sana’a yang berada di ketinggian sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut ini terlihat berdebu. Wajah-wajah berkulit gelap itu terkesan lebih garang. Apalagi ketika mereka melipatkan kain surbannya untuk membungkus mulut dan hidungnya dari serangan badai debu singkat.

Pose bersama Atase Keamanan RI untuk Yaman di masjid terbesar Sana'a, Yaman.

Pose bersama Atase Keamanan RI untuk Yaman di masjid terbesar Sana’a, Yaman.

Setelah orientasi medan selama hampir lima menit, saya bertemu Abdul Gafar, petugas tiket di sekitar Bandara Internasional Sana’a. Kemampuan Gafar berbahasa Inggris membuat saya sedikit lega.

Senang rasanya bisa berkomunikasi dua arah tanpa menggunakan bahasa tubuh. Hanya saja, sore itu tidak ada penerbangan Sana’a-Seiyun seperti yang saya harapkan. Tanpa ada pilihan, malam itu saya harus bermalam di Kota Sana’a.

Keramahan pertama warga Yaman mulai terasa ketika saya harus mencari hotel di sekitar bandar udara. Abdul Gafar yang kebetulan kearah Kota Sana’a mengajakku ikut serta mencari hotel terdekat.

Sekitar tiga kilo meter dari bandar udara saya mendapat hotel yang cukup layak. Dengan tarif tiga ribu rial, atau setara dengan Rp 150 ribu per malam, saya menikmati atap-atap pasar dan coklatnya pinggiran kota.

Mata saya langsung tersedot oleh banyaknya warga yang menenteng senjata laras panjang. Mungkin itu kesan pertama. Setelah itu, kesan daun khat. Ya, daun yang sekarang diseret dalam daftar narkoba ala Indonesia. Katanya, daun itu sanggup memberikan efek sensasi prima.

Di ibu kota Yaman ini, mengonsumsi khat merupakan pemandangan yang sangat lumrah. Bahkan, petugas hotel yang berusia di bawah 15 tahun pun tampak sangat akrab dengan daun khat tersebut. Data resmi WHO menyebutkan, sekitar 80 persen pria dewasa Yaman mengonsumsi khat dan 50 persen perempuan dewasanya juga menggemari daun khat ini. ‘’Ya benar, itu data resmi WHO,’’ kata Dubes Indonesia, Drs Wajib Fauzi yang sempat saya temui di Sana’a dalam perjalanan pulang.

Tentu, saya tidak ingin dikuasai rasa penasaran. ”Harganya mulai dari 500 rial sampai seribu rial (sekitar 25-50 ribu rupiah),” kata petugas hotel cilik yang mengunyah khat sambil menunjukkan takaran satu kantong plastik kecil berisi khat yang tergantung di pinggangnya.

Dengan ramah petugas hotel cilik yang mengenakan sarung dan jas coklat layaknya pria dewasa itu langsung menyodorkan sekantong khat miliknya. Tanpa berpikir panjang, saya mencoba beberapa pucuk khat yang masih segar itu.

Rasanya agak pahit. Setelah dikunyah, airnya ditelan. Kian lama, rasanya kian aneh dan mulut saya mulai terasa tidak nyaman. Pria cilik itu tersenyum melihat raut wajah saya berubah lantaran mencoba untuk terus mengunyah. Dia juga menyarankan agar saya mengunyah lagi dan lagi.

Biasanya, mulut laki-laki yang mengunyah khat terlihat jelas. Selain mulutnya yang selalu mengunyah, salah satu sisi mulutnya akan tampak membesar lantaran mengumpulkan daun khat. Kebiasaan seperti itu dilakukan hampir sepanjang hari oleh para pecinta khat ini. Bahkan, mengunyah dan menelan cairan khat dilakukan sambil beraktivitas sehari-hari.

Bagi pemula seperti saya, mengunyah khat selama satu menit membutuhkan perjuangan keras. Disamping rasanya aneh, pucuk-pucuk daun khat segar ini juga mengeluarkan aroma asing di mulut. Konon, efek daun khat ini bisa meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Daun ini juga dikonsumsi untuk mencegah rasa kantuk dan menambah kejantanan laki-laki.

Perjamuan makan bersama Drs Wajib Fauzi (kemeja putih) Dubes Indonesia untuk Yaman, dan Atase Keamanan serta ketua pelajar Indonesia, di Sana’a.

Perjamuan makan bersama Drs Wajib Fauzi (kemeja putih) Dubes Indonesia untuk Yaman, dan Atase Keamanan serta ketua pelajar Indonesia, di Sana’a.

Sayangnya, efek dan sensasi daun khat itu belum sempat saya rasakan. Beberapa jam setelah mengonsumsi khat, malam itu saya tidur pulas. Mungkin karena jumlah lembar daun khat yang saya kunyah sedikit atau karena saya terlalu letih untuk tetap terjaga.

Malam pertama di Sana’a saya lewatkan tanpa banyak kesan. Hidup di kota 2.400 meter di atas permukaan laut itu memang lebih melelahkan.Dengan kadar oksigen yang hanya 70-75 persen, nafas ngos-ngosan saat turun naik tangga.

Belum lagi, ramainya suara tembakan. Sudah barang pasti, berkeliaran di pinggiran kota dan sendiri bakal seru. Hampir setiap saat terdengar ledakan meriam dan brondongan senjata laras panjang made in Rusia, AK47.

Ba’da azan subuh atau sekitar pukul 05.15 waktu setempat, jalan utama Sana’a – bandar udara masih lengang. Dua, tiga, atau empat orang terlihat berjalan dan menunggu angkutan kota.

Saya memilih taksi putih bergaris kuning. Kondisinya jauh dari nyaman jika dibandingkan dengan taksi di Mataram, Lombok. Untuk jarak sekitar tiga kilometer, angkutan umum tarifnya 50 rial. Sedangkan taksi tanpa argo memasang harga 500 rial atau sekitar Rp 25 ribu.

Sejatinya, jadwal keberangkatan pesawat Felix Airways dengan nomor penerbangan F180 ini tepat pukul 08.30 waktu setempat. Apesnya, sekitar satu jam kemudian, salah seorang petugas Felix Airways tiba-tiba memberitahukan bahwa jadwal penerbangan ke Seiyun ditunda sampai keesokan harinya. Sontaknya saja, penundaan jadwal selama 24 jam itu membuat puluhan penumpang protes. Bahkan, salah seorang penumpang yang mengaku akan menghadiri pertemuan bisnis di Seiyun ngamuk-ngamuk. Belakangan, petugas Felix Airways tadi mengaku, penundaan penerbangan Sana’a-Seiyun disebabkan buruknya cuaca. ”Welcome to Yemen,” kata salah seorang penumpang kepada saya sambil tersenyum.

Tanpa konvensasi apapun, semua penumpang Felix Airways keluar bandar udara dengan wajah kesal. Termasuk saya yang harus kembali mencari hotel. Syukurnya, Hotel Al Hajr tempat saya menginap itu masih menyisakan satu kamar untuk saya.

Penundaan penerbangan itu menjadi kesempatan berkeliaran di kotanya Nasim Hamid, petinju legendaris asal Sana’a itu. Apalagi, saat itu saya sudah kenal dengan Muhamad Sadik, warga Sana’a yang mampu berbahasa Inggris dan rela menjadi penunjuk jalan keliling ibu kota Yaman. (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com