Kadis Pariwisata dan Kebudayaan NTB, HM Faozal dan Danlanal Mataram Kol Mar Rahmat Junaidi, bareng Kades Gili indah, HM Taufik dan para penyelam profesional Gili Indah.

Terumbu Karang Gili Tralala yang Terlupa

TANJUNG – Dulu masyarakat Lombok cukup bangga mengampanyekan Gili Indah (Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan), Lombok Utara dengan rayuan blue coral-nya (karang biru). Dulu kita juga jumawa mengisahkan keragaman bintang laut, kuda laut, atau ragam biota laut lain tiga gili.

Transplantasi terumbu karang di Gili Air, Lombok Utara.

Transplantasi terumbu karang di Gili Air, Lombok Utara.

Sekarang, terumbu karang biru Gili Tralala itu kemana? Ikan belang-belang Juventus-ku juga kemana? Gili Eco Trash atau apapun namanya itu kerjaannya apa?

Syukurnya, masih ada penyu-penyu dan hiu-hiu manis di dinding Meno Wall yang tetap bertahan.  Mereka masih setia bertahan diantara deru mesin jet air yang selalu mengeruk rahim-rahim terumbu karang tiga gili. Syukurnya lagi, kita mulai sadar, terumbu karang Gili Indah sudah tak indah lagi.

Berangkat dari terumbu karang yang mulai terlupa itulah, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTB dan TNI AL Mataram turun bareng mencoba mentransplantasi karang di kawasan pantai Gili Air, Selasa (26/4). Ikhtiar yang patut mendapat respon positif ini juga didukung penuh oleh kades setempat, HM Taufik dan 12 penyelam Gili Indah. Diantara para diver Gili Indah ini, ada bule yang ikut nyelam. ”Jika kita melihat air pasang terendah, kita harus melakukan transplantasi terumbu karang paling tidak di kedalaman tiga meter,” kata Taufik sambil mengenakan alat selam-nya.

Rombongan Dinas Pariwisata NTB dan Lanal Mataram.

Rombongan Dinas Pariwisata NTB dan Lanal Mataram.

Seperti halnya kades muda ini, kedua bule itu tampak antusias terjun ke laut bersama beberapa penyelam TNI AL. ‘’Ada sekitar 510 tabel terumbu karang yang coba kita tanam di kedalaman tiga meter,’’ jelas Danlanal Mataram Kolonel Marinir Rahmat Junaidi kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

Acara peduli lingkungan ini juga diramaikan puluhan siswa SMA Hang Tuah Mataram dan puluhan staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTB. ‘’Ini merupakan bentuk kepedulian kita akan lingkungan bawah laut di tiga gili ini. Karna pemandangan bawah laut ini juga salah satu barang dagangan yang harus kita jaga,’’ ungkap Kadis Pariwisata dan Kebudayaan NTB HM Faozal. (*)

Apink Alkaff

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com