Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan.(Photo by Robertus Pudyanto/Getty Images)

Cap Go Meh dan Dominasi Warga Tionghoa di Indonesia

Selamat Cap Go Meh dan Selamat Hari Peduli Sampah

Festival Cap Go Meh tahun ini cukup mengejutkan dan menyedot perhatian. Digelar hampir di setiap jantung kota di seluruh Indonesia. Mulai dari Perayaan Tahun Baru Imlek di Banda Aceh sampai Festival Cap Go Meh di pusat perdagangan Cakranegara di Lombok.

Cap Go Meh di Cakranegara, Mataram, Lombok. (photo: Sigit SL)

Cap Go Meh di Cakranegara, Mataram, Lombok. (photo: Sigit SL)

Hari raya Cap Go Meh atau Yuan Xiaojie dalam bahasa Tionghoa yang jatuh pada tanggal 15 bulan pertama tahun Imlek adalah salah satu hari raya tradisional Tiongkok. Menurut tradisi rakyat Tiongkok, sehabis Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek.

Hari raya Cap Go Meh juga disebut Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa. Malam Cap Go Meh adalah malam pertama bulan purnama setiap tahun baru. Pada malam itu, rakyat Tiongkok mempunyai kebiasaan memasang lampion berwarna-warni, maka festival ini juga disebut sebagai “hari raya lampion”.

Di ibukota negara, gelar budaya warga Tionghoa ini dipusatkan di kawasan Glodok, Jakarta. Perayaan di kawasan pecinan ini bisa dibilang yang paling akbar di banding kota lain di Indonesia. Maklum, di kawasan inilah dominasi perekonomian warga Tionghoa sangat kuat.

cap go mehDi Glodok, perayaan Cap Go Meh digelar dua hari penuh pada 20-21 Februari 2016. Panitia mendirikan panggung di kawasan Glodok Pancoran, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Acara ini dimeriahkan berbagai perlombaan. Di antaranya lomba liong dan barongsai, pemilihan Koko dan Cici, juga Mpe dan Encim untuk yang berusia 70 tahun ke atas. Selain perlombaan, tentunya ada juga arak-arakan kirab yang mengelilingi kawasan Glodok.

Hebatnya lagi, perayaan Cap Go Meh di Kota Ahok ini mengharuskan warga Jakarta bermacet-macet ria dan bersabar. Maklum, arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama ibukota dialihkan lantaran acara ini. Berikut arus lalu linta di jalan-jalan utama Jakarta yang dialihkan karena budaya warga Tionghoa ini.

  1. Bazar (Hiburan Pecinan dan Betawi) di Jalan Pancoran Taman Sari Jakarta Barat. Arus lalu lintas akan dialihkan mulai pukul 07.00 WIB sampai 22.00 WIB.
  2. Arus lalu lintas dari Jalan Pintu Kecil dan Jalan Toko Tiga yang menuju ke Jalan Pancoran dialihkan ke Jalan. Pintu Kecil/Jalan Toko Tiga atau putar arah balik.
  3. Arus Lalin dari Jalan Gajah Mada yang ke Jalan Pancoran dialihkan ke Jalan Pintu Besar Selatan atau TL Ketapang. Masyarakat atau Pengunjung yang ingin ke objek kegiatan agar memarkirkan kendaraan di Gedung Asemka/Pasar Pagi/Gedung HWI/Gedung LTC.
  4. Karnaval Cap Go Mehdi Jalan Gajah Mada-Jalan Hayam Wuruk-Jalan Pintu Besar Selatan Taman Sari Jakarta Barat. Lalu lintas akan dialihkan Minggu 21 Februari 2016 pukul 12.00 WIB sampai 18.00 WIB.
    Pengalihan arus lalu lintas di kawasan Glodok, Jakarta.

    Pengalihan arus lalu lintas di kawasan Glodok, Jakarta.

  5. Arus lalu lintas dari Traffic Lighat Harmoni yang mengarah ke Jalan Gajah Mada atau yang menuju ke Kota di Traffic Light Ketapang dialihkan melalui Jalan KH Zainul Arifin-Jalan KH Moch Mansyur atau melalui Jalan KH Hasyim Ashari atau melalui Jalan Suryopranoto-Jalan S Parman.
  6. Arus lalu lintas dari Jalan Gunung Sahari-Jalan Mangga Besar Raya menuju ke Jalan Hayam Wuruk di Traffic Light Olimo dialihkan ke Jalan Mangga Besar I atau melalui Jalan Taman Sari Raya.
  7. Arus lalu lintas dari Kota (Jalan Lada) dan Mangga Dua (Jalan Jembatan Batu) menuju Jalan Pintu Besar Selatan-Jalan Hayam Wuruk di Traffic Light Asemka dialihkan ke Jalan Asemka (Traffic Light Jembatan Lima) atau melalui Jalan Jembatan Batu atau Jalan Pangeran Jayakarta atau Jalan Mangga Besar I.
  8. Kemudian arus lalin dari jalan-jalan kecil di sepanjang ruas Jalan Gajah Mada-Jalan Hayam Wuruk-Jalan Pintu Besar Selatan yang mengarah ke rute karnaval akan dialihkan. Disarankan Masyarakat/Pengunjung yang menuju ke Jalan Gajah Mada-Jalan Hayam Wuruk-Jalan Pintu Besar Selatan kendaraannya di parkir di luar jalan tersebut, kemudian agar menggunakan bus transjakarta, karena hanya bus transjakarta yang beroperasi pada saat kegiatan berlangsung. (sumber: http://getlostmagz.com)

Jalur-jalur tadi tentu merupakan jantung kota negara ini. Dominasi warga Tionghoa itu terlihat hampir di semua kota besar di Indonesia. Karena even budaya yang satu ini merupakan even yang sangat terorganisir untuk menunjukkan dominasi warga Tionghoa di Indonesia.

Cap Go Meh di Singkawang, kalimantan.(photo: Robertus Pudyanto/Getty) Images)

Cap Go Meh di Singkawang, kalimantan.(photo: Robertus Pudyanto/Getty) Images)

Tak terkecuali di kota saya, Mataram, Lombok. Lampion-lampion merah tampak melintang sumringah di pusat-pusat perekonomian yang memang dikuasai warga keturunan China ini.

Selain menyuguhkan berbagai atraksi dan budaya Tionghoa, warga Tionghoa di Mataram juga menyediakan mie panjang umur bagi ribuan warga yang merayakan Cap Go Meh di Vihara Budi Dharma Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin malam. Warga Mataram di luar komunitas Tionghoa pun diperbolehkan menikmati mie panjang umur yang disediakan panitia perayaan Cap Go Meh saat berkunjung ke vihara terbesar di Pulau Lombok itu.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dalam acara karnaval Cap Go Meh 2016 di Glodok, Jakarta Barat, Minggu (21/2). Foto: M Kusdharmadi/JPNN.Com

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dalam acara karnaval Cap Go Meh 2016 di Glodok, Jakarta Barat, Minggu (21/2). Foto: M Kusdharmadi/JPNN.Com

Tidak saja alat rumah tangga, sampai suku cadang kendaraan bermotor yang menguasai negeri ini, tapi lebih dari itu pengharuh budaya Tionghoa sudah mulai digencarkan. Seiring dominasi produk dan budaya China, dominasi Tionghoa juga mulai menguasai para pemegang kekuasaan di Negeri Ini. Selamat Cap Go Meh dan Selamat Hari Peduli Sampah.  (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com