Tony Lombok Vertical dengan latar letusan Gunung Baru Jari Rinjani, 8 November 2015. (photo: Apink Alkaff)

Belasan Pendaki Tradisional Lombok Datang Bawa Senjata Pusaka – UTARAKITA

Angle Lain Letusan Gunung Baru Jari (2)

Soal menangani kebersihan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani memang selalu menjadi perdebatan hangat di kalangan pegiat alam maupun pelaku wisata. Kami dari Pawang Rinjani sepakat dengan kawan-kawan pegiat alam dan pecinta Rinjani lain bahwa tidak boleh ada lagi tempat sampah di Taman Nasional Gunung Rinjani. Tidak boleh ada lagi shelter atau pos-pos yang selalu dijarah sebagai kayu bakar. Apalagi, WC tempat buang air, tidak perlu ada lagi di kawasan Rinjani.

Aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari Rinjani 8 November 2015. (photo: Apink Alkaff)

Aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari Rinjani 8 November 2015. (photo: Apink Alkaff)

Apink Alkaff – UTARAKITA.COM

Bawa kembali sampahmu kawan. Kelola kotoranmu sendiri. Jika tidak tau cara mengelola kotoran, belajarnya dari alam. Belajarlah dari monyet atau kijang yang kebetulan anda temui di sepanjang jalur pendakian.

Di Jalur Torean, memang tidak ada tempat sampah atau WC. Tetapi jalur ini juga tidak kalah joroknya dengan jalur lain. Intinya, kesadaran membawa kembali sampah masing-masing harus benar-benar ditegakkan.

Kini, setiap pos peristirahatan dipenuhi sampah plastik, beling, dan kaleng. Bahkan, belasan sampah sandal, celana, baju dibuang begitu saja di sepanjang jalur pendakian Torean-Danau Segara Anak. Miris.

Padahal, jalur alternatif yang satu ini sungguh potensial dikembangkan Pemerintah Daerah Lombok Utara sebagai salah satu pintu pendakian resmi. Selain berlimpah air sulfur hangat, jalur ini lebih singkat ketimbang jalur lain menuju Danau Segara Anak.

Tony Lombok Vertical dan porter Torean, Amak Antok.

Tony Lombok Vertical dan porter Torean, Amak Antok.

Jika anda cukup kuat, anda bisa menempuh jalur ini delapan jam dari Dusun Torean ke Danau Segara Anak. Artinya, jalur pendakian ini sangat cocok untuk wisatawan yang tidak punya waktu banyak berlibur di Lombok.

Pendakian di saat Gunung Baru Jari Rinjani menyemburkan api dan debu vulkanik so pasti memberikan sensasi dan pengalaman unik. Hari itu Minggu 8 November 2015, bertepatan dengan laga Valentino Rosi dan Lorenzo yang memperebutkan podium juara GP.

Segala aktivitas vulkanik Gunung Baru Jari dan respon alam telah memberikan pembelajaran berharga yang susah dijabarkan kata-kata. Intinya, hanya di Rinjani kita bisa melihat suguhan fenomena alam dahsyat dan langka seperti ini.

Serunya, selain tim utarakita.com, banyak warga Lombok lain yang penasaran dengan aktivitas vulkanik ini. Ahli vulkanologi Indonesia Heryadi Rachmat juga bela-belain datang dengan biaya sendiri dari Bandung ke Lombok hanya untuk menjadi saksi meletusnya Gunung Baru Jari. Selain itu, tujuh pemuda asal Sakra, Lombok Timur dan belasan pendaki tradisional asal Lombok Tengah juga terpanggil untuk hadir di Danau Segara Anak.

Tim Utarakita bertemu dengan dua rombongan ini tepat di celah Jurang Jaran Kurus, Lembah Sangkareang. Tepatnya, di depan air terjun Penimbung di bawah tebing terjal Sangkareang.

Jurang Jaran Kurus, Lembah Sangkareang, Rinjani. (photo: Apink Alkaff)

Jurang Jaran Kurus, Lembah Sangkareang, Rinjani. (photo: Apink Alkaff)

Ke tujuh pemuda asal Lombok Timur itu mengaku datang ke Danau Segara Anak hanya untuk menjadi saksi fenomena alam tersebut. Beberapa diantaranya membawa kamera dan music player di telinga. Sedangkan sekitar 14 pendaki asal Lombok Tengah itu datang membawa lebih dari seratus senjata pusaka untuk di uji keasliannya di Segara Muncar, Gunung Baru Jari. Satu dari pendaki tradisional tersebut ada yang perempuan berusia sekitar 33 tahun.

‘’Insyaallah kami akan menginap di Segara Muncar Gunung Baru Jari,’’ kata salah seorang pendaki asal Bon Jeruk yang mengenakan baju, sarung, dan sapuk (ikat kepala) hitam sambil tersenyum.

Setiap pendaki tradisional ini membawa paling tidak delapan sampai 10 senjata pusaka berbagai jenis dan ukuran. Tujuan hampir sama, ‘’memandikan’’ senjata-senjata itu di Segara Muncar Gunung Baru. ‘’Kalau saya, akan pergi ke Puncak Gunung Baru,’’ kata salah seorang pendaki tradisional yang dipanggil haji oleh rekannya yang lain.

Sayangnya, obrolan singkat di tebing Jurang Jaran Kurus itu tidak bisa diabadikan lantaran semua baterai kamera habis. ‘’Memang, kalau Gunung Baru Jari meletus, banyak pendaki tradisional yang datang menguji senjata pusaka,’’ timpal Amaq Antok.

Sejurus kemudian, rombangan kami tiba di satu-satunya pohon mangga di hutan lindung jalur Torean tersebut. ‘’Ketika naik, kita kena hujan di pohon mangga ini. Sekarang pun kita kembali kena hujan disini,’’ ungkap Supaq ketika perjalanan kami mulai diguyur hutan.

‘’Memohon turunnya hujan yang menyirami panasnya Gunung Baru Jari memang menjadi salah satu niat saya ikut melakukan pendakian ini bersama bapak-bapak,’’ tandas Amaq Antok ketika hujan benar-benar mengguyur kami sampai perkampungan Torean.(*)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com