Maulid Adat Suku Bayan. (photo: Apink Alkaff)

Para Pepadu Adu Ketangkasan, Remaja Cari Jodoh – UTARAKITA

Menengok Ritual Maulid Adat Suku Bayan (2-habis)

Meski puncak acara maulid adat digelar saat mengiring praja mulud, namun puncak hiburan dan puncak keramaian adat pada malam menjelang maulid adat.Malam itu, para pepadu (pemain presean) mengadu ketangkasan, sedangkan para remaja berkesempatan mencari jodoh.

Muda-mudi Bayan, Lombok Utara yang mengikuti ritual maulid adat. (photo; Apink Alkaff)

Muda-mudi Bayan, Lombok Utara yang mengikuti ritual maulid adat. (photo; Apink Alkaff)

APINK ALKAFF – UTARAKITA

Begitu malam tiba, pusat keramaian yang tadinya terkonsentrasi di Dusun Karang Bajo mulai bergeser. Seiring beranjaknya malam, keramaian masyarakat adat mulai tertuju di sekitar Masjid Kuno Bayan Beleq.

Tanpa komando atau panggilan khusus, beberapa tokoh adat Bayan mulai keluar dari dusun masing-masing. Mereka datang membawa keperluan ritual sesuai tugas dan peran. Dan beberapa tugas itu merupakan tugas turun-temurun yang dilakoni berdasarkan garis keturunan.

Semua peran penting memang sudah ditentukan dan memiliki aturan tidak tertulis yang sangat ditaati. Tak heran, semua tugas dalam ritual tahunan ini berjalan tanpa komando.

Sekitar pukul 22.00 Wita, sejumlah pemangku adat sudah berkumpul di dalam Masjid Kuno Bayan Beleq. Yang bertugas memasang kekelat langsung membentangkan tali di dalam masjid. Sementara para penghulu santri berkumpul dan duduk bersama ketip, mudim, dan lebai.

Masyarakat adat Bayan datang ke Kampu Karang Bajo untuk membayar nazar. (photo: Apink Alkaff)

Masyarakat adat Bayan datang ke Kampu Karang Bajo untuk membayar nazar. (photo: Apink Alkaff)

Saat itu, sejumlah pejabat dipersilahkan memasuki Masjid Kuno. Sebelumnya, para pejabat tadi sempat dijamu di berugak agung di dalam Kampu Bayan Timur.

Setelah bagian dalam masjid dipenuhi atap kain putih setinggi kurang dari 1,5 meter, dimulailah ritual pembuka yang berupa doa-doa. Selanjutnya, dua pepadu dari Karang Bajo dan Pelawangan meraih tameng semetian (presean) dan langsung saling gebuk. ‘’Pembukaan presean ini memang harus dibuka oleh keluarga dari melokak Pelawangan dan Karang Bajo,’’ jelas Raden Gedarip, salah seorang tokoh adat Bayan.

Tugas membuka presean ini juga dibebankan berdasarkan garis keturunan. Artinya, hanya keturunan tertentu dari Karang Bajo dan Pelawangan yang dibolehkan memulai adu ketangkasan presean. Pun halnya tugas penting dan peran penting lain juga dilakukan berdasarkan garis keturunan.

Semetian atau presean malam maulid adat di halaman Masjid kuno Bayan Belek, Lombok Utara. (photo: Apink Alkaff)

Semetian atau presean malam maulid adat di halaman Masjid kuno Bayan Belek, Lombok Utara. (photo: Apink Alkaff)

Serunya, presean malam di depan Masjid Kuno Bayan Beleq ini digelar saat bulan tepat di atas kepala. Maklum, maulid adat Bayan ini memang selalu digelar saat bulan purnama. Kalau pun ada lampu penerangan, kapasitasnya hanya secukupnya.

Lantas apa hubungan presean ini dengan hari kelahiran Nabi Muhammad? Menurut Gedarip, presean ini lebih bersifat hiburan yang diharapkan mampu mengumpulkan masa. Karena pada zaman dulu hiburannya hanya presean, hingga saat ini presean tetap menjadi hiburan utama maulid adat.

Menariknya lagi, presean bagi masyarakat adat Bayan ini bukan sebagai ajang adu ilmu atau ajang menyombongkan diri. Karena dalam arena ini, penggunaan bebadong atau ilmu pendukung sangat dilarang. Bahkan, penggunaan bebadong diyakini dapat berdampak buruk kepada orang yang bersangkutan.

Sebagain besar para jawara atau pepadu yang hadir dalam presean tersebut pantang pulang sebelum bertanding. Konon, darah yang mengalir dari kepala saat semetian itu juga diyakini bisa menjadi azimat tertentu.

Gadis Bayan pada malam maulid adat beberapa waktu lalu. (photo: Apink Alkaff)

Gadis Bayan pada malam maulid adat beberapa waktu lalu. (photo: Apink Alkaff)

Alhasil, semakin bulan condong ke langit barat, jumlah pepadu (petarung presean) yang datang semakin bertambah. Hampir semua penonton yang membentuk lingkaran itu mengenakan sapuk dan pakaian adat khas suku Bayan. Artinya, semua siap bertarung dan melayani tantangan lawan.

Tak heran, sekali pekembar (juri) para pepadu menunjuk lawan, jarang ada yang menolak untuk bertarung. Semakin malam, saling semetian dengan senjata rotan dan tameng kulit ini semakin seru.

Biasanya, pada malam itu kaum muda-mudi asik duduk di sudut sekitar kawasan masjid kuno sambil menyaksikan pertaruangan semetian. Tak jarang, momen itu kerap dimanfaatkan untuk mencari jodoh. Maklum, pada malam itu, gadis-gadis suku Bayan mengikuti semua kegiatan ritual sampai dini hari. Jangan heran, jika para pemuda menjadi kesempatan itu sebagai peluang untuk mencari jodoh. Selamat berburu. (*)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda