Tari Zapin bernuansa Islam mulai hiasi even halal tourism Lombok Sumbawa.

Asta Pesona Lombok Sumbawa dan Magis Halal Tourism

#Bismillahirrahmanirrahim – Setahun terakhir, tepatnya sejak Lombok menyandang gelar Halal Tourism yang dinobatkan di negeri tajir Uni Emirat Arab medio 2015 lalu, mendadak mata dunia tersentak. Dunia terhenyak, ternyata wisatawan muslim dunia butuh label halal ketika berlibur.

Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Inggris sekalipun tidak mau ketinggalan peluang. Negara-negara maju ini pun berlomba mendapat label halal tourism seperti Lombok. Inggris rela London dipimpin wali kota yang seorang muslim anak supir bus asal Pakistan, Saddik Khan. Bus kota di London pun gencar dibranding nuansa Islam. Bahkan, hotel-hotel di Saigon, Vietman, pun ikut-ikutan membangun musalla di hotel-hotel dan menyediakan sajadah serta arah kiblat di setiap kamar.

Hebatnya, Malaysia dengan brand Truly Asia-nya justeru menjadi primadona wisatawan muslim dunia. Dalam hal perolehan devisa, Indonesia kalah jauh dibanding negeri tetangga ini.

Seperti masuknya Islam dari Selat Malaka, spirit halal tourism pun merambah nusantara. Pesona Lombok mampu mengalahkan keindahan Malaysia dan seluruh obyek wisata negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Mata para pelancong dan backpacker Malaysia juga terkejut. Mereka mulai sadar, keindahan negerinya kalah pesona eksotic pulau Lombok. Kecantikan dan magis halal tourism Lombok Sumbawa kian menggoda pelancong muslim dunia.

Sekarang, kita bisa dengan mudah menemukan tuan dan puan dari Negeri Sembilan atau dari bekas kerajaan Kedah. Sekarang, anak-anak Lombok mulai akrab dengan dialek Melayu ala Ipin dan Upin. Sekarang, para pemadu wisata mulai belajar bahasa Arab. Para santri pondok pesantren mulai dilatih menjadi guide halal tourism.

Seperti ajaran Islam yang masuk dari Malaka, pelancong muslim dunia pun masuk dari Malaysia.  Pelancong dengan setengah Melayu dan setengah Inggris begitu mudah dijumpai Lombok. Terutama di sepanjang pantai, lembah-lembah berair terjun, dan Danau Segara Anak Rinjani.

Pelancong-pelancong Malaysia yang tadinya doyan shoping ke Bandung, kini mulai suka naik gunung. Yang tadinya shoping manic di mall-mall Singapura, mulai belajar menyelam di palung Meno Wall. Pelancong melayu yang tadinya memilih berlibur ke Hagia Sophia, Turki mendadak tertarik selfi-selfi ria dengan latar masjid kuno Bayan Beleq.

Merespon pergerakan positif pasar wisata, perusahaan penerbangan yang berbasis di Malaysia, Air Asia, sudah terbang langsung dua kali sehari dari Kuala Lumpur ke Praya.

Tidak saja Air Asia, perusahaan penerbangan terbesar dunia pun mulai menjajaki terbang langsung ke Pulau Seribu Masjid ini. Konon, sebelum ramadhan 1437 hijriah ini, salah satu bos Emirates berlibur sambil bekerja di Lombok.

Mungkin, seperti inilah suasana Lombok ketika Islam mulai masuk Lombok. Tarian tradisional dan kontemporer mulai mendapat sentuhan Islami. Gadis-gadis penari gandrung mulai belajar tari zapin dan sarah.

Mungkin, atmosper seperti ini juga yang pernah dialami masyarakat Lombok ketika pesan-pesan Islam mulai masuk Gumi Paer. Salawat dan salam atas junjungan Nabi Muhammad SAW terdengar lebih nyaring dan aktif dalam setiap diskusi dan musyawarah masyarakat Lombok Sumbawa.

Dan kini, warga muslim dan seluruh masyarakat Lombok sedang menanti dan menyiapkan diri menyambut kedatangan saudara seimannya. Baik itu dari Malaysia maupun dari timur tengah. Berpuasa sambil berbenah melengkapi syarat sah pengelolaan halal tourism.

Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi berjanji akan meningkatkan anggaran belanja daerah 2017 untuk sektor pariwisata. Bahasa lisannya TGB, anggaran mendukung pelaksanaan Perda Halal Tourism 2016 – 2017 ini akan didukung dengan dana cukup.

Semua unsur masyarakat Lombok Sumbawa diminta terlibat dan bergerak bersama. Pelaku wisata dan pemangku jabatan dituntut kekompakannya menjalankan tugas, kewajiban, profesionalismenya.

Baru tahun ini, anggaran belanja negara cukup tersedot untuk Lombok wabilkhusus dan Nusa Tenggara Barat umumnya. Konon, keinginan Pemprov NTB dalam menyiapan diri sebagai tuan rumah yang baik pasti mendapat dukungan pemerintah pusat.

Sedang provinsi dan kabupaten lain pun mulai cemburu. Ada kepala daerah yang datang berguru. Seperti kepala daerah Bangkalan, Madura yang datang meminta petunjuk dan cara mengembangkan konsep wisata halal.

Namun, ada juga daerah yang iri dan mencoba berbuat keji. Seperti pulau seberang yang mencoba mengusik ketenangan wisata Lombok Sumbawa dengan isu pengerukan pasir obyek wisata. Ini seperti menjarah tanah Lombok untuk mereklamasi keborokan tanah Bali.

Tidak itu saja, masyarakat Sumbawa yang jelas-jelas menjadi satu bagian dari Nusa Tenggara Barat pun mulai cemburu. Syukur, cemburunya masih seperti cemburunya saudara kandung.

Jika Sumbawa tidak disebut dalam promosi wisata Lombok, masyarakat Sumbawa protes. Kadang menyisakan gesekan. Tak jarang, gesekan-gesekan itu meninggalkan bekas. Baik itu di hati seniman, budayawan, wartawan, masyarakat awam, sampai pemangku kebijakan.

Yang positif thingking menilai, momen ini adalah peluang besar berkarya dan meraih keuntungan. Yang punya rasa iri, hanya sibuk mendengki tanpa arti.

Kadis Pariwisata dan Kebudayaan NTB HL Muhammad Faozal menekankan agar masyarakat NTB tidak larut dalam cemburu atau pun iri. Salah satunya, di setiap program wisata harus menggunakan brand Lombok dan Sumbawa. Tim branding wisata dari Kemenpar RI yang diketuai DR Hery Margono turun bolak balik Lombok. Yang tadinya hanya brand untuk Lombok pun disesuaikan dengan Feel Good. Lombok Sumbawa OK.

Alhasil, lahirlah brand baru Lombok Sumbawa OK dengan tagline I Feel Good. Kalimat seperti penggalan lagunya  James Brown itu akan ditetapkan sebagai merk dagang baru dunia internasional.

Artinya, di Indonesia, baru Lombok Sumbawa yang dibranding secara resmi dengan biaya mahal. Dan baru kali ini, kebijakan pariwisata benar-benar tertuju ke Lombok.

Indonesia memang pernah menggaungkan tujuh ajaran pengembangan dan pengelolaan wisata yang dikenal dengan sebutan Sapta Pesona. Unsur ajarannya meliputi keamanan, kebersihan, ketertiban, keramahan, kenyamanan, keindahan, dan menyisakan kenangan baik.

Dari Sapta Pesona menjadi Asta Pesona atau delapan unsur pengelolaan wisata. Lombok tidak saja harus menjamin tujuh unsur pengelolaan wisata itu tetap berjalan. Tetapi, masyarakat, pelaku wisata, dan pemangku kebijakan Lombok Sumbawa juga harus siap mengimplementasikan satu ajaran Islam tambahan baru. Halal.

ramadan

Selamat menikmati indahnya berpuasa. (*)

Apink Alkaff

 

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com