Pesona salah satu sudut Kota Tarim, Hadramaut dikala senja.(photo: Apink Alkaff)

Mengonsumsi Khat Haram, Merokok Aib – UTARAKITA

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (4)

Tenggelam dalam pusaran religi Kota Tarim memberikan kenikmatan batin tersendiri. Aroma gahru dan semerbak wewangian yang memenuhi ruangan peribadatan menyulut respon emosi yang sulit diungkapkan. Batin yang dahaga pun terpuaskan oleh kesejukan atmosper Kota Tarim dan keramahan penduduknya.

Para pemuka Hadramaut saat pembacaan maulid di Ponpes Darul Mustafa, Tarim. (photo: Apink Alkaff)

Para pemuka Hadramaut saat pembacaan maulid di Ponpes Darul Mustafa, Tarim. (photo: Apink Alkaff)

Apink Alkaff – Utarakita.com

Kota Tarim yang masuk kawasan Provinsi Hadrmaut ini terletak sekitar 40 kilometer dari Bandar Udara Seiyun. Adalah kawasan lembah yang diitari jajaran perbukitan batu cadas. Kota yang dijuluki Khalbu Hadramaut ini lebih hijau ketimbang kawasan lain di sekitarnya. Tarim sendiri juga dikenal sebagai intisari negeri arab yang sangat agung.

Tarim yang berasal dari kata rim yang berarti tinggi, mulai ada sekitar abad 13 SM. Kota ini merupakan bagian dari Kerajaan Saba’ yang dipimpinan Ratu Balqis. Disebutkan pula, nama Tarim yang merupakan jantung Hadramaut ini diambil dari nama salah seorang cucu Sam bin Nuh. Sedangkan Hadramaut konon merupakan nama salah seorang raja pada zaman Dinasti Himyar.

Tarim juga kerap disebut Tarim al-Ghanna atau Kota Tarim yang rindang. Nama itu diberikan lantaran kota ini banyak ditumbuhi pohon-pohon rindang dan selalu dialiri sejumlah mata air. Padahal, sepintas kawasan ini tampak sangat gersang dan tandus.

Ungkapan lain juga menyebutkan, Tarim adalah Kota al-Shiddiq. Karena, Kota Tarim ini adalah satu-satunya kota yang mendapat doa khusus dari Sayidina Abubakar al-Shiddiq. Tercatat, pada saat Sayyidina Abu Bakar al-shiddiq di bai’at sebagai khlalifah, penduduk Hadramaut, Tarim khususnya, menerimanya tanpa bantah. Sebab itulah, Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq mendoakan penduduk Tarim dengan tiga perkara. Yakni, semoga Kota Tarim diberi kemakmuran, diberikan keberkahan sumber airnya, dan selalu dipenuhi orang saleh sampai qiamat.

Penduduk Tarim yang bermazhab Imam Syafi’I juga dikenal memiliki budaya dalam memuliakan orang saleh. Mereka juga disebut selalu memandang dengan pandangan rahmat. Baik kepada kerabat dekat maupun dengan tetangga. Ungkapan yang tidak kalah populernya menyebutkan, Kota Tarim adalah kota yang penuh keberkahan. Antara lain, keberkahan di setiap masjidnya, keberkahan tanahnya, dan keberkahan pegunungannya.

Masjid Baalawi di jantung kota Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Masjid Baalawi di jantung kota Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Hingga kini, keberkahan-keberkahan tersebut tetap ada. Dan salah satu keberkahan utamanya adalah ramainya ahlul bait dan ulama yang mendiami kota ini sejak dulu. Terbukti dengan banyaknya makam aulia, ulama, dan para salihin di kota ini. Tak berlebihan, jika Kota Tarim ini dikenal sebagai kota para wali.

Menurut salah seorang guru Dar Al Mustafa, Habib Muhammad bin Abdullah Al Aidrus , keajaiban Hadramaut bisa dilihat dari dua kota kunonya. Yakni, Shibam dan Tarim. ‘’Nama Tarim dan Shibam ini diambil dari nama dua putra Raja Saba’ yang memimpin Hadramaut pada zaman Nabi Allah Saleh AS,’’ kata Abdullah di ruang kerjanya. Dia lantas memberikan hadiah buku saku tentang sejarah singkat Kota Tarim.

Di musim panas, suhu Kota Tarim bisa tembus angka 40 derajat celsius. Sedangkan di musim dingin, suhunya bisa mencapai lima derajat. Kebetulan, cuaca Kota Tarim saat itu cukup bersahabat. Maklum, kala itu sudah memasuki akhir musim dingin. Biasanya, perubahan musim tersebut ditandai dengan turunnya hujan. Hujan yang diawali badai debu pergantian musim ini turun hanya sekali dalam setahun. Namun, diakhir Maret itu, intensitas hujannya cukup tinggi selama empat hari. Tak pelak, intensitas hujan itu membuat cemas penduduk Kota Tarim. Selain menyebabkan genangan air, hujan selama empat hari itu dikhawatirkan merubuhkan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari tanah liat.

Rata-rata rumah penduduk Kota Tarim terlihat coklat dan sederhana. Meski demikian, interior rumah-rumah tersebut tidak sesederhana eksteriornya. Bahkan, puluhan bangunan di Kota Tarim tampak mewah dan disebut istana. Dan umumnya, beberapa istana tersebut merupakan peninggalan penduduk Tarim yang bermarga Alkaff.

Salah satu istana Alkaff di sudut Kota Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Salah satu istana Alkaff di sudut Kota Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Jika penduduk bermarga Alkaff memiliki banyak istana, penduduk Tarim yang bermarga Bin Syeh Abubakar dikenal memiliki ilmu tinggi. Sedangkan penduduk Tarim bermarga Assegaf dikenal berduit alias tajir.

Selain istana yang banyak dan megah, cara berpakaian penduduk Kota Tarim ini cukup menyedot perhatian saya. Pasalnya, cara berpakaian mereka sangat mirip dengan gaya berpakaian muslim tradisional di Indonesia. Yakni, selalu mengenakan sarung plekat dan peci putih. Di hari Jum’at, biasanya sebagian laki-laki menggunakan gamis atau jubah. Sedangkan kaum hawa di negeri ini selalu mengenakan pakaian abaya hitam dan bercadar. Tak heran, di kota ini melihat wajah perempuan yang masuk usia balik melupakan hal yang amat sangat langka.

Yang tidak kalah menariknya, di Kota Tarim merokok merupakan suatu aib. Alhasil, penduduk Tarim yang merokok sama sekali tidak terlihat. Hebatnya, hampir semua penduduk Tarim juga tidak mengonsumsi daun khat seperti umumnya warga ibukota Yaman, Sana’a. Jika merokok merupakan aib, mengonsumsi daun khat (khatinon) di kota ini hukumnya haram.

Kesederhanaan kehidupan ahluttarim memang sangat terasa. Dalam keseharian, umumnya mereka menggunakan sepeda motor 125 cc produk Cina. Meski demikian, bukan berarti penduduk kota setingkat kecamatan ini berekonomi lemah. Terbukti dengan banyaknya mobil double cabin keluaran terkini yang banyak melintas di kota kecamatan ini. Sejarah juga mencatat, beberapa perantau asal Kota Tarim dikenal sebagai pengusaha kaya raya sejak ratusan tahun lalu. Saat ini saja, sejumlah pengusaha kaya asal Tarim masih banyak di Saudi Arabia.

Khasnya lagi, pengusaha-pengusaha kaya asal Tarim ini selalu dikenal dermawan. Dan biasanya, mereka pulang dan membangun rumah atau lebih tepat disebut istana di kampung halamannya, Tarim. (*)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com