Menikmati trek terjal KSB. (photo: dok LMBC)

Komunitas MTB Bali-NTB Jajal Eksotisme KSB – UTARAKITA

TALIWANG – Bagi penggila sepeda gunung atau MTB, trek di NTB tak ada habisnya. Hal ini ditegaskan oleh Fengky Gunawan salah seorang goweser asal Bali yang turut serta berpartisipasi dalam menjajal track alam Kabupaten Sumbawa Barat. Beragam potensi yang telah di-eksplore, selanjutnya akan dipromosikan lebih luas lagi. Tentu dengan cara masing-masing anggota komunitas.

Personil gabungan dari Lombok Mountain Bike Community (LMBC), Mayung MTB, Maluk MTB, Sabic Sekongkang MTB Community  saat di KSB. (photo: dok LMBC)

Personil gabungan dari Lombok Mountain Bike Community (LMBC), Mayung MTB, Maluk MTB, Sabic Sekongkang MTB Community saat di KSB. (photo: dok LMBC)

Sabtu (17/8) lalu sepertinya menjadi hari berkesan bagi para goweser gabungan berbagai club sepeda ini. Momen cukup besar telah diukir. Menjajal eksotisme Kabupaten Sumbawa Barat dengan melintasi tiga track sekaligus, dari Sekongkang hingga Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB.

Puluhan goweser dari berbagai latar belakang, penulis, fotografer, akademisi, dan berbagai profesi lain, turut ambil bagian. Mereka berasal dari Lombok Mountain Bike Community (LMBC), Mayung MTB, Maluk MTB, Sabic Sekongkang MTB Community

Kali ini, even ini digagas untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi wisata, kuliner, hingga gerakan pelestarian alam kabupaten yang sedang berkembang ini.

Mengambil start di Town Site Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara, etape pertama dimulai sekitar jam 07.20 WITA. Para goweser  mulai menelusuri rute menantang  tanjakan berat, turunan curam dengan material tanah debu dan bebatuan track Was pat.

Lalu memasuki perkampungan, hingga jalan aspal dengan tanjakan panjang dan berliku-liku. Kendati demikian, tak satupun peserta yang menyerah.

Di pedalaman KSB. (photo: dok LMBC)

Di pedalaman KSB. (photo: dok LMBC)

Lanjut dietape kedua, track Batu Aden lebih menantang adrenalin. Tingkat kecuraman track sekitar 80 derajat, berliku serta bebatuan tak menciutkan nyali para penikmat enduro, cross country dan downhill ini. Dengan peluh basah, berlindung dibalik kayu dan pepohonan yang sedang menghadapi musim kering, sengatan mataharipun tak dihiraukan.

Diotak para goweser ini hanyalah menikmati track alam yang membentang, dengan sedikit setting-an masyarakat setempat. Dan yang pasti, mereka bisa jumping dengan sepedanya. Kesannya, para goweser gila track ini, sensasi sempurna didapatkan.

Tak sampai disitu, tim kemudian memasuki etape tiga, track Turunan Kaca. Lagi-lagi tim dijamu dengan beragam tantangan yang tak jauh beda dari track sebelumnya, curam, tanah labil, bebatuan dan jarak panjang minim. Track ini dianggap paling dahsyat.

Tak ayal, terdapat diantaranya anggota tim mengalami kendala pecah ban, putus tali rem, hingga yang nyungsep kali. Namun tetap saja kendala-kendala tersebut tak menghentikan petualangan. Turun dari track Turunan Kaca, lalu menyusuri kawasan pantai Balas. Dengan panorama pasir yang begitu bersih, deburan ombak dibalik bukit-bukit perkasa makin menambah sempurnanya kegiatan berekreasi dan berolahraga itu.

Tak lupa, tim selalu mengambil moment dengan berfoto, bahkan yang mengabadikanya dalam bentuk video. Tentu selanjutnya akan dipublish diberbagai media, fasilitas media sosial dan transfer informasi ke berbagai komunitas lainnya.

Olah raga sambil berwisata ala goweser. (photo: dok LMBC)

Olah raga sambil berwisata ala goweser. (photo: dok LMBC)

Tak ada anggota tim yang berkurang, hingga finish di Pantai Maluk. Sepanjang rute 20,26 Km tantangan telah ditaklukkan hingga pukul 13.45. Kegiatan penutup kemudian dengan melepas tukik, sebagai bentuk gerakan melestarikan alam menjaga stabilitas ekosistem laut yang menjadi potensi besar wisata di Kabupaten Sumbawa Barat kini, dan kedepannya. Sajian terakhirnya, menikmati kuliner khas daerah setempat, Sepat dan Singang. Perjalanan yang mengesanakan dan akan diulangi dilain kesempatan.

Manajer SR PT NNT, Kasan Mulyono, penggagas kegiatan tersebut menerangkan, tujuan kegiatan tersebut yakni memperkenalkan potensi pariwisata di KSB dengan gerakan gerakan sehat bersepada, serta menjalin silaturrahami antar club sepeda. ‘’Beberapa kali kegiatan seperti ini dilakukan bersama, tetapi kesempatan kali inilah yang paling ramai pesertanya,’’ kata Kasan yang juga olah raga alam ini.

Melepas tukik di pantai KSB. (photo: dok LMBC)

Melepas tukik di pantai KSB. (photo: dok LMBC)

Spesial dari kegiatan terakhir melepas tukik, pun menjadi agenda tetap. Seperti diketahi Sumbawa adalah daerah berlabuhnya penyu-penyu hijau yang kini mulai punah. Perusahaan tambang ini kemudian melakukan gerakan kepedulian untuk terus melestarikannya. Hingga kini lebih dari 30 ribuan tukik telah dilepas selama keberadaan PT. NNT

Fenomena yang berkembang di masyarakat setempat, selama ini telur penyu selalu menjadi buruan dan menu khas. Apalagi jika tamu-tamu penting pemerintah datang berkunjung, telur penyu menjadi jamuan khusus.

Kekhawatiran akan punahnya penyu hijau ini,masyarakat setempat kemudian diajak untuk peduli. Telur penyu yang telah diambil, sebagian tetap dikonsumsi, dan sebagian lagi dititip dipenangkaran yang dibuat oleh PT. NNT untuk selanjutnya dikembangbiakkan dan dilepas kembali kelaut.

Olah raga dan melestarikan alam dengan melepas tukik. (photo: dok LMBC)

Olah raga dan melestarikan alam dengan melepas tukik. (photo: dok LMBC)

Anggota LMBC, Dr. Lalu Wira menyampaikan pesan, mestinya pemerintah daerahlah yang mengambil peran mempromosikan yang dimiliki daerah dengan melibatkan para komunitas sepeda. Kabupaten Sumbawa Barat menurutnya memiliki bentangan alam dengan track sepeda yang luar biasa bagi para goweser. Bahkan rute yang dijajal kemarin diklaim sebagai rute paling potensial di Provinsi NTB.

Bersepeda saat ini sudah menjadi trend di negeri ini. Club-club sepeda cukup haus dengan track-track seperti  yang ada di Sekongkang hingga Maluk. Saatnyalah pemerintah mengambil porsi yang lebih besar untuk berpromosi melalui club sepeda. Apalagi selain track sepeda, wisata pantainya pun memiliki potensi besar bagi para peselancar.

“Bisa saja club sepeda sekaligus ingin berselancar. Dan ini potensi ekonomi yang besar, pemerintah daerahlah yang mestinya ambil bagian,” demikian dosen pasca sarjana di Fakultas Hukum Unram ini.(lmbc)

Editor: Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda