H Djohan Sjamsu dan H Holidi Kholil diantara gadis-gadis suku Bayan dengan kostum jong beberapa waktu silam. (photo: Apink Alkaff)

Menengok Ritual Maulid Adat Suku Bayan – UTARAKITA

Semua Tugas Tertentu Dilakukan Berdasarkan Garis Keturunan

Dari tahun ketahun, prosesi perayaan maulid adat Bayan selalu tertata rapi dalam aturan tidak tertulis yang ditaati seluruh masyarakat adat.Untuk tugas-tugas tertentu, dilakukan berdasarkan garis keturunan. Mari kita menengok sejenak ritual maulid adat Suku Bayan, Lombok Utara yang akan digelar 25 – 26 Desember 2015 mendatang.

Generasi muda Suku Bayan berpose di bawah pohon beringin di depan kampu Karang Bajo, Bayan. (dok: Apink Alkaff)

Generasi muda Suku Bayan berpose di bawah pohon beringin di depan kampu Karang Bajo, Bayan. (dok: Apink Alkaff)

APINK ALKAFF – UTARAKITA.COM

Perayaan maulid adat merupakan budaya dan tradisi warga Bayan, khususnya pengangut paham wetu telu secara turun temurun. Diperkirakan, ritual adat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ini sudah berusia lebih dari 350 tahun. Atau paling tidak seusia dengan dibangun Masjid Kuno Bayan Beleq yang konon dibangun sekitar abad 16.

Pada malam itu, hampir semua warga sekitar Bayan keluar rumah. Masyarakat adat yang terlibat dalam prosesi maulid adat ini mengenakan pakaian adat khas Bayan. Kaum lelaki menggunakan kereng abang (kain merah saga) dibalut rejasa (kain hitam) yang melingkar dipinggang. Sedangkan kaum hawa, menggunakan jong, pakaian khas adat suku Bayan bermotiv kotak dengan warna-warna mencolok. Lengkap dengan kain tenun lancip yang menghiasi kepalanya.

Dalam pakaian adat khas Bayan, para lelaki tidak mengenakan pakaian dalam. Sedangkan kaum perempuan menutup badannya hingga dada dengan kain rajutan tangan yang juga merupakan karya-karya tangan warga suku Bayan.

Perumpuan suku Bayan yang datang membawa padi ikat untuk di sucikan di Kampu Karang Bajo. (dok: apink alkaff)

Perumpuan suku Bayan yang datang membawa padi ikat untuk di sucikan di Kampu Karang Bajo. (dok: apink alkaff)

Sesuai aturan, perayaan maulid adat ini diawali dengan ritual menurunkan gerantung atau seperangkat alat musik gamelan. Gerantung yang usianya diperkirakan sama dengan masjid kuno ini juga disimpan di rumah khusus yang disebut bale beleq. Lokasi bale beleq ini ada di Bayan Barat.

Penyimpanannya pun harus dilakukan oleh orang tertentu sesuai garis keturunannya. Pun halnya dengan pemangku adat yang bertugas menurunkan gerantung dari tempat penyimpanannya atau para pemainnya juga ditentukan berdasarkan garis keturunan.

Prosesi penurunan gerantung dilakukan dalam ritual kecil lengkap pemotongan ayam persembahan. Ketika gerantung ini dimainkan, berarti ritual perayaan maulid adat resmi digelar.

Selanjutnya, gerantung ini dijemput para tuak lokak (tetua adat) Dusun Karang Bajo yang letaknya sekitar 200 meter dari Dusun Bayan Barat. Di Karang Bajo, warga sudah berkumpul menunggu datangnya gerantung sambil mempersiapkan segala keperluan maulid adat.

Seperti halnya sebuah gawe bersama atau pesta bersama, warga Karang Bajo datang dalam formasi berbaris sambil membawa berbagai keperluan.Ada yang membawa padi bulu, ayam, beras, dan berbagai bahan pokok lainnya.

Sebelum dipergunakan, terlebih dahulu bahan-bahan pokok ini dimasukkan untuk ‘’disucikan’’ di dalam kampu (komplek utama rumah adat suku Bayan). Pemangku adat yang berhak mensucikan bahan-bahan pokok ini juga dilakukan berdasarkan garis keturunan juga.

Alat musik gerantung dihadirkan untuk mengiringi prosesi ritual maulid adat suku Bayan, Lombok Utara. (dok: Apink Alkaff)

Alat musik gerantung dihadirkan untuk mengiringi prosesi ritual maulid adat suku Bayan, Lombok Utara. (dok: Apink Alkaff)

Nah, pada saat inilah, warga Karang Bajo yang saur ucap atau bernazar, akan membayar nazarnya. Benda-benda atau barang yang dinazarkan ini dibawa ke dalam kampu bersamaan dengan bahan pokok tadi untuk disucikan.

Setelah dimasukkan kampu, semua bahan pokok tadi siap diolah.Namun, bahan-bahan pokok tadi tidak serta merta langsung diproses. Terlebih dulu mereka menunggu kedatangan gerantung yang dijemput tuak lokak Karang Bajo ke Bayan Barat. Begitu rombongan gerantung tiba di dalam kampu, barulah warga mulai memproses bahan pokok tadi.

Sebelum diproses, beras-beras tadi dicuci terlebih dahulu di mata air yang sudah ditentukan. Tempat bisok menik atau mencuci beras ini pun sudah ditentukan secara turun temurun.

Seiring alunan musik gerantung, warga mulai menumbuk padi.Kaum laki-laki menumbuk padi bulu dengan sebatang bambu segar yang berfungsi sebagai alu. Bambu-bambu yang berukuran sekitar tiga meter ini digunakan untuk merontokkan padi bulu yang diletakkan dalam lesung yang juga berusia ratusan tahun.

05Tidak sembarang orang bisa terlibat dalam proses ini. Kaum laki maupun perempuan yang terlibat dalam semua proses mengolah bahan pokok tadi harus menggunakan pakaian adat lengkap. Bagi kaum perempuan yang terlibat proses diwajibkan menggunakan pakaian adat lengkap dengan penutup kepala yang disebut jong. Pun halnya dengan para laki-laki, juga harus mengenakan sapuk atau bongot dan kain adat khusus yang berwarna merah dan hitam tadi.

Irama penumbukan padi ini pun harus sesuai ketukan. Jika ada ketukan yang salah, salah seorang tetua adat akan memberikan teguran. Alhasil, semua dilakukan berdasarkan aturan turun temurun dan sangat ditaati.

Secara terpisah, Anggota Penentu Kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB Lalu Hasanudin menilai, ritual maulid adat ini merupakan salah satu budaya Lombok yang harus mendapat perhatian lebih. Selain unik kata Hasan, ritual maulid adat ini penuh pesan-pesan yang syarat makna. ”Ke depan, kita harus bisa mengemas ritual maulid adat ini menjadi salah satu even budaya yang lebih baik,” ungkapnya. (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com