Lebih baik disini...rumah kita sendiri....(photo:apink alkaff)

Merespon Letusan Rinjani – UTARAKITA

Salam lestari polong, renten, semeton, batur, lenga, dan bro-bro pegiat alam.

Mencoba merespon geliat dan letusan Rinjani yang belakangan cukup menyedot perhatian dunia. Lebih-lebih, geliat itu senada dengan moment Lombok yang mendapat anugerah tujuan wisata halal dunia.

APINK ALKAFF – UTARAKITA.COM

A Moment: Pray for Rinjani. (photo: Apink Alkaff)

A Moment: Pray for Rinjani. (photo: Apink Alkaff)

Akankah kita menunggu fenomena alam lagi atau pertanda alam dalam berbicara soal Rinjani? Atau menunggu bencana yang membuat kita telat dan terjaga? Atau menunggu letusan pijar lava yang benar-benar di muntahkan Sang Dewi Anjani.

Tentu tidak kawan. Gadis molek kita ini sudah cukup dewasa untuk mendapat predikat putri gunung tercantik dunia.

Mari kita berpikir sejenak untuk Rinjani. Mumpung Anjani masih mau menggunakan bahasa-bahasa santun dan tidak meledak-ledak. Mumpung kita masih ada waktu berbuat sesuatu untuk tanah yang kelak menjadi ibu pertiwi kita.

Kami tidak ingin berbicara tentang fenomena alam atau pertanda alam dari kaca mata kelenik berbungkus adat atau budaya. Kami hanya ingin berbicara tentang cara lain melihat Dewi Anjani. Terutama dari sudut pandang kami, pawang-pawang Rinjani Utara.

Pawang Pawang Rinjani (photo: apink alkaff)

Pawang Pawang Rinjani (photo: apink alkaff)

Rinjani tengah berada di tangga-tangga puncak ketenarannya polong (sudara). Mulai dari pantai, gugusan pulau-pulaunya dan keeksotikan budayanya, Rinjani memang tengah menjadi sorotan dunia.

Namanya sudah sejajar dengan tempat berlibur kaum super tajir arab. Buktinya, Pulau Lombok terpilih sebagai Best Halal Destination Award dan Honeymoon Destination Halal Award yang notabene digelar wong arab.

Karena pulau Lombok sebagian besarnya adalah kawasan Rinjani. Dan sebagian besar masyarakat Lombok amat sangat bergantung hidupnya dari Rinjani, tentu tidak berlebihan kita berprasangka baik jika alasan terpilihanya Lombok meraih predikat bergengsi dari negara-negara super kaya timur tengah ini adalah karena kecantikan Sang Dewi. Dewi yang bermahkotakan Tanjung Tanjung Bunga (Flores).

Sebagian besar mereka adalah pegiat-pegiat alam NTB. (photo: apink alkaff)

Sebagian besar mereka adalah pegiat-pegiat alam NTB. (photo: apink alkaff)

Karena sudah menjadi jalur pelayaran Indonesia timur, pintu masuk ke Flores Nusa Tenggara Timur itu akan berawal dari Lombok, Sumbawa, Bima, kemudian ke Flores dan berlabuh Raja Ampat. Sail Lombok – Raja Ampat.

Ups….Kita kembali ke persoalan Rinjani. Sampah. Isu ini selalu menjadi tren. Isu ini sering menjadi konsumsi khusus orang-orang yang suka protes dan tidak berbuat sesuatu yang nyata untuk Rinjani.

Apakah kita harus belajar ke India atau ke Nepal? Kaki-kaki Himalaya untuk bisa mengelola manajemen pendakian dulu? Rinjani memiliki karakter khas yang tidak dimiliki gunung lain. Gunungnya tidak terlalu tinggi, anggun, dan selalu ngangenin.

Atau kita harus bertandang ke Kinabalu Malaysia untuk belajar cara mengelola sampah gunung? Banyak cara dan sistem yang sudah di coba. Dari zaman NZODA yang dikelola New Zealand (Selandia Baru) sampai zaman Rinjani Trek Management Board (RTMB) yang didirikan hanya berlandaskan memorandum of understanding (nota kesepahaman Dinas Pariwisata Lobar dengan Gubernur NTB).

Rinjani Lover Ventage : (photo;apink alkaff)

Rinjani Lover Ventage : (photo;apink alkaff)

Pola dan sistem sudah dilakoni orang-orang yang mengaku kenal Rinjani sebelumnya. Itu sudah dilaksanakan. Ada yang berakhir bagus. Ada pula yang hanya kegiatan seremonial belaka untuk meraup keuntungan bagi segelintir orang yang mengaku peduli Rinjani.

Sepertinya, kita harus punya awik-awik bersama dalam menjaga dan melestarikan ibu pertiwi pulau Lombok ini. Sebagai langkah awal, Lombok Utara harus menjadi tuan rumah untuk itu. Pertemuan para pawang-pawang Rinjani Lombok yang kemudian melahirkan kesepakatan sosial adat dan budaya yang tertuang dalam awik-awik pengelolaan dan penjagaan Rinjani secara utuh. (*)

Nyelet sekedik polong...

Nyelet sekedik polong…

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com