Empat santri asal Lombok yang belajar di Kota Tarim, Hadramaut. (photo: Apink Alkaff)

Mereka akan Datang Meski dengan Merangkak – UTARAKITA

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (5)

Jika keturunan Bani Alawi (kaum Allawiyyin) mengetahui perjalanan hidup nenek moyangnya, mereka akan datang meski dengan merangkak. Ungkapan ini juga cukup populer di Kota Tarim. Terbukti, selama Maret 2013 lalu saja, tak kurang dari 300 peziarah asal Indonesia menziarahi Kota Tarim.

Secara keseluruhan , jumlah warga Indonesia yang belajar di Yaman saat itu lebih dari dua ribu orang. Mereka tersebar hampir di semua kota. Antara lain di Tarim, Sana’a, Seiyun, Aden, Mukalla, Sihr, Damad, dan So’dah.

Dua santri asal Lombok, Umar bin Sahab dan Osama Bin Syeh Abubakar mendampingi Sultanul Ulama Alhabib Salim Assatri, pimpinan Pondok Pesantren Ribat Tarim.

Dua santri asal Lombok, Umar bin Sahab dan Osama Bin Syeh Abubakar mendampingi Sultanul Ulama Alhabib Salim Assatri, pimpinan Pondok Pesantren Ribat Tarim.

Sebagian besar pelajar Indonesia ini menuntut ilmu di Ponpes Ribat Tarim dan Dar Almustafa Tarim. Sisanya, tersebar di Ponpes Darul Hadist di luar Kota Tarim, Universitas Al Iman dan Markas Dakwah Andalusia Sana’a.

Kala itu (Maret 2013), tercatat 433 pelajar asal Indonesia belajar di Ponpes Dar Almustafa dan sekitar 250 diantaranya nyantri di Ponpes Ribat Tarim. Itu belum termasuk puluhan para pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Universitas Al Ahgaf Tarim.

Baik di Dar Almustafa maupun Ribat Tarim, pelajar Indonesia jumlahnya paling banyak dibanding pelajar negeri lain.Nah, para alumni pondok-pondok pesantren inilah yang cukup mempengaruhi tingginya angka kunjungan peziarah dari Indonesia ke Hadramaut.

Selain itu, pelajar Malaysia, Thailand, Britania, dan Amerika tercatat sebagai negara pengirim pelajar terbanyak setelah Indonesia. Di Dar Almustafa, jumlah santri asal Malaysia sekitar 317 orang, Thailand 125 orang, Brintania 90 orang, Amerika 43 orang, dan Singapura 41 orang.

Biasanya, peziarah asal Indonesia ke Hadramaut sekalian menunaikan umrah. Seiring makin tingginya minat peziarah ke Hadramaut, perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa paket umrah plus ziarah ke Hadramaut juga mudah ditemukan di sejumlah kota besar di Indonesia.

Saking banyaknya tempat ziarah di Hadramaut, pemandu ziarah otomatis mutlak diperlukan. Dan biasanya, para pemandu ziarah ini merupakan pelajar, santri, atau alumni pondok pesantren di Kota Tarim.

Berikut tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Kota Tarim: Di tengah Kota Tarim terdapat tiga komplek pemakaman kuno. Yakni, Zanbal (khusus pemakaman habaib), Furaid (khusus pemakaman untuk masyaikh), dan Akdar (pemakaman umum).

Salah satu tempat bersejarah yang harus didatangi peziarah adalah makam-makam keluarga Ba’alawi (keturunan Rasulullah). Biasanya, tempat ziarah pertama yang didatangi adalah makam Sayyidina Ahmad bin Isa (Imam Almuhajir) bin Muhammad bin Ali Alhuraidi bin Jakfar Sadik bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Abi Talib (Fatimah binti Rasulullah).

Ratusan santri Dar Almustafa dipimpin Habib Ali Masyhur bin Hafidz dan Habib Umar bin Hafidz ziarah rutin di komplek Zanbal. (photo; Apink Alkaff)

Ratusan santri Dar Almustafa dipimpin Habib Ali Masyhur bin Hafidz dan Habib Umar bin Hafidz ziarah rutin di komplek Zanbal. (photo; Apink Alkaff)

Imam Almuhajir ini dikenal sebagai keturunan Bani Allawiyin yang pertama kali hijrah ke Hadramaut dari Irak. Nah, nasab Bani Alawi di Hadramaut ini kembalinya ke Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad (Imam Al Muhajir).

Dalam kitab al-Ghurar yang ditulis Syaikh Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid menyebutkan, keluarga Ba’alawi pindah dari Desa Bait Jubair ke Kota Tarim sekitar 521Hijriah. Orang pertama dari keluarga Ba’alawi yang berhijrah ke Kota Tarim adalah Syaikh Ali bin Alwi Khali’ Qasam dan saudaranya Syaikh Salim. Belakangan, hijrahnya keluarga Ba’alawi ini disusul oleh keluarga dari Bani Jadid dan Bani Basri. Mereka tidak lain adalah keturunan dari saudara bapaknya Syaikh Ali bin Alwi Khali’ Qasam.

