Gambar Istimewa - CD ROOM

Diam-Diam Porno Aksi Didiamkan -UTARAKITA.COM

Sikap Diam Dalam Menyikapi Joged Ale-Ale di Lombok

Diam itu emas! Rasanya pribahasa ini mengalami pergeseran makna karena diam bisa saja berarti orang tersebut tidak mengerti apa persoalan yang dihadapinya, kadang orang diam ketika dihadapkan pada suatu pilihan (setuju atau tidak setuju), sehingga kita tidak tahu apakah ia diam berarti setuju atau sebaliknya. Saya pernah menanyakan komentar beberapa tokoh tentang respon dan sikapnya terhadap joged ale-ale. Sepertinya mereka agak sedikit terbata-bata dan malah lebih banyak diam.

Imam SafwanJoged ale-ale merupakan kesenian yang menggunakan alat musik untuk mengiringi lagu dan joged. (Jika ketika mengiringi acara nyongkol- joged bukan menjadi hal yang dominan ). Akan tetapi ketika mereka diundang dalam hajatan dan melakukan pentas pada sebuah arena atau panggung maka kesenian Ale-ale akan lebih dominan pada jogednya. Kesenian ini merupakan penggabungan seni tradisi dengan modern. Doktor Salman Al Farisi dalam disertasinya yang berjudul ”Kesenian Ale-ale Sebagai Kontenstasi Ideologi Masyarakat Sasak” memberikan tiga pengertian pada kesenian ale-ale salah satunya ialah bahwa  kesenian ale-ale dipandang sebagai seni perlawanan karena kehadirannya dipandang mengandung atau membawa ideologi tertentu. Selanjutnya dihadapkan dengan ideologi yang sudah ada. Dari pengertian ini rasanya ada semacam konflik yang muncul dari kalangan masyarakat sasak ”baru” sebagai penerus kebudayaan dengan masyarakat sasak ”lama” sebagai pencipta tradisi. Tapi yang menarik adalah sikap perlawanan yang muncul itu lebih kepada respon secara kebatinan artinya bahwa sampai sekarang belum ada terdengar adanya sikap jelas, tegas, terkatakan, melakukan tindakan dari kaum atau orang yang menolak termasuk masyarakat Sasak ”lama”. Justru mereka orang yang menolak itu lebih memilih diam. Seperti yang saya katakan di atas ”diam” memiliki makana ambigu. Apakah mereka benar-benar menolak atau sesunggunya mereka setuju. Bukankah sering kita dengar bahwa diam itu merupakan sikap abu-abu? Juga sering diartikan diam berarti setuju.

Maka kemudian saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa sikap diam yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan, tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat itu sendiri dan pendidik merupakan sikap setuju dan bahkan dapat dikatakan mereka pun juga turut mengkampanyekan kebebasan porno aksi. Tidak jarang setiap ada yang menanggap atau mengundang  joged ale-ale, beberapa diantara mereka terkadang sering hadir bahkan kadang ikut juga ngibing bersama penari joged ale-ale, kalau pun mereka tidak hadir pada acara tersebut akan tetapi mereka hanya ”diam” di rumah dan tidak berbuat apa-apa.

Saya melihat justru para pengusaha kafe dan atau pelaku wisatalah yang sangat paham dalam mengemas keadaan, bukan berarti saya lebih setuju dengan adanya kafe dan karaoke, akan tetapi yang menjadi sudut pandang saya disini adalah bagaimana kita menempatkan sesuatu pada tempatnya. Para pengusaha kafe sudah cukup baik dalam menjalankan bisnisnya, rupanya mereka tahu dan sadar dampak negatif dari kafe dan karaoke, sehingga dengan demikian mereka mempertimbangkan bagaimana cara mengurangi dampak negatif itu, dengan cara tidak memperbolehkan anak di bawah umur untuk datang berkunjung, dengan melakukan pengamanan yang ketat. Jarak dari rumah masyarakat juga dipertimbangkan supaya tidak mengganggu. Dan untuk melakukan oprasi pun mereka mengurus izin terlebih dahulu. Tapi coba kita lihat bagaimana kesenian ale-ale dengan jogednya beraksi, mereka sering diundang baik di acara kawinan maupun selamatan, mereka menggunakan arena lepas di tengah masyarakat tanpa memperdulikan apakah yang menonton itu dari kalangan anak-anak atau dewasa.

Tarian atau joged ale-ale dapat dikatakan joged yang sangat erotis, mereka sudah meninggalkan pakem tarian joget tradisional, walaupun ada juga yang mengkaloborasikannya. Segala joged modern muncul, seperti ngebor, goyang itik, bahkan tidak jarang mereka melakukan goyang seperti sedang berhubungan sek antara pria dan wanita yang dilakukan oleh penari dan pengibing. Untuk menyaksikan kesenian joged ale-ale tidak ada batasan umur, dari anak yang masih balita sampai orang tua duduk bersama di arena. Dan lebih miris lagi para orang tua dengan sengaja membawa anak mereka untuk menyaksikan kesenian joged ale-ele ini.

Masyarakat sasak yang notabenenya bercirikan masyarakat yang taat beragama dan teguh memegang nilai-nilai budaya yang diwarisi dari nenek moyang, sepertinya mulai mengalami pergeseran keteguhan iman dan beralahan-lahan melepas nilai-nilai luhur yang ada pada budayanya. Kalau memang mereka menyadari hal itu tidak baik dan akan sangat mempengaruhi mental anak-anak mestinya mereka melakukan tindakan yang kongkrit bukan hanya diam. Misalnya dengan mengeluarkan fatwa pelarangan oleh MUI atau tidak diberikan izin tampil oleh kepala desa atau kadus atau diatur cara, situasi, kondisi, dan waktu tampilnya.

Segala macam upaya telah dan terus menerus dilakukan oleh pemerintah dalam membangun karakter bangsa. Supaya bangsa ini tidak hanya maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga memiliki moral yang baik, karena itu fokus pendidikan dasar dan menegah lebih berkonsentrasi pada penanaman karakter. Pada pemerintahan SBY segala bentuk metode diterapkan sampai-sampai kurikulum pun terus berubah-ubah supaya karakter itu dapat sepenuhnya ditanamkan pada peserta didik. Bahkan menteri pendidikan digabung dengan kebudayaan, karena sangat disadari bahwa negara ini negara yang juga sangat kaya dan patuh terhadap adat dan tradisi. Kebudayaan disatukan dengan pendidikan supaya ada semacam sinergi guna memasukkan nilai–nilai moral melalui kearifan lokal, sehingga terciptanya manusia yang berkarakter baik dan dengan sendirinya mewujudkan bangsa yang bermoral dan beradab. Tapi apa yang terjadi, kebudayaan yang kita tahu berada dibawah pendidikan toh juga tidak berbuat apa-apa. Entah karena tidak tahu, atau tidak mau tahu, sepertinya kebudayaan tidak memfilter kesenian yang muncul dan berkembang sehingga yang terjadi kesenian ale-ale dengan joged ale-alenya berkembang pesat, hampir diseluruh kabupaten yang ada di lombok. Dari paparan di atas dapat saya katakan bahwa diam-diam porno aksi didiamkan oleh semua pihak.(*)

Penulis : Imam Safwan

 

Lahir di Pemenang, Lombok Utara 12 April 1978. Merampungkan studi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram. Sehari-hari bekerja sebagai guru.

 

 

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda