Atraksi eksotis letusan Gunung Baru Jari 8 November 2015.(photo: Apink Alkaff)

Konser Alam Terdahsyat yang Hanya Bisa Disaksikan di Rinjani – UTARAKITA

Ketika Rinjani Berapi (2)

Amak Antok sanggup meyakinkan kami, bahwa bermalam di tepi danau akan baik-baik saja. ‘’Bisa saja kita menginap malam ini di sini (tepi danau). Tapi saya yakin, kita tidak akan bisa tidur. Dari pada mimpi buruk dan kaget-kagetan, lebih baik kita bermalam di Segara Urung, Goa Susu,’’ kata Tony yang terlihat mulai khawatir.

Menjadi saksi konser alam Rinjani yang memukau. (photo: Apink Alkaff)

Menjadi saksi konser alam Rinjani yang memukau. (photo: Apink Alkaff)

Apink Alkaff – UTARAKITA.COM

Nasri Afif dan Supaq tidak berpendapat soal itu. Yang pasti, kami sepakat untuk menyaksikan puncak konser dengan sound system alam yang dahsyat sampai lepas waktu isya’ (pukul 20.00 WITA).

Dari siang hingga sore itu, Gunung Baru Jari lebih sering tertutup kabut dan asap putih. Sesekali Gunung Baru Jari menampakkan diri dengan letusan pijar apinya. Dan berkali-kali kami terkejut mendengar ledakan setiap semburannya.

Seperti ratusan mesin jet bergerak bersamaan yang jaraknya hanya beberapa ratus meter di depan kita. Atau seperti di dalam bioskop besar dengan sound system amat besar juga.

Atraksi eksotis lava api terspektakuler yang pernah disaksikan mata. Konser alam terdahsyat di dunia yang hanya bisa disaksikan di Lombok. Hari itu, kami benar-benar diselimuti rasa takjub, senang, waspada, dan amat sangat bersyukur bisa menjadi saksi fenomena alam yang super keren itu.

Cukup sering kami menghabiskan waktu bersama di Danau Segara Anak, tetapi pendakian kali inilah yang paling istimewa. Sensasi atraksi vulkanik yang hanya beberapa ratus meter di depan kami membuat hati dan nyali selalu menciut dan mengecil.

Mencoba tetap tegar menikmati ancaman letusan Gunung Baru Jari Rinjani, 8 November 2015.

Mencoba tetap tegar menikmati ancaman letusan Gunung Baru Jari Rinjani, 8 November 2015.

Lagi-lagi, kicauan burung-burung gunung membuat kami tenang. Malangnya, ada dua atau empat ekor merpati terlihat gelisah dan terbang liar di antara cemara. ‘’Itu burung dara (merpati) yang sengaja di lepas dalam upacara ritual mulang pekeleman,’’ kata Amak Antok yang mengaku sering mengantar tamu untuk ritual tersebut.

Selain merpati, tiga ekor monyet besar dan satu bayi monyet menghampiri kami di danau yang sepi. Dan baru kali ini, kami menikmati danau tanpa rekan pendaki dari tim lain.

Kian sore, air danau kian meluap. Sehemat kami, setiap empat jam, Danau Segara Anak meluap sekitar dua meter. Bibir danau sudah hampir menghabisi areal tepian yang biasa dipakai mendirikan tenda. Bebatuan dan pijar lava pun sudah terdengar dan terlihat menyentuh sisi Batu Jajar, lereng utara Gunung Baru Jari.

Peningkatan suhu ekstrim air danau pun membuat ikan-ikan mujaer dan karper menepi ke utara danau. Seekor elang yang melintas tenang di atas danau juga membuat hati kami ikut tenang.

Saya coba bermalas-malasan di atas hamuk biru kesayangan. Dalam 30 menit, dua kali saya terlelap. Tetapi, dua kali pula saya terperanjak kaget dan hampir jatuh. ‘’Benar, kita tidak bisa tidur di danau malam ini,’’ kata saya dalam hati.

Danau Segara Anak meluap diiringin peningkatan suhu danau yang mulai hangat. (photo: Apink Alkaff)

Danau Segara Anak meluap diiringin peningkatan suhu danau yang mulai hangat. (photo: Apink Alkaff)

Mulai pukul 16.00 WITA, suara ledakan Gunung Baru Jari kian menggelegar. Jilatan-jilatan api yang menyemburkan pijar lava semakin mulai terlihat terang. Dan ketika matahari benar-benar pulang, semburan api yang menjulang ke angkasa membuat kami mulai bimbang. Ledakan-ledakan dahsyat yang memantul di great wall puncak Rinjani dan terjalnya dinding Sangkarean terjadi hampir setiap lima menit.

Diantara konser alam maha dahsyat itu, sempat kami menggelar gala diner ala gunung. Ikan mujaer bakar, sayur ikan mujaer, daging abon, dan sambel kembang kuning ala Suroboyoan menjadi menu makam malam.

Meski sambel gunungnya nyengat di lidah, sudah barang tentu, itu bukan makan malam yang nyaman, apalagi menenangkan. Karena menyaksikan konser alam dan mengabadikan setiap momen jauh lebih nikmat ketimbang mengisi perut di tengah ledakan dan kilatan pijar lava yang seolah-olah kian mendekat.

Lewat pukul 20.00 malam, kami memutuskan untuk mengepak semua peralatan. Delapan jam menyaksikan fenomena alam Gunung Rinjani terasa cukup buat kami. Proses packing kali ini lebih cepat dari biasanya. Dalam sekejap, kami sudah berdiri dan membentuk melingkaran sederhana untuk berdoa bersama.

. ‘’Semoga, kita selamat dalam perjalanan pulang. Semoga perjalanan ini mendapat ridho Allah SWT dan semoga perjalanan ini bisa memberikan manfaat untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Berdoa mulai,’’ kata Haji Nasri Afif memimpin doa.(*)

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
  • Mahmud

    menantang bahaya, masih saja berseliweran tepi danau, sunguh beresiko! bego banget!

  • NO NAME

    Semua jalur gunung di Rinjani ditutup tapi masih aja dinaikin ini sama aja lewat jalur ga resmi, bisa dapet black list itu mereka