Ketika alam disakiti

Halal Haram Menambang Pariwisata?

Mengeruk dan memindahkan tanah dari satu daerah dalam satu wilayah untuk menambal borok di wilayah itu sendiri, mungkin masih bisa dicerna akal sehat. Seperti, reklamasi Teluk Jakarta Utara. Atau, seperti reklamasi ala Uni Emirat Arab.

Beda halnya dengan reklamasi di daerah kami. Di Pulau Lombok, kulit kami akan disayat untuk menutupi bopeng di Pulau Bali. Tanah kami di Lombok, akan dikeruk untuk menutupi kerusakan lingkungan di Bali.

Ini tentu tidak masuk akal sehat. Tentunya, bagi orang-orang yang berpikir.

Apakah tanah kami pantas dikeruk  untuk menutupi kerusakan tanah di Bali? Apakah tanah kami akan memuaskan rencananya kalian?

Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat yang akan dikeruk.

Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat yang akan dikeruk.

Tanah kami ini kawasan wisata. Tanah kami ini hamparan sabana Rinjani sampai kaki kaki putih Bangko Bangko, Sekotong, Lombok Barat.

Sebagian besar dari kami juga hidup dari pariwisata. Seperti halnya penduduk Bali yang sadar wisata.

Kami sadar, sektor tambang dan pariwisata itu tidak bisa jalan beriringan. Sektor tambang sifatnya menghancurkan, dan sektor pariwisata rohnya pelestarian lingkungan.

Syukurnya, masyarakat Pulau Bali juga menolak keras reklamasi Telok Benoa. Juga menolak segala bentuk reklamasi di Pulau Dewata itu.

Ironisnya, rencana reklamasi ini mencuat disaat pariwisata NTB tengah naik daun. Konyolnya lagi, kebijakan tidak populis ini dikeluarkan saat Lombok menyandang merek dagang Halal Tourism Destination. Ada apa ini?

Sekotong, oh Sekotong. Keindahanmu selalu dijarah. Kilau emasmu telah dikuras liar. Kini kulit putihmu kan disayat paksa.

Lantas, apa yang membuat pemimpin kita diam? Apakah pula yang membungkamnya?

Komitmen pemerintah daerah dalam hal ini Pemda Lobar dan Pemprov NTB dalam pelestarian lingkungan kembali dipertanyakan. Kepekaan akan krisis seorang pemimpin daerah kembali disorot.

Ini sudah bukan soal boleh atau tidak boleh. Ini juga bukan soal baik dan buruk. Tapi ini sudah masuk persoalan halal dan haram. Halal-kah tanah Lombok dirusak untuk menutupi kekurangan tanah Bali? Halalkah reklamasi jenis ini? Bukankah kita juga khalifah di dunia ini?

Tidak kah ini akan menjadi kisah tidak menarik di penghujung peran seorang Gubernur NTB? Tidakkah akan menjadi fardu kifayah bagi masyarakat Lombok untuk turun pasang badan menjaga Gumi Paer Sasak?

Ziarah Alam dan Tolak Reklamasi

Apink Alkaff

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda