Mufti Tarim Habib Ali Masyhur bin Hafidz didamping Habib Umar bin Hafidz dan ratusan santri Pondok Pesantren Dar Almustafa, Tarim, saat ziarah rutin Jum’at di Komplek Pemakaman Zanbal. (photo: Apink Alkaff)

Melahirkan Aulia, Seperti Tanah Menumbuhkan Pohon – UTARAKITA

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (3)

Negeri para aulia itu dikelilingi tebing-tebing terjal. Penduduknya hidup diantara lembah-lembah. Meski gersang, Kota Tarim dipenuhi banyak keberkahan. Baik keberkahan airnya, keberkahan tanahnya, dan yang paling terasa keberkahan penduduknya. Sangat logis jika kota penghafal Alquran ini melahirkan para aulia seperti tanah menumbuhkan pohon.

Para pemuka Tarim saat mengantar jenazah salah seorang warga Tarim di Pemakaman Zanbal. (phot:Apink Alkaff)

Para pemuka Tarim saat mengantar jenazah salah seorang warga Tarim di Pemakaman Zanbal. (phot:Apink Alkaff)

Apink Alkaff – Utarakita.com

Kali ini, penerbangan Felix Airways tepat waktu. Seperti jadwal sebelumnya, pesawat dengan nomor penerbangan F180 itu lepas landas menuju Seiyun, Hadramaut. Menariknya, penumpang bisa menempati kursi sesuai selera. Maklum, di tiket tidak dicantumkan nomor kursi penumpang.

Pramugarinya pun tidak mengenakan seragam seperti awak kabin pada umumnya. Meski minus senyum, pelayanan awak kabinnya lumayan. Sebotol air mineral berukuran kecil dan jus mangga kemasan yang disediakan awak kabin cukup menghilangkan dahaga ketika melihat gersangnya negeri itu dari ketinggian.

Sepanjang satu setengah jam penerbangan Sana’a-Seiyun, yang tampak hanya hamparan gurun pasir dengan langit tak berawan. Saya kembali terkesan melihat pemandangan alam yang tampak angker, coklat, kering, dan garang.

Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tanah liat dengan kerangka pelepah kurma berbentuk kubus tampak berjejer rapi. Jalan-jalan utama terlihat lurus dan mulus.

Tepat pukul 09.30 waktu setempat, pesawat Felix mendarat di Kota Seiyun. Selain pesawat yang saya tumpangi, saat itu tidak ada pesawat lain yang parkir di landasan pacu Bandara Seiyun.

Bukan hanya penumpang yang tanpa nomor kursi, aturan internasional kebandarudaraan juga seperti tak berlaku di Bandara Seiyun. Buktinya, salah seorang penumpang langsung membakar rokok sesaat setelah menginjak anak tangga terakhir pesawat yang kami tumpangi.

Sejumlah penjemput dan sopir taksi juga bisa masuk seenaknya ke dalam area bandara. Beberapa diantaranya tampak santai menghisap rokok di dalam ruang tunggu bandara tersebut. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan menarik itu, menyulut rokok mild yang memang saya bawa dari kampung halaman. Dengan asap mengepul, kami berjalan menikmati angin dingin yang berhembus dari balik dinding terjal di sekitar bandar berdebu itu.

Perkampung Aidit, Tarim, Hadramaut.

Perkampung Aidit, Tarim, Hadramaut.

Sempat, bandar udara Seiyun itu mengingatkan saya akan terminal bus antar kecamatan di Indonesia. Pintu utamanya terbuat dari kayu dan menggunakan gembok klasik made China. Meja-meja petugas terbuat dari kayu dan ruangan yang tanpa pendingin.

Di ruang kedatangan bandar udara ini terdapat dua kamar mandi. Meski cukup bersih, kondisinya menyedihkan. Dan yang pasti, tidak ada pemeriksaan terlalu serius seperti umumnya bandar udara yang pernah saya singgahi. Alhasil, aturan kebandarudaraan internasional tidak berlaku sepenuhnya dikawasan bandara yang satu ini.

Saya juga teringat akan pertanyaan sejumlah orang terkait maksud dan tujuan saya berkunjung ke Hadramaut. ”Apa yang kamu cari di Hadramaut. Yaman ini bukan negeri yang indah untuk berlibur,” kata salah seorang bule berkebangsaan Canada yang satu pesawat menuju Seiyun.

Bahkan, Muhammad Sadik, kenalan saya saat di Sana’a juga sering mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala mendengar niat saya yang berkunjung seorang diri ke Yaman ini. Namun, kesan itu justeru menambah motivasi saya menapak jejak perjalanan para pendahulu Bani Alawiyin dari Hadramaut ke kampung saya Lombok.

Setelah menghisap dua batang rokok di bandara gersang dan berdebu itu, saya mencoba memilih taksi dan melanjutkan perjalanan ke Kota Tarim. Rasa was-was lantaran minimnya kemampuan berbahasa Arab kembali saya rasakan. Namun, sepanjang perjalanan saya berusaha tetap tenang dan berlagak sok paham. Terutama saat saya bersama sopir taksi yang berbadan tegap, berkulit gelap, dan jarang senyum itu.

Selain amat kurang memahami bahasa arab, di Kota Tarim saya juga tidak punya kenalan sama sekali. Tapi saya tau, di Ponpes Dar Almustafa dan Ribat Tarim ada ratusan pelajar Indonesia. Konon, beberapa diantaranya berasal dari kampung halaman saya; Lombok, Nusa Tenggara Barat. Selain itu, saya juga punya teman di dunia maya yang kebetulan bermarga sama; Adnan Alkaff dan Abdollah Alkaff.

Angin membawa saya terbang ke Dar Almustafa. Padahal nama yang ada di kepala saya Ribat Tarim. Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer dengan taksi bertarif tiga ribu rial, saya tiba di halaman pondok pesenteren kesohor itu, Dar Almustafa, Tarim. Keramahan penduduk Tarim pun mulai saya rasakan. ”Mari ikut saya,” kata Yahya, salah seorang santri senior yang bertugas menjamu tamu di Dar Almustafa.

Suasana malam di Pondok Daral Mustafa pimpinan Habib Umar Bin Hafidz, Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Suasana malam di Pondok Daral Mustafa pimpinan Habib Umar Bin Hafidz, Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Sepanjang lorong menuju ruang tamu, wajah-wajah melayu tampak berseliweran. Beberapa diantaranya tersenyum ramah seraya memberikan salam dan memegang dada kiri.

Sementara itu, rapalan ayat-ayat suci terdengar merdu dari musalla yang ada di samping gerbang pondok. Selain sebagai tempat ibadah, musalla berkapasitas sekitar seribuan orang itu digunakan sebagai tempat utama proses belajar mengajar.

Sistem pembelajarannya pun khas dan tradisional. Di dalam musalla itu terdapat beberapa lingkaran santri yang duduk mengitari gurunya. Tentu, lingkaran itu sesuai dengan mata pelajaran santri.

Selain santri berwajah arab dan melayu yang cukup banyak, santri berkulit hitam dan berkulit putih juga tak kalah ramai. Hanya wajah oriental yang tidak terlihat di Dar Almustafa.

Setelah melintasi musalla dua lantai itu, kami tiba di ruang tamu.Yahya lantas meminta salah seorang santri asal Banjarmasin untuk menemani saya. Sementara, Yahya sibuk menjamu sekitar 35 sampai 40 anak usia belasan tahun yang datang studi banding sekalian piknik ke Dar Almustafa.

Di ruangan dengan sofa hijau itu, Yahya mengisahkan sejarah singkat dan sistem pendidikan Dar Almustafa. Sementara itu, Husin Sahab, Ketua Pelajar Indonesia mendatangi saya. Sejurus kemudian, saya dipersilahkan menempati kamar bernomor 53 tempat biasanya para tamu menginap. Sejak itu, saya mulai ”mondok singkat” di Dar Almustafa.(bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda