Fast boat Gili - Bali antre di dermaga Gili Air, Lombok Utara.

Untung Rugi Fast Boat Gili – Bali

Geliat perkembangan pariwisata Lombok sungguh sudah mulai berdampak. Salah satunya, dengan kehadiran operator fast boat langsung di tiga gili.

Awalnya, kapal cepat Bounty yang membuka jalur penyeberangan cepat Gili – Bali ini. Sampai-sampai, operator kapal kuning ini membuat dermaga khusus untuk melayani wisatawan asing maupun domestik di Telok Nara, Pemenang, Lombok Utara.

Fast boat nyandar langsung ke pasir Gili Air.

Fast boat nyandar langsung ke pasir Gili Air.

Belakangan, operator kapal cepat Gili – Bali ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Omset besar, pesaing sedikit. Bisa dibilang, sebagian besar wisatawan di tiga gili masuk melalui jalur ini.

Seirama pesona wisata tiga gili yang kian meroket, kehadiran kapal-kapal bermesin jet ini kian menggila. Kini jumlahnya sampai belasan perusahaan. Sedikitnya ada 17 operator fast boat yang melayani penyeberangan langsung Gili – Bali.

Rata-rata, satu perusahaan memiliki setidaknya dua kapal cepat bermesin seribu sampai 1.500 PK. Tentu, daya keruk kapal dengan kekuatan mesin besar ini dahsyat. Mesin-mesin jet itu sudah dipastikan menghancurkan terumbu-terumbu karang biru tiga gili yang dulu dibanggakan warga Lombok.

Kerennya, kehadiran kapal-kapal cepat ini meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke tiga gili secara khusus dan ke Lombok secara umum. Intinya, bisnis kapal wisata cepat ini sangat menjanjikan dan sangat membantu perkembangan sektor andalan Lombok Utara.

Selain menyuguhkan panorama indah di sepanjang pengarungan, harga tiket fast boat ini tergolong kompetitif. Inilah yang membuat sebagian besar wisatawan asing maupun domestik dari Bali – Gili memilih jalur laut ini.

Antrean fast boat di Gili Air, Lombok Utara.

Antrean fast boat di Gili Air, Lombok Utara.

Apesnya, izin operasi operator kapal cepat lintas sektoral ini ada di pemerintah pusat. Artinya, Pemda Lombok Utara dan Nusa Tenggara Barat hanya kebagian polusi laut dan hancurnya biota laut.

Terumbu karang biru yang dulu menjadi kebanggaan warga Lombok kini telah punah. Sementara upaya-upaya penanggulangan dan pelestarian lingkungan bawah laut di tiga gili itu hanya isapan jempol belaka.

Sedihnya, isu kerusakan lingkungan ini justru di kemas sebagai komoditi mencari keuntungan belaka. Sejumlah oknum di tiga gili melakukan pungutan liar kepada setiap wisatawan yang melakukan penyelaman (diving). Tentu, pungutan itu dilakukan atas nama pelestarian lingkungan dan segala tetek bengek alasan pelestarian lingkungan lain. Dan pungutan ini tidak berdasarkan peraturan daerah setempat.

Cilakanya, kehancuran terumbu karang di kawasan tiga gili ini, khususnya sekitar Gili Trawangan, sudah cukup parah. Sempat, Pemprov NTB berwacana untuk membuat regulasi, bahkan berencana menutup jalur penyeberangan kapal cepat ini. Alasannya, merusak lingkungan dan hanya menguntungkan sebagian orang saja.  Namun, rencana ini tidak terdengar kabarnya. Seolah mentah di tengah jalan.

Danlanal Mataram Kol Mar Rahmat Junaidi

Danlanal Mataram Kol Mar Rahmat Junaidi

Hancurnya terumbu karang tiga gili ini dibenarkan Komandan Lanal AL Mataram Kolonel Marinir Rahmat Junaidi. Menurut dia, regulasi keberadaan fast boat ini perlu dilihat kembali.

Selain merusak lingkungan, penyeberangan langsung Bali – Lombok ini sangat riskan. Artinya, jalur cepat ini berpeluang digunakan sebagai jalur penyelundupan narkoba. ‘’Kalau langsung masuk, siapa yang mengawasinya,’’ kata Rahmat di sela-sela kegiatan transplantasi karang di Gili Air, Lombok Utara, Selasa (26/4) lalu.

Intinya kata Rahmat, regulasi penyeberangan langsung Gili – Bali ini perlu diteliti kembali untuk alasan keamanan. ‘’Tentunya, dengan pengelolaan pelabuhan yang lebih maksimal,’’ tandasnya. (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com