Aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari Rinjani 8 November 2015. (photo: Apink Alkaff)

November Jingga, Danau Segara Anak Dipenuhi Lalat – UTARAKITA

Angle Lain Letusan Gunung Baru Jari Rinjani (1)

Hari itu, 23 dan 24 Oktober 2015 matahari berwarna orange. Warna yang kemudian menjadi warna lengan kaos pertama Pawang Rinjani. Hujan tiba-tiba mengguyur. Perubahan iklim terasa labil dan aneh. Hanya selang dua hari kemudian, 25 Oktober 2015, Gunung Baru Jari meletus. Ratusan pendaki terjebak di Danau Segara Anak. Gunung Baru Jari Rinjani pun menyedot perhatian dunia. Berikut sisi lain letusan Gunung Baru Jari Rinjani.

Suasana Danau Segara Anak saat Gunung Baru Jari meletus. 8 November 2015.

Suasana Danau Segara Anak saat Gunung Baru Jari meletus. 8 November 2015.

Oleh: Apink Alkaff

Di tempat lain, pawang diartikan pengendali, penjaga, atau orang yang ahli di satu bidang tertentu. Seperti, pawang hujan atau pawang ular. Tetapi, masyarakat adat Lombok Utara memaknai kata pawang sebagai kawasan hutan adat yang dijaga bersama oleh sekelompok masyarakat adat tertentu. Seperti, Pawang Tenun, Pawang Timpas, dan Pawang Mandala.

Siang 25 Oktober 2015, dunia maya mulai dikejutkan kabar Rinjani meletus. Kami yang tengah asik menyusun konsep kerja Pawang Rinjani Lombok Utara juga terkejut. Tetapi kami mengabaikannya. Kami sadar, itu informasi yang amat sangat penting untuk diketahui halayak ramai. Tetapi, kami tidak bisa berbuat banyak, selain berdoa dalam hati. Semoga aktivitas vulkanik sejak Juni 1994, 2004, 2008, dan Agustus 2015 ini tidak lebih seram dari sebelumnya.

Di mata sebagian masyarakat adat Senaru, aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari ini dilihat sebagai cara Dewi Anjani menata kembali rumahnya. Sebagian masyarakat adat melihat sebagai respon alam terhadap kecongkakan para pendaki yang berbuat tidak senonoh di kawasan Gunung Rinjani.

Namun, sebagian lagi melihat aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari ini sebagai pertanda alam ditabuhnya genderang politik dan perebutan kekuasaan yang terlihat kian membosankan. Di saat kita asik mengonsumsi kabar dan intrik politik pilkada serentak, saat itulah Rinjani mengejutkan kita. Bahwa isu lingkungan jangan diabaikan. Bahwa isu lingkungan juga harus menjadi sudut pandang penting para politisi sebelum duduk di kursi kekuasaan. Bahwa Rinjani yang bersiap masuk pentas kecantikan dunia ini juga harus mendapat perhatian lebih. Bahwa isu pelestarian lingkungan tidak kalah urgennya dengan isu saham PT Freeport.

Rumput-rumput yang terjebak luapan air Danau Segara Anak. (photo: Apink Alkaff)

Rumput-rumput yang terjebak luapan air Danau Segara Anak. (photo: Apink Alkaff)

Kami sebagai anak-anak alam yang dibesarkan Rinjani juga sempat lengah akan isu lingkungan tersebut. Karena kami terlena dengan urusan perut dan isu politik yang tengah menjadi trending topik. Syukurnya, Rinjani cepat menyadarkan kita.

Empat atau lima hari sebelum Gunung Baru Jari menyemburkan asap dan api, kami dari Utarakita, Federasi Panjat Tebing Indonesia Lombok Utara, dan Pawang Rinjani memang sudah merencanakan pendakian bareng. Selain karena kerinduan mendaki yang sudah karatan, kami juga ingin melakukan pemetaan jalur lain ke Danau Segara Anak. Kami berharap, ada jalur alternatif lain selain Senaru dan Sembalun.

Tadinya, kami bermaksud melakukan pendakian dari jalur Desa Santong, Kayangan, Lombok Utara. Konon, jalur Santong ini menyuguhkan lima air terjun dengan sensasi hutan hujan tropis dan savana.

Sempat rencana pendakian ini akan kami alihkan menjadi piknik biasa dari Sembalun, Torean, dan Senaru. Tetapi, karena Rinjani benar-benar meningkatkan aktivitasnya dari status waspada menjadi siaga dua, kami pun mengambil keputusan untuk benar-benar naik gunung.

Jalur Torean, Desa Loloan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara yang akhirnya kami pilih. Jaraknya hanya sekitar 55 kilometer dari Sekretariat Pawang Rinjani, Tanjung Bunga, Lombok Utara. Karena logistik kami cukup banyak, sayembara internal mendaki pun sempat kami buka untuk para pawang. Sayangnya, rencana yang bagi sebagian orang dianggap tidak sehat itu kurang diminati. Alhasil, yang memilih melakukan pendakian saat Rinjani Siaga Dua ini hanya empat orang. Supaq Fahmi, Apink Alkaff, Tony Lombok Vertical, dan Muhammad Nasri Afif (kamerawan TVRI).

Oktober Jingga.Danau Segara Anak Rinjani.

Oktober Jingga.Danau Segara Anak Rinjani.

Jelas terlihat papan pemberitahuan di pintu masuk Desa Loloan menuju Torean. Dilarang Mendaki, Berbahaya. Demikian kira-kira bunyi amar pemberitahuan di simpang tiga jalan menuju Dusun Torean.

Sekitar pukul 18.00 Wita, mobil Feroza bertuliskan www.lombokvertical.com itu tiba di ujung halaman masjid Dusun Torean. Adalah rumah Amaq Susi, sepupu Tony asal Gontoran Turida, Mataram yang menjadi tujuan kami.

Jumat malam itu kami menginap di berugak Amak Susi diiringi gemuruh Gunung Bari Jari yang tidak ada hentinya. Syukurnya, Amaq Antok yang mengetahui maksud kedatangan kami bersedia menemani menjadi porter sekaligus guide kami. Kami sepakat untuk membayar Rp 200 ribu per malam untuk jasa porter Torean-Danau Segara Anak.

Sampah dan coretan orang-orang katrok dan kampungan di batu-batu membuat keindahan jalur Torean ternoda. Sampah plastik, kaleng, dan beling terlihat di sepanjang jalur. ‘’Sepertinya, ritual mulang pekelem yang digelar setiap tahun di Gunung Rinjani ini harus memperbanyak tim sweeper atau tim kebersihan yang menyapu jalur saat pendakian bersama itu digelar. Tim kebersihan ini bisa dilakukan dengan melibatkan warga di setiap pintu pendakian atau melibatkan dinas kebersihan pemerintah daerah setempat,’’ gumamku kepada Amaq Antok yang sering menjadi porter acara mulang pekelem itu.

Kotornya kawasan Rinjani juga sangat terasa di kawasan Danau Segara Anak. Di November yang jingga itu, jutaan lalat, bahkan mungkin miliaran lalat memenuhi tepi utara Danau Segara Anak. Dan yang namanya lalat, biasanya hadir jika ada sesuatu yang anyir dan dekil. Serbuan lalat sempat sangat mengganggku kami. Tetapi setelah perapian kami hidup, serangan lalat gunung ini mulai mereda.  (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com