Salah sudut Kota Tarim, Hadramaut, yang sunyi.

Berharap Datang dan Mati – UTARAKITA

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (6)

Mekah Almukarramah dikatakan bertanah suci. Di Tarim, saya melihat dan merasakan ‘’kesucian’’ penduduknya. Mereka lebih mengutamakan berniaga dengan Tuhan dan berlomba dalam kebaikan ketimbang sibuk dengan urusan dunia.

Berbisnis dengan Tuhan memang selalu menguntungkan. Doa, kebiasaan, atau tabiat sekalipun akan terbayar di Kota Obat Batin ini, Hadramaut.

Para pemuka Hadramaut saat menghadiri pernikahan cucu Mufti Tarim Habib Ali Masyhur. (photo: Apink Alkaff)

Para pemuka Hadramaut saat menghadiri pernikahan cucu Mufti Tarim Habib Ali Masyhur. (photo: Apink Alkaff)

Saya mulai memamahami arti kata hadir dan mati untuk memaknai kata Hadramaut. Seperti Nabi Allah Hud dan Nabi Allah Saleh yang datang ke Hadramaut dan memilih mati di kota itu. Atau seperti Imam Al Muhajir yang datang dan juga mati di tanah yang sama. Atau seperti Ali Khalik Gasam yang pertama kali dimakamkan di Zanbal.

Selain komplek pemakaman Zanbal, tempat yang kerap didatangi peziarah adalah masjid-masjid kuno peninggalan Bani Alawiyyin di Kota Tarim. Masjid kuno-kuno itu ditautkan tali sejarah dengan para pemuka Bani Alawiyin yang dimakamkan di komplek pemakaman Zanbal.

Di Zanbal saja, kenikmatan dan kebaikan berziarah itu serasa sudah cukup memuaskan. Dikatakan, kebaikan yang diberikan salah satu dari 13 putra Sayyidina Abdurrahman Assegaf sudah cukup untuk kebaikan Zanbal. Bagaimana jika di komplek Zanbal itu ada 13 makam putra-putra saleh Syekh Abdurrahman Assegaf?

Dari ke-13 putra Abdurrahman Assegaf, beberapa diantaranya menurunkan sejumlah marga. Antara lain, Ibrahim yang menurunkan marga Albaiti dan Syechan. Agil yang menurunkan Assegaf dan Baagil. Alwi yang menurunkan Almusawwa. Abubakar (Assyakran) yang menurunkan marga Al Aidrus, Agil, Almunawwar, Almusawwa, Assegaf, dan Khutban. Bin Syahab, Shihab, Bin Hasan, Al Hadi, Al Masyhur, Azzahir, dan Al Masyikh juga berasal dari turunannya Assyakran.

Masjid Almuhdar, Tarim, yang menjadi salah satu icon Yaman.(photo: Apink Alkaff)

Masjid Almuhdar, Tarim, yang menjadi salah satu icon Yaman.(photo: Apink Alkaff)

Putra Abdurrahman Assegaf lain yang menurunkan sejumlah marga adalah Abdollah dan Ali. Garis keturunan Abdollah ini menurunkan marga Syameleh, Hasyim, Maknun, Al Attas, Al Hamid, Al Haddar, dan beberapa marga pecahan Bin Syeh Abubakar atau yang dikenal merupakan keturunan Syekh Abubakar bin Salim. Termasuk marga Bin Agil yang merupakan keturunan Syekh Agil bin Salim yang merupakan saudara kembar Syekh Abubakar bin Salim. Sedangkan Ali bin Abdurrahman Assegaf menurunkan marga Thoha, Affan, dan Umar Assyofi.

Salah satu putra Abdurahman Assegaf juga punya anak bernama Umar (Almuhdar). Tetapi, Umar yang ini tidak punya anak laki-laki dan punya empat putri. Jadi, keturunan Al Muhdar, bukan dari Umar bin Abdurrahman Assegaf, melainkan dari garis keturunan Bin Syekh Abubakar.

Jika menarik garis keturunan nasab Bani Alawi keatas, Syekh Abdurahman Assegaf ini mempunyai tiga saudara, Ali, Alwi, dan Abdollah. Ali menurunkan keturunan bermarga Al Warak, Al Hinduan, Ba’bud, dan Haristani. Sedangkan Alwi menurunkan marga Sumaitan, Fada’ak, Al Mukandal, Bin Yahya, Mulachela, Al Sahl, dan Mugebel. Abdollah, saudara Abdurrahman Assegaf yang paling kecil menurunkan marga Al Ajaz, Mukassim, Basalim, dan Badakan.

Sejumlah marga-marga diatas tadi merupakan keturunan dari Muhammad Mauladawila bin Ali bin Fagih Mukaddam. Selain Ali, Fakih Mukaddam mempunyai tiga putra lain, Alwi (Alguyur), Ahmad, dan Abdurrahman yang hanya mempunyai anak Muhammad.

Masjid Sohibul Ratib, Habib Abdollah bin Alwi Alhaddad, Tarim. (photo: Apink Alkaff)

Masjid Sohibul Ratib, Habib Abdollah bin Alwi Alhaddad, Tarim. (photo: Apink Alkaff)

Alwi Alguyur mempunyai anak bernama Abdollah Baalawi yang kemudian menurunkan sejumlah marga. Antara lain, Al Madahik, Fada’ak, Madhar, Muthohar, Marzak, Bin Hamid, Ba’bud Dijan, Baragbah, Al Kherit, Al Khun, dan Assyili.

Ahmad (saudara Alwi Alguyur) mempunyai empat putra. Abubakar, Muhammad, Alwi, dan Umar. Abubakar kemudian menurunkan marga Ba’ali, Khaniman, dan Hasan Alwarak. Putra Ahmad yang lain, Muhammad, menurunkan marga Al Jufri, Assofi, Al Bahar, Al Kaff, Sohibul Hamraq, Al Baidh, Bilfagih, Jabhan, Al Askha, dan Assabikah. Sedangkan Alwi bin Ahmad menurunkan marga Al Bar dan Assyarim. (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com