Kota dan komplek makam Nabi Allah Hud (Gaber Hood), Hadramaut, Yaman.

Menginap di Kubah Makam, Berkendara Menuju Kota Mati

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (11)

Bentuk bangunan di sekitar makam Habib Agil bin Salim hampir sama dengan bentuk bangunan terbuka yang menaungi makam Habib Al Fagih Mukaddam. Sedangkan makam Habib Abubakar bin Salim berkubah dan tertutup. Untuk menghindari suhu ekstrim di ujung malam musim dingin itu, kami bergegas memasuki kubah Habib Abubakar bin Salim. Syukurnya, pintu kubah makam tidak terkunci. Kami bisa langsung masuk dan menutup rapat pintu kubah. Berharap, suhu yang menyelimuti malam itu bisa lebih hangat.

Kubah makam Habib Abubakar bin Salim di Kota Inat, Hadramaut.

Kubah makam Habib Abubakar bin Salim di Kota Inat, Hadramaut.

Apink Alkaff – Lombok

Sulit mengungkapkan rasa dan suasana keheningan malam di dalam kubah makam Habib Abubakar bin Salim. Di dalam kubah itu, Alhabib Abubakar bin Salim didampingi putra-putranya. Yakni, Sayidina Umar Muhdar, Hamid, Hasan, dan istrinya Hubabah Sammah. ‘’Semua keturunan Hadarim yang marganya Almuhdar akan kembali ke Umar Muhdar bin Abubakar bin Salim. Sedangkan yang bergelar Alhamid akan kembali ke Hamid bin Abubakar bin Salim,’’ terang Osama Bin Syeh Abubakar sambil menunjuk kearah nisan-nisan yang mendampingi makam Habib Abubakar bin Salim. Artinya, keturunan Alhamid dan Almuhdar merupakan pecahan dari Bin Syeh Abubakar.

Khusus makam Habib Abubakar bin Salim ditutupi kayu yang terbungkus kain hijau tua. Di samping kanan tengah bagian kanan bawah, terdapat lubang persegi seukuran kepalan tangan lelaki dewasa. Lubang ini biasa digunakan peziarah untuk mengusap langsung makam  Habib  Abubakar bin Salim.  Sekaligus untuk mengambil debu-debu obat yang menempel di pusara.

Beda dengan kedua putranya, nisan Habib  Abubakar bin Salim terbuat dari marmer berwarna krem. Hangat dan semerbak aroma gaharu di dalam kubah itu sungguh menenangkan hati.

Bagian dalam kubah makam Habib Abubakar bin Salim di Kota Inat, Hadramaut.

Bagian dalam kubah makam Habib Abubakar bin Salim di Kota Inat, Hadramaut.

Tak direncanakan, malam itu kami menginap di dalam kubah makam Habib  Abubakar bin Salim. Saya kebagian tempat tidur persis diantara pusara Habib Abubakar bin Salim dan Almuhdar. Sedangkan Osama, tepat di bawah jam dinding di bagian depan makam. Beberapa ruang yang tersisa di dalam kubah itu bisa menampung sekitar 20 peziarah. Alhamdulillah, kami bisa tidur pulas bersama aroma gahru dan nisan para ulama besar itu.

Malam itu terasa singkat. Azan subuh terdengar jelas dari masjid Habib  Abubakar bin Salim yang ada persis di samping komplek pemakaman Inat. Kami terjaga dan segera bergegas menuju arah suara. Masjid Habib Abubakar bin Salim ini bergaya arsitektur hampir sama dengan masjid-masjid bersejarah khas Kota Tarim. Sederhana dan nyaman.

Setelah salat subuh, gelap masih menyelimuti. Angin yang menusuk tulang di penghujung musim dingin itu masih kuat terasa. Namun, suhu ekstrim itu tidak menyurutkan semangat kami. Sisa perjalan sekitar 60 kilometer menuju Gaber Hood (Makam Nabi Allah Hud) dengan sepeda motor.

Menikmati mentari terbit diatas sepeda ditengah gurun pasir dengan latar pohon kurma dan unta terasa beda. Bagi saya yang dibesarkan di kawasan lembah perbukitan yang hijau, sunrise itu menjadi pemandangan luar biasa. Sesekali kami berhenti di salah satu sudut kota untuk sarapan pagi.

Istirahat sejenak di sela-sela cemara gurun pasir perjalanan Inat - Gaber Hood. Hadramaut, Yaman.

Istirahat sejenak di sela-sela cemara gurun pasir perjalanan Inat – Gaber Hood. Hadramaut, Yaman.

