Lima penari Batin Kemuning yang bernuansa Zapin Melayu, karya Lalu Surya, mampu menghangatkan pembukaan pelatihan guide wisata budaya dan bahasa Arab di Golden Tulip Hotel.

Lima Kemampuan yang Wajib Dimiliki Pemandu Wisata

Jangan mengaku guide atau pemandu wisata jika belum  memiliki lima kemampuan ini!

Seorang guide adalah salah satu ujung tombak sektor pariwisata. Baik buruknya kesan satu daerah wisata juga sangat bergantung pada sikap guide-nya.

Dari kiri, DR Wisnu Bawa Teruna Jaya, HL Muh Faozal, dan DR Ainuddin dalam pembukaan pelatihan guide dan bahasa Arab.

Dari kiri, DR Wisnu Bawa Teruna Jaya, HL Muh Faozal, dan DR Ainuddin dalam pembukaan pelatihan guide dan bahasa Arab.

‘’Karena ketika kita bicara pariwisata, kita lebih banyak bicara citra dan citra itu sangat dipengaruhi sikap,’’ kata Wisnu Bawa Teruna Jaya, Asisten Deputi Pengembangan SDM Kementerian Pariwisata RI di arena Pendidikan dan Pelatihan Kepemanduan Wisata Budaya dan Bahasa Arab di Golden Tulip Hotel, Jumat (13/5).

Pelatihan guide yang digelar enam hari ini merupakan even yang kali pertama di gelar di Indonesia. Artinya, ini program pilot project Kementerian Pariwisata RI. Maklum, belakangan ini Kementerian RI memberikan perhatian cukup serius kepada pariwisata NTB.

Selain Wisnu, pembukaan pelatihan ini dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTB, Lalu Muh Faozal dan Ketua PHRI NTB Ainuddin SH. Kepada 50 peserta pelatihan yang sebagian besar dari kalangan pondok pesantren ini, Wisnu menuntut calon-calon guide halal tourism NTB ini untuk memiliki lima kemampuan wajib.

Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemanduan Wisata Budaya dan Bahasa Arab.

Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemanduan Wisata Budaya dan Bahasa Arab.

Pertama, kemampuan menyelesaikan pekerjaan rutin. Seorang pemandu wisata harus memahami pekerjaannya dan sanggup menyelesaikan kewajiban rutinnya.

Yang kedua, seorang guide atau pemandu wisata wajib memiliki kemampuan mengelola diri. Artinya, seorang guide tidak boleh beralasan sibuk. ‘’Karena sibuk itu alasan seseorang yang tidak mau mengerjakan sesuatu,’’ kata Wisnu.

Kemampuan ketiga yang harus dimiliki seorang guide itu sambung Wisnu adalah kemampuan mengantisipasi. Khususnya, mengantisipasi segala permasalahan yang mungkin terjadi selama menjadi pemandu.

Keempat, seorang pemandu wisata itu harus memiliki kemampuan bertanggung jawab. Karena setiap pekerjaan membutuhkan fisik, otomatis pemandu wisata harus mampu bertanggung jawab secara fisik kepada tamu-nya. Termasuk bertanggung kepada peralatan yang digunakannya.

Penyematan tanda peserta Pelatihan Kepemanduan Wisata Budaya dan Bahasa Arab.

Penyematan tanda peserta Pelatihan Kepemanduan Wisata Budaya dan Bahasa Arab.

Dan yang paling penting kata Wisnu, seorang pamandu wisata itu harus memiliki kemampuan beradaptasi. ‘’Jika tamu yang diharapkan beradaptasi dengan kita mungkin agak sulit. Yang paling mudah, kita yang harus beradaptasi dengan orang lain, meskipun kita harus sedikit berkorban,’’ ungkap Wisnu yang mendapat perhatian serius dari seluruh peserta pelatihan.

Paling tidak jelasnya, tuan rumah harus mampu berkorban perasaan. ‘’Disinilah kita harus memahami tentang quantum ikhlas. Yakni, bagaimana kita mengharmonisasikan hati dan pikiran. Saat itulah, kita harus berperasangka baik,’’ ungkap Wisnu seraya menjelaskan tentang cara menghadapi tamu yang suka marah-marah atau pun komplain.  (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com