Tarim di kala senja, Hadramaut, Yaman. (foto: Apink Alkaff)

Salat Tarawih Keliling Sampai 100 Rakaat

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (9)

Serasa kian logis, bahwa seorang kakek akan selalu berada di sekitar cucunya. Tak berlebihan, jika disebutkan bahwa Rasulullah SAW pun selalu berada diantara makam ribuan cucunya di komplek pemakaman Tarim.

Selain ribuan makam cucu Rasulullah di Zanbal, Kota Tarim juga diberkahi dengan banyaknya masjid peninggalan para pemimpin Bani Alawi. Sederet jejak sejarah inilah yang membuat Tarim dikenal sebagai kota ilmu, kota tib atau kota obat zahir dan batin ini. Banyaknya para penghafal Alquran sebelum akil baliq dan ulama yang lahir di Tarim juga menjadi ciri khas kotanya para wali ini.

Alkaff Yputh Family Tarim, Hadramaut.

Alkaff Youth Family Tarim, Hadramaut.

Saya memang belum menemukan angka tepat untuk jumlah keseluruhan masjid di Kota Tarim. Tetapi, sebagian orang menyebutkan, jumlahnya sekitar 360 masjid di Kota Tarim saja.

Dari 360 masjid itu, ada sejumlah masjid yang populer. Antara lain, Masjid Ba’Alawi, Masjid Jamik Tarim, Masjid Umar Al Muhdhar, Masjid Asseggaf, Masjid Al Aidrus, Masjid Surur, Masjid Raudhoh – Aidid, Masjid Sakran, Masjid Ba’Yaakub, Masjid Alwi Assamin, Masjid Fath di Hawi, Masjid Syihabuddin, Masjid Al Haddad, Masjid Kisa, dan beberapa Masjid Al Kaff. Juga ada Masjid Balfaqih, Masjid Basyamelih, Masjid Fadhal, Masjid Syaikh Ali bin Abibakar Assakran, Masjid Jamalullail, Masjid Bahamid, Masjid Ribath, dan Masjid Abu Bakar Al Habsyi. Selain itu, masih banyak lagi masjid lain di Kota Tarim.

Dari ratusan masjid bersejarah tersebut, saya berkesempatan mendatangi belasan masjid. Seperti kebiasaan warga Tarim, ziarah masjid kuno ini bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Tentunya, sambil menelusuri lorong-lorong rumah penduduk Tarim.

Santri Lombok di Tarim, Hadramaut, Yaman.

Santri Lombok di Tarim, Hadramaut, Yaman.

Kebetulan, saya yang ditemai Osama Bin Syeh Abubakar mengawali langkah dengan mendatangi Masjid Al Imam Abdollah bin Alwi Al Haddad. Dari sejumlah masjid bersejarah itu, Masjid Al Haddad (Sohibul Ratib) ini tergolong yang lebih modern dan cukup megah.

Tadinya, pada zaman Habib Abdollah Al Haddad, masjid ini hanya berukuran sekitar empat meter kali enam meter. Kini masjid itu sudah berukuran sekitar 10 kali lipat dari aslinya.

Seperti umumnya bangunan di Tarim, Masjid Al Haddad ini tampak biasa-biasa saja. Tidak terlihat kemewahan dari bagian luar bangunan. Begitu tangan membuka pintu utama masjid yang terbuat dari kayu tebal berukir khas timur tengah, kemegahan masjid yang didominasi warna coklat dan emas ini mulai terlihat.

Begitu pintu utama terbuka, tampak mihrab asli yang dulunya biasa dipakai Habib Abdollah bin Alwi Al Haddad beribadah. Nah, di mihrab inilah menjadi tempat favorit para peziarah salat sunnah.

Masjid Al Haddad dan tasbih Sohibul Ratib Imam Haddad dalam kerangka hijau keemasan.

Masjid Al Haddad dan tasbih Sohibul Ratib Imam Haddad dalam kerangka hijau keemasan.

