Peserta Rinjani Clean Up 2016 di Danau Segara Anak.

Rinjani Clean Up 2016, 1,5 Ton Sampah Dibawa Turun

Mataram – Pekan Rinjani Clean Up 2016 (1-6 April) patut diacungi jempol. Sedikitnya, 1,5 ton sampah plastik dan botol dibawa turun ratusan peserta dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Peserta dan sampah yang dibawa turun.

Peserta dan sampah yang dibawa turun.

Rata-rata, setiap peserta membawa sampah turun dari

Rinjani sekitar lima sampai tujuh kilogram. ‘’Diperkirakan, total jumlah sampah yang dibawa turun peserta mencapai 1,5 ton’’ kata Sobah Mahdi, penggagas Rinjani Clean Up 2016.

Total jumlah peserta yang ikut acara bersih-bersih Gunung Rinjani ini sekitar 250-an orang. Itu belum termasuk pendaki yang ikut bersih-bersih gunung dari jalur Torean, Lombok Utara. Karena, sebagian besar peserta melakukan clean up dari jalur Sembalun, Lombok Timur dan pulang dari jalur Senaru, Lombok Utara.

Para peserta Rinjani Clean Up ini berasal dari 39 organisasi dan komunitas pegiat lingkungan NTB dan berbagai daerah di Nusantara. Bahkan tiga peserta acara bersih-bersih gunung kali kedua ini diikuti tiga pendaki Belanda.

Rinjani Clean Up 2016

Rinjani Clean Up 2016

Menariknya, selain ikut bersih-bersih gunung, ketiga pendaki bule ini tengah melakukan penelitian terkait sosial masyarakat dan kelestarian lingkungan kawasan Rinjani. ”Semoga niat kita untuk mengampanyekan Rinjani bersih bisa terdengar sampai luar negeri,” sebut Obe, sapaan akrab Sobah.

Menurut Obe, Rinjani Clean Up ini lebih bersifat edukasi. Tujuannya, mengampanyekan kebersihan gunung. Bahwa sampah yang dibawa naik harus dibawa pulang. Para peserta juga membersihkan sepanjang jalur pendakian dan membawa pulang sampah-sampah yang ada di tong sampah kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. ‘’Sampah nonorganik dibawa turun dan sampah organik harus ditanam,’’ jelas Obe.

Edukasi ini jelas Obe, diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya para pendaki Rinjani. ”Kami berharap, pendakian Rinjani dibuka dengan keadaan bersih. Dan sudah seharusnya Rinjani tetap bersih dan lestari ,” kata Obe. Yang tidak kalah pentingnya, even ini dihajatkan untuk membantu meningkatkan citra sektor pariwisata NTB.

Rinjani Clean Up 2016

Rinjani Clean
Up 2016

Upaya meningkatkan kesadaran ini terangnya, perlu dibarengi dengan usaha pencegahan bertambahnya jumlah sampah.  Tentunya, dengan aturan dan sangsi yang diterapkan oleh instansi terkait.

Diharapkan juga kata alumni Palasma (Pecinta Alam SMAN 1 Mataram) ini, dapat membantu program clean up yang selama ini dilakukan pihak terkait. Sehingga, dana pembersihan gunung bisa dialokasikan untuk program-program lain.

Lebih jauh dijelaskan, Rinjani Clean Up memang sengaja diadakan di awal pembukaan jalur pendakian. Dengan harapan, memberikan rasa nyaman dan kesan yang baik kepada pengunjung yang melakukan pendakian. Diharapakan juga, kondisi gunung yang bersih ini bisa menjadi inspirasi bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Peserta Rinjani Clean Up 2016. Kalpa Saga (Kelompok Pecinta Alam SMAN 3 Mataram) dan Sampala (SMAN 2 Pecinta Alam)

Peserta Rinjani Clean Up 2016. Kalpa Saga (Kelompok Pecinta Alam SMAN 3 Mataram) dan Sampala (SMAN 2 Mataram Pecinta Alam)

Obe juga menegaskan, Rinjani Clean Up ini 100 persen nonprofit. Kegiatan ini dilakukan dengan biaya dari masing-masing peserta. Fasilitas maupun donasi yang diperoleh diperuntukkan langsung untuk mendukung kegitan di lapangan. ‘’Intinya,  no talk action only,’’ ungkapnya.

Artinya, pendakian bulan Juni sampai Agustus akan menjadi momen terbaik untuk melakukan perjalanan ke Rinjani. Karena pada saat itu, Dewi Anjani dipastikan sudah benar-benar cantik. Rinjani sudah memuntahkan laharnya dan sudah menata kembali tatanan agung Gunung Baru-nya. Juga sudah mandi besar selama lima bulan dan steril selama lima bulan. ”Bagi yang tidak sempat ikut bersih-bersih Rinjani April 2016 ini, bisa melakukan bersih-bersih gunung sendiri di setiap pendakian ke Rinjani,” tambah Obe. (*)

 Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com