Nada di Lembah Murpadang.

Berbagi Sandal di Murpadang

Ismail dan Abdul Aziz berdiri dan tersenyum malu di samping kandang sapi milik bapaknya. Meski jarang melihat kehadiran kami, kedua bocah lima tahun asal Dusun Murpadang, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari ini langsung merapat mendekati kami. ‘’Foto saya, foto saya,’’ kata Ismail sambil merangkul erat sahabat kecilnya, Aziz.

Ismail dan Aziz riang berbagi sandal.

Ismail dan Aziz riang berbagi sandal.

Kedua pipi bocah lima tahun ini menempel menyambut bidikan kamera. Senyumnya kaku dan tulus. Sesekali keduanya tersipu. Namun, gelak tawa keduanya pecah ketika melihat wajahnya dilayar kamera.

Melihat foto diri memang selalu menyenangkan. ‘’Lagi, lagi. Foto saya lagi,’’ pinta Aziz mengulang pose barunya.

Kali ini, mereka ingin berpose sambil berjalan. Berjalan dengan cara berbagi sandal. Aziz mengenakan sandal kiri, dan Ismail memilih sandal kanan. Keduanya lantas berjalan sambil berpelukan. Mereka berusaha menyatukan langkah bersama. Gelak tawa keduanya pun terdengar riang diantara rimbun pohon melinjo.

Pertemuan dua kali Sungai Ninting.

Pertemuan dua kali Sungai Ninting.

Kebahagian yang memang sangat sederhana itu kerap menyambut kedatangan kami ketika berkunjung ke dusun terakhir dan teratas di kawasan Lombok Barat ini. Hamparan ribuan, bahkan jutaan pohon durian terlihat memenuhi aliran lembah Murpadang. Ujung Mupedjji dan lereng Gawah (hutan) Semerta tampak tertutup kabut dan memutuskan jarak pandang.

Inilah tempat dimana ilalang menari dan mendendangkan nyanyia alam. Inilah tempat dimana desau angin terdengar jelas. Inilah tempat dimana hulu Sungai Meninting bermula. Inilah tempat dimana dialog dengan lembah terasa nyata.

Inilah tempat bagi para pecinta diskusi sunyi. Tempat bagi jiwa-jiwa yang takut kehilangan keindahan alam negerinya.

Pertemuan dua sungai di hulu Sungai Ninting, Bukit Tinggi, Gunungsari, Lobar.

Pertemuan dua sungai di hulu Sungai Ninting, Bukit Tinggi, Gunungsari, Lobar.

Adalah tempat dimana raga dan hati dipertautkan dekapan lembah dan nyanyian sungai. ‘’Sejuk, damai, dan Indah,’’ kata kameraman TVRI, Haji Muhammad Nasri Afif menggambarkan pesona salah satu jajaran lembah-lembah Rinjani yang dipenuhi jutaan pohon durian dihadapannya.

Mencari sendiri durian jatuh di lembah miring juga memberikan sensasi lain. Menikmati segarnya air sadapan enau yang baru turun adalah satu keharusan. Kombinasi keduanya, makan durian di dorong air aren segar di lembah Murpadang memang sesuatu yang berbeda. ‘’Apakah memungkinkan jika malam ini kita menginap disini?’’ timpal Nasri yang mulai merasa cozzy menikmati pesona tersembunyi lembah Mupadang. (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com