Di tengah bangunan masjid yang berdinding marmer coklat itu terdapat kubah yang dihiasi mozaik beraneka warna. Sehingga bias sinar matahari yang masuk ke bagian dalam masjid tengah yang didominasi cat warna coklat dengan tulisan Ratib Haddad yang memenuhi bagian dinding atas masjid tersebut.

Tepat antara mihrab tua dan mihrab baru yang dilengkapi mimbar kayu berukir terdapat sumur obat (bi’russyifa) yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Hingga kini, sumur yang dulunya dipakai Habib Abdollah bin Alwi Al Haddad itu masih berair. Artinya, peziarah bisa menikmati barokah dan segarnya air yang dialirkan dari bi’russyifa menuju salah satu kran air minum di bagian belakang masjid tersebut.

Hanya saja, di bagian belakang masjid itu terdapat beberapa kran air. Kran air paling atas dan tertanam di dinding itulah yang mengalirkan air dari bi’russyifa. Sedangkan kran lainnya mengalirkan air minum segar dari penampungan seperti yang umumnya ada di setiap masjid Kota Tarim.

Diantara mihrab tua dan kran bi’russyifa tadi terdapat ruangan melintang dengan lebar sekitar satu setengah meter dan panjang sekitar delapan meter. Di tengah lorong yang termasuk bagian dari masjid tua ini terdapat tempat tirakat Habib Abdollah bin Alwi Al Haddad. Sekitar dua meter di samping tempat tirakat itu dipajang tasbih milik Habib Abdollah bin Alwi Al Haddad. Tasbih panjang berukuran cukup besar ini diletakkan di dalam sangkar kaca berkerangka kuningan dengan lampu penerang berwarna hijau.

Kerangka ini terletak tepat di depan pintu yang menghubungkan lorong itu dengan bagian tengah masjid. Alhasil, sangkar kaca dengan efek cahaya hijau dan keemasan ini menambah kemegahan interior Masjid Sohibul Ratib ini.

Menara Masjid Al Muhdar yang tanpa kerangka baja.

Menara Masjid Al Muhdar yang tanpa kerangka baja.

Hanya berjarak sekitar 300 meter dari Masjid Al Hawi, kita bisa berziarah ke Masjid Al Muhdar yang terletak di jalur protokol Kota Tarim. Masjid putih dengan menara setinggi sekitar 35 meter ini kerap menjadi landmark Tarim, bahkan menjadi icon Republik Yaman. Karena menaranya dibangun tanpa kerangka baja, masjid ini disebut masjid dengan menara tertinggi di dunia.

Beda dengan Masjid Al Hawi yang terkesan modern, Masjid Al Muhdar ini bergaya arsitek kuno. Balutan warna putih yang dipadu garis-garis hijau sangat dominan.

Di sisi barat menara bagian dalam masjid ini terdapat ruang tak beratap yang berukuran hampir setengah dari seluruh bangunan masjid ini.

Banyaknya masjid bersejarah memberikan warna tersendiri bagi Kota Tarim. Alhasil kota ini seperti museum sejarah yang menyimpan segudang ilmu pengetahuan.

Di malam hari, masjid-masjid Tarim ini selalu subur dengan majelis ilmu, majelis maulid atau hadrah. Menurut Osama, pada bulan Ramadhan masjid-masjid di Kota Tarim selalu meriah. Pasalnya, penduduk kota ini berlomba melakukan salat tarawih dari satu masjid ke satu masjid lain sampai masuk waktu subuh. Penduduk Kota Tarim selalu berlomba-lomba memperbanyak salat selama bulan ramadan.

‘’Warga Tarim mengerjakan salat tarawih berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain. Tak heran, dalam semalam mereka bisa keliling mengerjakan salat tarawih sampai 100 rakaat ,’’ ungkapnya.

Tidak itu saja sambung putra kelahiran Jelojok, Loteng ini, majelis khatam Quran pun dibuat selang beberapa hari sekali. Jadi, selain diramaikan jamaah salat tarawih, dari masjid-masjid di Kota Tarim ini selalu terdengar rapalan-rapalan kitab suci. (bersambung)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com