Aktivitas wisatawan asing di Gli Air, Pemenang, Lombok Utara, NTB.

Tujuh Hari Rinjani Erupsi, BIL Rugi Rp 1,26 Miliar – UTARAKITA

MATARAM — Erupsi Gunung Baru Jari, Rinjani yang terjadi dalam seminggu terakhir mulai mengganggu sektor pariwisata NTB. Selain pelaku usaha wisata perhotelan, PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok (BIL) juga menderita kerugian akibat dampak penutupan operasional penerbangan selama hampir tujuh hari sejak Gunung Baru Jari meletus. Total selama seminggu penerbangan ditutup karena erupsi Gunung Baru Jari ini, Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) mengalami kerugian sekitar Rp 1,26 miliar.

“Erupsi Gunung Baru Jari berdampak cukup besar dan memukul sektor kepariwisataan kita (NTB). Dalam dua bulan ini (November – Desember) semua agenda MICE yang rencananya akan berlangsung di Lombok, akhirnya batal dilaksanakan. Untuk MICE ini, tentu saja city hotel yang paling menderita,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, HL Moh. Faozal, Senin (9/11) lalu.

Akibat penutupan penerbangan dari dan ke Lombok sambungnya, paket-paket tour yang telah dibeli para wisatawan juga batal. Tentu saja kerugian yang diderita juga tidak sedikit. “Ini adalah kejadian luar biasa, tentu saja tidak bisa kita hindari. Dari yang saya dengar, jumlah tamu yang menginap di hotel turun drastis sampai 50 persen,” ujarnya.

Faozal menduga, ada beberapa kegiatan yang bisa di jadwal ulang, seperti pesanan paket-paket tour yang ditunda hingga bencana letusan Gunung Baru Jari mereda, dan memungkinkan pesawat untuk terbang kembali dari dan menuju BIL.

“Tujuh hari penutupan BIL, dari 26 kali penerbangan yang ada, estimasi angka wisatawan yang batal berkunjung ke Lombok ada sekitar 2000-an wisatawan. Dalam seminggu, ada sekurangnya 14 ribu wisatawan yang tidak jadi berkunjung ke Lombok. Jumlah ini kalau dinominalkan tentu sangat besar angkanya,” papar Faozal.

Senada, Kepala PT Angkasa Pura I BIL, Pujiono, ketika dikonfirmasi Wartawan terkait dampak penutupan operasional BIL akibat erupsi Gunung Baru Jari, juga mengaku kalau pihaknya banyak menderita kerugian. Sebagai gambaran terangnya, setiap hari rata-rata ada 4000 penumpang yang datang ke Lombok melalui pintu BIL. Dikalikan tujuh hari penutupan BIL, itu sama dengan 28.000 penumpang. Kemudian angka itu dikalikan Rp.45 ribu untuk airport tax masing-masing penumpang. ‘’Sehingga kerugian BIL dari sisi pemasukan airport tax saja sudah mencapai Rp. 1,26 milyar,” tutur Pujiono.

Sedangkan Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Reza Bovier, menyampaikan sejak BIL ditutup beroperasional hingga 10 November 2015 (hari ini), itupun baru perkiraan sementara, belum kalau terus erupsi, bisa terus diperpanjang penutupannya. tingkat hunian hotel-hotel di Kota Mataram hanya sebesar 21 persen saja, atau total kamar terisi hanya sebanyak 300 kamar saja. “Gak bisa begini terus dong. Yang punya otoritas harus berbuat sesuatu. Jangan diam saja,” pinta Reza.

Masalahnya sambung Reza, di Kota Mataram ini tidak ada apa-apa yang bisa diandalkan untuk mengisi kamar hotel, kecuali ada tamu yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti MICE, dan lainnya. Dan itu hanya bisa terjadi kalau operasional BIL kembali normal. “Paling tidak ada semacam kebijakan pemberian insentif, seperti penurunan tarif penyeberangan ferry, dan lainnya. Sehingga roda perekonomian masyarakat bisa terus berputar,” kata Reza.

“Kita harus punya tindakan yang telah dipersiapkan, untuk mengatasi berbagai kemungkinan yang terjadi, karena dibelakang para karyawan perhotelan juga ada keluarga yang harus dihidupi. Potensi (kepariwisataan) kita besar, tap jangan diam dan menunggu erupsi (Gunung Baru Jari) berakhir,” pungkas Reza.

Hal senada juga disampaikan anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Lalu Hasanudin. Menurutnya, erupsi Gunung Baru Jari ini memang cukup mengganggu sektor pariwisata NTB. Kendati demikian, Hasan optimis situasi bencana ini akan segera pulih seiring normalnya status Gunung Rinjani. ”Jika Rinjani sudah normal, saya yakin tingkat kunjungan wisatawan ke NTB akan segera normal juga. (Apink Alkaff)

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com