Syaikh Ali bin Alwi Khalik Qasam ini meninggal di Kota Tarim dan merupakan keturunan Bani Alawi pertama yang dimakamkan di komplek pemakaman Zanbal. Dan kini, komplek pemakaman Zanbal dipenuhi ribuan makam cucu-cucu Rasulullah SAW.

Menurut Habib Umar bin Hafidz saat ziarah rutin Jumat pagi di komplek pemakaman Zanbal beberapa waktu lalu, pada zaman Sayyidina Abdurrahman Assegaf saja (sekitar 800 tahun yang lalu), para aulia (wali) yang dikebumikan di komplek pemakaman Zanbal jumlahnya mencapai puluhan ribu. Dari ribuah wali Allah SWT itu, 80 diantaranya tergolong wali kutub.

Saking banyaknya para aulia yang dimakamkan di komplek pemakaman Zanbal, ziarah ke tempat ini ada skala prioritasnya. Berikut urutan ziarah di pemakaman saadah Bani Alawiyyin di Zanbal.

Komplek Pemakaman Zanbal, tempat ribuan aulia dismayamkan.(photo: Apink Alkaff)

Komplek Pemakaman Zanbal, tempat ribuan aulia dismayamkan.(photo: Apink Alkaff)

  1. Sayyidina Fagih Mukaddam. Di makam ini disunnahkan membaca Surat Yasin.
  2. Sayyidina Alwi Alguyur (anak Fakih Mukaddam) dan Alwi bin Muhammad (pamannya Fagih Mukaddam).
  3. Sayyidina Abdollah Ba’alawi bin Alwi Alguyur.
  4. Sayyidina Abdurrahman Assegaf beserta ayahnya Muhammad Mauladawillah.
  5. Sayyidina Ali Khalik Gasam, keturunan Bani Alawi yang pertama dipemakaman di Zanbal.
  6. Sayyidina Muhammad bin Hasan Jamalullail.
  7. Sayyidina Muhammad Maula Aidit.
  8. Sayyidina Syekh bin Abdollah Alaydrus dan Syekh bin Abdurrahman Assegaf.
  9. Sayyidina Umar Muhdar.
  10. Alhabib Muhammad bin Alwi bin Syahab dan ayahnya Alwi bin Syahab.
  11. Sayyidina Abdollah dan Agil bin Abdurrahman Assegaf.
  12. Sebelum masuk kubbah Sultanul Malak Sayyidina Abdollah Alaydrus membaca surat alfatihah untuk para masyaikh di pemakaman Furait dan pemakaman Akdar.
  13. Sayyidina Abdollah Alaydrus. Di makam ini disunnahkan membaca Surat Yasin dan Surat Alkausar. Disunnahkan memperbanyak doa antara Kubbah Sayyidina Abdollah Alaydrus dan Makam Sayyidina Abdollah bin Alwi Al Haddad (sohibul ratib). Karena, tempat ini diyakini merupakan salah satu bagian dari taman surga.
  14. Sayyidina Abdollah bin Alwi Al Haddad, sohibul ratib. Di makam ini disunnahkan membaca Surat Yasin yang dilanjutkan dengan membaca kasidah Habib Abdollah Al Haddad.
    Makam Sohibul Ratib Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad.(photo: Apink Alkaff)

    Makam Sohibul Ratib Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad.(photo: Apink Alkaff)

  15. Alhabib Hasan bin Abdollah Al Haddad.
  16. Alhabib Abdollah bin Syech Alaydrus.
  17. Sayyidina Ahmad bin Husein Alaydrus (Sohibul Taugah).
  18. Kembali memasuki kubah Sayyidina Abdollah Alaydrus.
  19. Hababah Aisyah binti Sayyidina Umar Muhdar atau istri dari Sayyidina Abdollah Alaydrus.
  20. Alhabib Salim, ayah dari Syehk Abubakar bin Salim.
  21. Sayyidina Ahmad bin Alwi Bajahdab.
  22. Sayyidina Muhammad bin Ali Al Khairit.
  23. Sayyidin Alwi Al Khairit.
  24. Al Habib Hasan bin Abdollah Assyatiri dan ayahnya Alhabib Umar Assyatiri.
  25. Sayyidina Salim bin Abubakar Alkaff.
  26. Hababah Zainab, Ummul Fukara atau istri Sayyidina Fagih Mukaddam.
  27. Sayyidina Abubakar Assyakran.
  28. Sayyidina Husein bin Thohir.
  29. Komplek pemakaman 14 sahabat Rasullah yang ikut di peperangan Badar.
  30. Sayyidina Abubakar Bashmeleh yang kubahnya selalu tertutup yang dilanjutkan dengan pembacaan Surat Alfatihah untuk semua kubur di pemakaman Zanbal.(bersambung)
[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com