Aktivis AJI Mataram dalam sebuah demo anti kekerasan terhadap Jurnalis (doc. AJI Mtr)

AJI Mataram Kecam Pembreidelan Media Unram – UTARAKITA

 Mataram – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram mengecam tindakan pihak Rektorat Universitas Mataram (Unram) yang membekukan Unit Kegiatan Pers Kampus, Media Unram. Tindakan otoritas Unram yang membekukan kepengurusan UKM Media dan mengancam mengusir aktivis Media dari sekretariatnya dinilai sudah melampaui batas. ‘’Langkah itu anti demokrasi, melawan prinsip-prinsip kebebasan berekspresi dan berpendapa, juga melawan kemerdekaan pers.” tegas Fitri Rachmawati, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram, Senin (2/10).

AJI Mataram menilai alasan pembekuan UKM Media Unram oleh rektornya sendiri sangatlah tidak beralasan dan cenderung kekanak-kanakan. Sikap kritis yang ditunjukkan para aktivis Media melalui pemberitaan mereka selama ini bukanlah hal yang tabu atau terlarang. Sebaliknya tegas Fitri, itu merupakan sikap yang harus dipelihara oleh calon-calon jurnalis, calon-calon intelektual masa depan. “Semestinya Rektor Unram bersyukur bahwa proses pendidikan di universitas terbesar di NTB ini berhasil dengan menelurkan generasi-generasi kritis yang peka terhadap persoalan di lingkungan sekitar mereka.” ungkap Fitri yang akrab disapa Pikong ini.

Dalam kaitannya dengan produk jurnalistik awak Media Unram yang terpublikasi melalui penerbitan Koran Kampus Media dan mediaunram.com, AJI Mataram melihat tidak ada pelanggaran kode etik. Setiap pemberitaan yang diturunkan kata Pikong, sudah menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik dengan baik.

Adapun terkait sejumlah isu miring dalam kampus yang diturunkan dalam karya jurnalistik Media Unram, bagi AJI Mataram adalah sebuah kewajaran. Hal itu adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menerapkan fungsi Pers sebagai alat kontrol sosial yang diamanatkan Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999.

Atas tindakan pembekuan UKM Media dan ancaman pengusiran para awaknya dari sekretariat mereka, AJI Mataram mendesak Rektor Unram untuk meninjau ulang kebijakan tersebut dan secepatnya menerbitkan SK Kepengurusan UKM Media Unram yang menjadi tanggungjawab rektor.

Langkah-langkah dialogis sebutnya, sangatlah tepat untuk ditempuh guna menyelesaikan selisih pandangan antara rektor dan para aktivis Media Unram. Pembinaan terhadap para aktivis UKM Media penting untuk dilakukan pihak rektorat tanpa harus mengebiri sikap kritis mereka apalagi menjadikan pers kampus sebagai corong atau humas rektorat.

Lebih lanjut AJI Mataram mengingatkan bahwa cara-cara pembreidelan atau pembekuan pers sudah lama terkubur di negeri ini, seiring dengan bergulirnya era reformasi. Indonesia sudah berada di era keterbukaan infomasi dan era kemerdekaan pers. “Breidel yang jadi warisan rezim otoriter sudah lama kita kubur, alangkah naifnya jika Rektor Unram hari ini menggunakan alat pembodohan itu untuk membungkam sikap kritis mahasiswnya. ” kata Fitri seraya menegaskan bahwa AJI Mataram dan elemen-lemen masyarakat pro kemerdekaan pers tidak akan membiarkan praktik-praktik pembungkaman pers berlangsung, termasuk pembekukan UKM Media Unram oleh rektornya.(Apink Alkaff)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com