Lima tersangka pemakai dan pengedar narkoba yang dibekuk BNN NTB. (photo: Arawali Anandai)

Simpan Ganja Setengah Kilogram, Pegawai Pemkot Mataram Dicokok Petugas – UTARAKITA

MATARAM – Simpan sabu dan ganja setengah kilogram, oknum pegawai harian lepas (PHL) Dinas Tata Kota Mataram berinisial ZL, dicokok petugas  Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB Jumat (2/10). Selain oknum pegawai 28 tahun ini, petugas juga mengamankan MB alias Fadal, 32 tahun, IS, ZU, dan MHK, warga Dusun Malase, Desa Batulayar, Lombok Barat.

Meski kelima tersangka pemakai dan pengedar narkoba ini warga dusun yang sama, mereka ditangkap secara terpisah. ‘’Ganja sempat dibuang tersangka melalui jendela, tapi bisa kami amankan,” katanya Kepala BNN Provinsi NTB, Kombes Pol Sriyanto Senin (5/10).

Kepala BNN Provinsi NTB, Kombes Pol Sriyanto dan barang bukti yang diamankan dari para pelaku. (photo: Arawali Anadai)

Kepala BNN Provinsi NTB, Kombes Pol Sriyanto dan barang bukti yang diamankan dari para pelaku. (photo: Arawali Anadai)

Sriyanto menjelaskan, awalnya petugas menangkap ZL, yang tercatat sebagai pegawai harian lepas di Dinas Tata Kota Mataram. Dari tangan ZL, petugas mendapati satu bungkus ganja yang dibalut lakban warna coklat dengan berat setengah kilo atau 500 gram. Selain itu, ditemukan pula sabu seberat 0,43 gram, tas, dan handphone.

Sementara, dari tangan  MB alias Fadal bersama rekannya IS, ZU, dan MHK, petugas mengamankan timbangan, plastik klip bening, sekop yang terbuat dari pipet, handphone, uang tunai Rp 1.220.000, bong, pipet kaca, dan korek gas.

Terbongkarnya peredaran narkoba ini sambungnya, diawali dari laporan masyarakat. Menindaklanjuti laporan itu, petugas BNN NTB menerjunkan tim ke lokasi penangkapan.

Petugas yang dipimpin Kabid Penindakan dan Pengawasan, AKBP Bunawar memantau aktivitas tersangka MB terlebih dulu . Di situ, petugas melihat gerak gerik mencurigakan. Sekitar pukul 09.15 Wita, petugas masuk ke dalam rumah tersangka MB di Dusun Malase, Desa Batulayar. ‘’Informasi yang kami dapat, tempat itu sering digunakan untuk pesta narkoba,’’ ujarnya.

Dalam penggerebekan itu ungkapnya, petugas mendapati tersangka bersama tiga rekannya. Hanya saja, saat penggeledahan petugas tidak menemukan barang bukti narkoba. Tapi, petugas menemukan perangkat yang biasa dipakai untuk menikmati barang haram, seperti bong, timbangan, plastik, dan korek gas. ”Meski tidak menemukan narkotika disana, kami menemukan uang tunai Rp 1,220.000,” jelas Sriyanto.

Sriyanto menegaskan, upaya membongkar jaringan narkoba belum usai sampai disana. Tim BNN NTB bergerak lagi ke rumah tersangka ZL yang tidak jauh dari kediaman ZL. Pasalnya, petugas mendapat petunjuk, narkoba ada di rumah ZL, yang masih adik MB.

Lima pelaku pemakai dan pengedar narkoba saat digelandang petugas. (photo: Arawali Anandai)

Lima pelaku pemakai dan pengedar narkoba saat digelandang petugas. (photo: Arawali Anandai)

Petugas pun bergerak ke tempat kerumah ZL. Melihat petugas datang, ZL berusaha menghilangkan barang bukti dengan membuang sebuah tas hitam melalui jendela kamar miliknya. Namun, upaya tersangka menghilangkan barang bukti diketahui petugas. Setelah dibuka ternyata isinya setengah kilo ganja yang dibungkus dengan Koran.

Petugas melanjutkan penggeledahan di kamar tersangka. Lagi-lagi menemukan satu poket sabu yang disembunyikan di dalam kantong baju. ”ZL dan MB pasti pengedar, karena dilihat dari jumlah barang tidak memungkinkan untuk dipakai sendiri,” bebernya.

Dari hasil pengembangan, ZL mengaku barang yang  ditemukan di rumahnya merupakan titipan temannya.”ZL ngaku ganja setengah kilo itu titipan temannya,” tandasnya.

Lebih jauh disampaikan, dari hasil penyidikan, ganja itu berasal dari Aceh. Tersangka memperoleh barang haram itu dari temannya B, yang kini sedang diburu petugas. Diperkirakan, ganja setengah kilo ini harganya mencapai Rp 50 juta. Jika ganja ini diedarkan, sambung dia, maka pemakainya sekitar 100 orang. Dengan asumsi, satu orang memakai lima gram.

Ia menambahkan, dari hasil tes urine, empat tersangka dinyatakan positif memakai narkoba. Sedangkan, oknum PHL Dinas Tata Kota Mataram negatif. Lima tersangka ini dijerat dengan pasal 114 ayat 1, pasal 111 ayat 1, pasal 112, pasal 132 ayat 1, dan pasal 127 ayat 1 huruf a Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka diancam pidana penjara seumur hidup atau 20 tahun dan paling singkat enam tahun.

Penulis: Arawali anandai

Editor Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda