Sofyan Pemenang dalam orasi politik terakhir di kampung halaman. (photo: Supaq Fahmi)

Sofyan Pemenang: Ini demi Lombok Utara kawan – UTARAKITA

Matahari sudah beranjak dari peraduannya. Ringtone handphone jadulku berdering pagi. Seperti suara ayam jago yang kesiangan. Suaranya klasik, tanpa lirik, dan tak bergetar. Sofyan Pemenang. Demikian nama pemanggil yang tertera di layar HP Chinaku.

Aku terjaga sejaga-jaganya. Karena aku tau, kawanku yang satu ini tengah berjuang menghadapi serangan jantung yang membuatnya koma di Rumah Sakit Islam, kamar VIP B.  Sepersekian detik, aku berharap mendengar suara Sofyan Pemenang.

Satu Hati dari Sofyan Pemenang. (photo; Supaq Fahmi)

Satu Hati dari Sofyan Pemenang. (photo; Supaq Fahmi)

Dan suara dari nomor panggilan itu bukan Sofyan Pemenang. Suaranya masih muda dan cukup akrab di telingaku. ”Ajis,” kataku dengan suara parau.

Belum sempat aku berpikir, sepersekian detik kemudian Ajis yang tidak lain adalah murid, keponakan, sekaligus kerabat dekat Sofyan Pemenang ini menyampaikan mukaddimah yang menghentak. ”Innalillahiwainna Ilaihi Roji’un. Pak Sofyan Meninggal,” kata Ajis dengan rapal bertajwid. Kabar pagi yang menghilangkan semangat.

Sabtu Pagi yang cerah itu pun berubah hening, kaku, sedih, dan ada rasa memudar. Seorang teman, sahabat, abang, keluarga, ayah, paman, dan kerabat jadi inipun harus meninggalkan medan perjuangan politik Kabupaten Lombok Utara yang sebenarnya enggan ia lakoni lagi.

Aku pun bergegas meninggalkan ruangan yang berbalut aroma tinta Green Energi Studio, Penyambuan, Tanjung Bunga. Mandi laut. Jurus yang terpersit di kepalaku untuk menghalau rasa kehilangan yang mulai mencair.

Sempat, beberapa waktu lalu aku menanyakan soal alasannya kembali ke kancah politik utara ini. Jawabannya singkat. Seperti jawabannya yang memang selalu singkat dan jelas. Ini demi Lombok Utara kawan.

Sofyan diantara elite Jadi Lombok Utara. (photo: Supaq Fahmi)

Sofyan diantara elite Jadi Lombok Utara. (photo: Supaq Fahmi)

Rupanya, politik sudah menjadi bagian dari kehidupan seorang Sofyan. Mantan anggota DPRD KLU yang tidak segan-segan memperlihatkan kekurangan rambut di kepalanya ini memang politisi low profile. Penampilannya selalu sederhana. Sangat jarang terlihat menggunakan kendaraan roda empat, apalagi yang plat merah disulap menjadi plat pribadi.

Politisi murah senyum ini sering nongkrong pagi di jalan Pemenang menuju Bangsal. Kadang di terminal, kadang di salah satu meja di sudut cafe pagi yang selalu buka pagi di Bangsal ini.

Dalam karir politiknya, Sofyan ”Botak” Pemenang  ini juga dikenal sebagai politisi pengawal tata tertib dewan. Ia cukup ahli untuk urusan yang satu ini.  Selaku legislator bergaya oposisi, amat sangat sering, Sofyan melontarkan kritik-kritik tajam kepada penguasa Kabupaten Lombok Utara kala itu, H Djohan Sjamsu.

Lepas dan ceria, Sofyan dan Djohan Sjamsu. (photo: Supaq Fahmi)

Lepas dan ceria, Sofyan dan Djohan Sjamsu. (photo: Supaq Fahmi)

Amat sering pula, pejuang Ka’bah ini menohok Mariadi, Ketua DPRD KLU dengan kritikan-kritikan berlandaskan aturan. Oposisi adalah karakter dan ciri khas perjuangannya. Bekerja berdasarkan aturan merupakan harga mati baginya. Totalitas memperjuangkan rakyat adalah komitmen awalnya.

Kini, garis politik telah merangkainya duduk sederet dalam barisan politisi perjuang H Djohan Sjamsu dan Mariadi yang nota bene dulu adalah para pemangku kebijakan yang selalu dia kritisi. Selalu dia pantau dan selalu dia awasi.

Alasan Sofyan membela Djohan – Mariadi pun masih singkat. ”Demi Lombok Utara kawan,” tegas Sofyan kepada ku sebelum ia benar-benar meninggalkan arena politik hidupnya.(*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com