Fitri Agustina, dalam satu pendakian di Ranu Kumbolo, Semeru. (photo: dok Fitri)

Ranu Kumbolo dan Legenda Pendakian Kuno – UTARAKITA

Keindahan alam Ranu Kumbolo menghipnotis setiap mata pendaki Gunung Semeru. Sudah pasti, spot telaga yang satu ini, akan selalu dijadikan basecamp mereka sebelum kembali melanjutkan pendakian. Ranu kumbolo merupakan surga bagi para pendaki.

Satu ketika di Ranu Kumbolo, Semeru, bersama Tim Pendaki Mega Universitas Tarumanegara.

Satu ketika di Ranu Kumbolo, Semeru, bersama Tim Pendaki Mega Universitas Tarumanegara.

Setidaknya, bisa terlihat dari kontur telaga yang punya luas 14 Ha di lereng Semeru ini. Airnya yang jika dilihat dari atas bukit, berwarna biru bercampur kehijauan. Saat matahari terbit, pendaran sinarnya menembus celah dua buah bukit yang kemudian berjatuhan di segala sudut telaga nan eksotis ini. Pantulan sinar matahari hangat, berbaur udara dingin khas pegunungan, adalah sensasi tersendiri saat pagi hari. Sisa-sisa embun masih membasahi setiap hijauan yang tumbuh subur di sepanjang tatapan mata.

Begitu juga dengan kabut yang masih berada di titik sejajar dengan para pendaki yang sedang bermukim di tepiannya. Sebuah pemandangan pagi hari yang spektakuler. Ranu Kumbolo berada di ketinggian 2400 mdpl. Letaknya sekitar 10,5 km dari desa Ranu Pane.

Telaga ini menjadi bagian tak terpisahkan dalam dunia pendakian di Gunung Semeru. Bicara tentang Gunung Semeru, tak lengkap bila tak berbicara mitologi gunung itu sendiri. Dahulu kala, Semeru adalah bagian dari Gunung Meru, di Jambudwipa atau India. Saat itu, para dewa bergotong royong memindahkan sebagian puncak Gunung Meru ke Pulau Jawadwipa. Mereka beranggapan bahwa posisi Pulau Jawadwipa tidaklah stabil; terombang-ambing oleh lautan.

Pos Kali Mati, Gunung Semeru.

Pos Kali Mati, Gunung Semeru.

Saat memindahkan puncak Gunung Meru itulah, beberapa bagiannya tercecer hingga membentuk gugusan gunung di Jawa Barat, Tengah, hingga Timur. Bagian yang paling besar, jatuh dan membentuk Gunung Semeru. Lalu, puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa dan terbentuklah Gunung Pawitra atau Penanggungan. Menarik disimak, dari sekian gunung, ada satu gunung yang dianggap sebagai replika Gunung Semeru. Nama gunung itu, yaitu Gunung Penanggungan (1659 mdpl).

Antara keduanya, terdapat kemiripan, yaitu pada bentuk kerucut puncaknya. Kedua gunung itu juga dianggap suci oleh umat Hindu-Budha. Sejumlah situs kuno seperti candi, yang terletak di sekitar Gunung Penanggungan, ada yang dibangun dengan arah hadap khusus ke Gunung Penanggungan. Seperti Candi Jawi, yang dibangun oleh Raja Singasari terakhir, yaitu Prabu Kertanegara. Selain itu, di lereng Penanggungan, banyak bertebaran candi yang dibangun sebagai tempat penyembahan dan pemujaan.

Ranu Kumbolo, Semeru, Jawa Timur.

Ranu Kumbolo, Semeru, Jawa Timur.

Ada pula artefak, batu prasasti, altar pemujaan, punden berundak, dan ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk. Ranu kumbolo, di satu sisi, adalah sebuah tantangan. Sebab untuk mencapainya, butuh kesiapan fisik dan mental prima. Sisi lain, Ranu Kumbolo, juga bukan tanpa ada kisah bersejarah.

Kisah bersejarah tersebut mulai terbentuk ratusan tahun lampau dan bertautan dengan pendakian kala itu. Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja dari Kerajaan Kadiri, bernama Prabu Kameswara. Dia memerintah sekitar tahun 1180-1190-an, dengan bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa
Suatu hari, dia melakukan perjalanan suci atau yang disebut dengan Tirthrayata menuju Gunung Semeru. Jalur yang ditempuh, melalui Pasrujambe (nama sebuah kecamatan di Lumajang); sebuah jalur pendakian kuno dan berbeda dengan sekarang yang dimulai dari Ranu Pane. Bukan tanpa tujuan Prabu Kameswara melakukan pendakian ke Semeru.

Gunung yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini, memang termasuk gunung yang disucikan. Begitu pula air yang terdapat di Ranu Kumbolo, mewujud sebagai air suci. Puncaknya yang bernama Mahameru, adalah tempat para dewa bersemayam.
Prabu Kameswara mendaki Semeru untuk bersemedi; mendekatkan diri pada Sang Hyang Pencipta alam semesta. Untuk menandai kedatangannya ke Semeru, Prabu Kameswara mengabadikannya ke dalam sebuah prasasti. Namanya Prasasti Ranu Kumbolo. Prasasti ini berada di tepian danaunya. Ada sebuah tulisan di batu prasasti tersebut, yaitu Ling Deva Mpu Kameswara Tirthayatra. Menurut sejarawan M.M. Sukarto Atmojo, tulisan yang berbahasa Jawa kuno tersebut, dapat diartikan bahwa ketika itu, Prabu Kameswara pernah melakukan kunjungan suci dengan mendaki Gunung Semeru. Angka tahun prasasti, masih menurut sang sejarawan, berkisar pada 1182 M.

Prasasti Prabu Kameswara pernah melakukan kunjungan suci dengan mendaki Gunung Semeru.

Prasasti Prabu Kameswara pernah melakukan kunjungan suci dengan mendaki Gunung Semeru.

Namun, amat disayangkan, saat saya bersama kedelapan rekan pendaki, berkunjung ke Ranu Kumbolo, 13-14 Oktober lalu, belum menemukan situs purba tersebut. Sehingga, sumber foto prasasti yang saya tampilkan di tulisan ini, bukanlah hasil bidikan saya. Ke depan, insya Allah, saya akan melakukan observasi langsung di tempat yang dikatakan sebagai jalur pendakian kuno di Pasrujambe. Seorang arkelog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, pada 2011 pernah mengunjungi daerah Pasrujambe, Lumajang. Di sana, dia menelusuri tempat-tempat yang (pada awalnya) diduga menyimpan berbagai peninggalan bersejarah. Dan, seperti dugaan, daerah Pasrujambe terbukti menyimpan banyak serpihan benda-benda kuno, seperti menhir, prasasti, maupun peralatan masyarakat sehari-hari pada zaman kuno. Ada pula penemuan beberapa batu tulis yang bercerita tentang perjalanan suci orang-orang Blambangan menuju Gunung Semeru. Salah satu prasasti itu tertulis Rabut Macan Petak yang mana ini merupakan nama dari kerajaan Macan Putih yang berada di Banyuwangi saat ini. Pada waktu itu, Lumajang ditengarai sudah berkembang menjadi area tujuan Sidhayatra atau perjalanan suci.

Melalui Prasasti Ranu Kumbolo, kita bisa mengerti, sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang kita juga pendaki gunung. Apa yang mereka lakukan, merupakan bagian dari perjalanan spiritual menuju kesempurnaan diri. Suatu sikap agung yang lalu diperkuat dengan torehan prasasti atau yang sejenisnya, untuk mengenang misi perjalanan mereka. Dan, prasasti yang mereka tinggalkan, telah menjadi benda peninggalan yang sangat berarti bagi generasi kekinian. Terutama untuk menyingkap keadaan di masa itu

Apink Alkaf/Sumber: Kompasiana, kabarlumajang.net

 

 

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda