Rinjani Eruption at 12 Oktober 2016

Di Balik Pijar Lava Api Rinjani – UTARAKITA

Ketika Rinjani Berapi (1)

Selagi burung-burung gunung masih berkicau di dahan cemara tepi Danau Segara Anak, Rinjani, hati kami pun sedikit tenang. Tetapi, gemuruh ledakan teramat dahsyat dan pijar api yang menyemburat dari sisi utara Gunung Baru Jari membuat nyali kami ciut. Awan pekat putih tepi Segara Muncar membuat kami tenang. Tetapi, awan pekat abu tua yang menjulang menyelimuti pijar lava api kembali membuat kami terpesona, takjub, sekaligus takut.

Sudah tak terulang lagi, rafalan ayat-ayat suci keluar dari mulut kami. Dan kami terpaku menyaksikan kedahsyatan alam teramat indah yang disuguhkan Sang Pencipta.

Gunung Baru Jari eruption, 12 Oktober 2016

Gunung Baru Jari eruption, 12 Oktober 2016

Apink Alkaff – Lombok, Nusa Tenggara Barat

Hari itu, 8 November 2015, Rinjani masih bergemuruh. Aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari mempengaruhi aktivitas warga, khususnya warga Lombok. Ratusan penerbangan dari dan ke Lombok dibatalkan lebih dari sepekan.

Banyak even besar dan agenda penting tertunda lantaran tidak ada penerbangan dari dan ke Lombok. Tingkat hunian hotel pun terdampak letusan Rinjani.

Pariwisata adalah sektor yang paling merasakan dampak. Ratusan porter dan guide gunung nganggur. Puluhan trekking organaizer Rinjani gigit jari dan kehilangan tamu.

PT Angkasa Pura mengaku mengalami kerugian miliaran rupiah. Tetapi pada saat bersamaaan, angkutan laut (fast boat) Gili – Bali meraup keuntungan berlipat-lipat.

Dampak api Rinjani itu mulai terasa sejak letusan pertama Gunun Baru Jari, 25 Oktober 2016. Sejak itulah, toko penjual masker kehabisan stok.

Gunung Baru Jari, Rinjani eruption, 12 Oktober 2015. (photo: apink alkaf)

Gunung Baru Jari, Rinjani eruption, 12 Oktober 2015. (photo: apink alkaf)

Sejak itulah, pendakian ke Rinjani terlarang untuk umum. Kalau pun sempat dibuka, pendaki hanya diizinkan sampai Pelawangan. Karena jarak teraman, 5 sampai 7 kilometer dari pusat letusan.

Rasa penasaran akan fenomena alam itulah yang membuat kami terpanggil untuk menjadi saksi langsung. Saksi dahsyatnya konser alam terindah sepanjang masa. Kami pun memutuskan untuk melakukan pendakian dari jalur Torean, Lombok Utara.

Kami sadar, apa yang kami lakukan terlarang. Namun, rasa penasaran yang teramat besar membuat kami ”nekad” melakukan pendakian ini. Lagi pula, niat dan rencana pendakian di ujung musim kemarau ini sudah kami tanam jauh hari sebelum Rinjani meletus.

Gunung Baru Jari, Rinjani eruption, 12 Oktober 2015. (photo: Apink Alkaff)

Gunung Baru Jari, Rinjani eruption, 12 Oktober 2015. (photo: Apink Alkaff)

Kami pun melakukan pendakian berlima: Tony, Supaq, M Nasri Afif, dan saya (Apink Alkaff). Kami juga dikawal Amak Anto, porter Desa Torean, Bayan, Lombok Utara. Tentunya, dengan tarif porter lebih mahal dari biasanya.  Duel putaran terakhir pembalap moto GP, Valentino Rossi, Lorenzo, dan Mark Marcuez kami abaikan demi menghadiri konser api Rinjani.

Sejatinya, perjalanan Torean-Danau Segara Anak lazim ditempuh pendaki sekitar delapan jam.  Tapi kami menempuhnya sekitar 11 jam. Tim Utarakita baru bisa sampai Telaga Urung, Goa Susu, Rinjani, sekitar pukul 18.00 WITA. Artinya, Sabtu malam (7/10) itu kami bisa saja langsung sampai Danau Segara Anak.

‘’Sebaiknya kita bermalam di sini,’’ saran Amak Antok, Pawang Rinjani  sekaligus porter asal Torean. Kami pun mengiyakannya. Di lembah Segara Urung yang menyediakan tiga kolam air sulfur panas itulah kami membangun dua tenda.

Rinjani eruption, 12 Oktober 2015

Rinjani eruption, 12 Oktober 2015

Sebelum membangun tenda, saya sempat mengajak Amak Antok dan kawan-kawan lain untuk bergegas melihat aktivitas fenomena letusan vulkanik Gunung Baru Jari. Dari lembah itu, kami hanya butuh waktu berjalan sekitar 30 menit untuk bisa sampai danau.

Hanya saja, malam itu terlalu berdebu untuk melanjutkan perjalanan. Lagi pula, kami masih diselimuti rasa ngeri lantaran di sepanjang perjalanan, kami sudah mendengar gemuruh dan ledakan Gunung Baru Jari. ‘’Kalau sudah masuk sleeping bag ini, males rasanya pake sepatu basah,’’ kata Supaq yang dibenarkan Nasri.

Sementara itu, Tony trekking orgenaizer (Lombok Vertical) sudah tidur pulas. Kuda-kuda kanan Tony keseleo lantaran tidak sanggup menopang bobot badannya yang tambun. Malam itu, dari jarak 30 menit pendakian, kami hanya bisa menyaksikan kilatan merah dari erupsi Gunung Baru Jari yang diikuti gemuruh ledakan yang tak henti-hentinya.

Setelah berendam di kalak Telaga Urung dan mandi sauna alam Goa Susu, kami pun mengganti pakaian dan siap-siap melanjutkan perjalanan menuju pusat kehidupan Dewi Anjani.  Pagi sekitar pukul 11.WITA, kami sudah melewati trek terjal di atas Goa Susu.

Segara Anak Lake, when Rinjani eruption, 12 Oktober 2016

Segara Anak Lake, when Rinjani eruption, 12 Oktober 2016

Kesan awal yang begitu mengejutkan. Mata kami berkedip. Langkah terhenti dan jantung berdegup keras. Telinga kami mendengung. Mungkin karena itu suara terdahsyat yang pernah tertangkap retina. Sempat langkah kami terhenti karena rasa takut yang menguasai jiwa. Kembali dan mundur, sempat ada dibenak kami.

Namun, hadir, menyaksikan, dan mengabadikan konser alam yang maha besar itu adalah salah satu tujuan utama kami. Benar adanya, ketika sudah sampai di Danau Segara Anak mata lensa tak henti-hentingnya berkedip. Puluhan frame pengabadiaan momen coba kami lakukan. ‘’Ingat, jangan terlalu terpesona! Nanti malamlah acara puncaknya,’’ kata saya kepada kameramen Nasri Afif yang tampak sangat bersemangat mengambil setiap angle.

Meski sudah diperingatkan, Nasri tetap asik menangkap setiap momen itu. ‘’Ini momen bro. Momen,’’ kilah kameramen senior TVRI ini. Sebelum magrib, kamera Panasonic pegangan Nasri pun kehabisan daya. (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
  • lucky

    Rinjani memang selalu mengagumkan..
    Bravo Tim Utarakita.

    Salam dari Sahabat Lama