Dua roti panggang, teh susu, dan keramahan penduduk kota menjadi menu sarapan pagi. Puas menikmati matahari terbit dengan segelas teh susu dan roti manis, kami beranjak melanjutkan perjalanan menuju makam Nabi Hud AS.

Di sepanjang jalan, puluhan pekerja terlihat sibuk membenahi trotoar. Salah satu jembatan penghubung menuju makam Nabi Hud juga tengah dibangun. Setelah sekitar dua jam perjalanan, kami tiba di ‘’kota mati’’ tempat Nabi Hud disemayamkan. Satu kota tak berpenduduk dengan ratusan bangunan mewah. Meski terletak di tengah gurun tandus dan gersang, kota mati itu tergolong subur.  Betapa tidak, sungai yang ada di sekitar kota itu tidak pernah kering sejak zaman Nabi Hud hingga 10 tahun terakhir ini (2013). ‘’Baru dalam 10 tahun terakhir ini, Sungai Nabi Allah Hud ini pernah kering,’’ jelas Osama.

Diantara ratusan rumah bertingkat itu, satu bangunan terdepan tampak lebih megah. Bangunan tiga lantai milik salah seorang pengusaha kaya Hadramaut ini dicat coklat dengan kubah hijau.  Posisinya tidak jauh dari Asyo Umar Muhdar. Biasanya, para peziarah sejak zaman Umar Muhdar hingga sekarang melaksanakan salat duha di Asyo Umar Muhdar terlebih dahulu sebelum ziarah ke Makam Nabi Hud.

Gaber Hood dan kota mati yang hanya berpenghuni sebulan dalam setahun.

Gaber Hood dan kota mati yang hanya berpenghuni sebulan dalam setahun.

Sebagian pendapat menyebutkan, Gaber Hood (Makam Nabi Allah Hud) merupakan tempat pembaiatan para waliullah. Bahkan, setiap Houl Nabi Allah Hud di bulan Sya’ban, tempat ini menjadi pusat berkumpulnya para aulia. Pagi itu, Kota Nabi Allah Hud begitu sunyi. Tidak ada penduduk dan tidak aktivitas apapun. Maklum, bangunan-bangunan di kota ini hanya digunakan sekali setahun, ketika houl Nabi Allah Hud.

Bangunan pertama yang menyedot perhatian adalah sumur di tengah kota. Dari bangunan ini, tampak jelas kubah makam berwarna putih yang berada lebih tinggi dari bangunan lain. Setelah memarkir sepeda motor, kita harus menapak ratusan anak tangga menuju bangunan dimana terdapat batu berukuran cukup besar. Batu itu, terletak di atas bangunan sejenis aula yang biasa dipakai tempat duduk atau salat. Sepintas, batu berdiameter sekitar empat meter itu terlihat seperti melayang. Karena memang, alas pijak batu tersebut jauh lebih kecil ketimbang ukuran batu itu sendiri.

Sebagian pendapat juga menyebutkan, ketika Nabi Hud AS hendak dimakamkan, dengan izin Allah SWT batu-batu cadas yang ada di tempat yang kini menjadi makam itu terbelah. Nah, ujung batu itulah yang terpental sekitar 25 meter.

Batu terbelah yang merupakan makam Nabi Allah Hud.

Batu terbelah yang merupakan makam Nabi Allah Hud.

Ketika jenazah Nabi Allah Hud disemayamkan, batu-batu yang terbelah tadi kembali tertutup. Sedangkan ujung batu yang pecah tadi tidak kembali menutup ujung makam Nabi Allah Hud. Dan kini, ujung pecahan makam Nabi Allah Hud tetap menganga. Sementara batu pecahan yang terpental itu berada tepat di bawah ujung makam Nabi Allah Hud dan tampak melayang . Di batu cadas itu, terdapat goresan cat putih yang dibuat persegi empat. Tanda putih ini jelas Osama Bin Syeh Abubakar selaku pemandu ziarah saya, adalah tempat duduk ulama yang paling dituakan.

Pada zamannya, Alfagih Mukaddam duduk di bawah batu yang bertanda itu. Kini ungkap Osama, setiap houl Nabi Allah Hud, yang duduk di bawah tanda putih itu adalah Mufti Tarim Habib Ali Masyhur.

Artinya, yang duduk di bawah tanda putih itu adalah aulia yang paling dituakan. Mumpung sepi, ana langsung duduk di bawah tanda itu sambil melihat sekitar. Ternyata, duduk di bawah batu yang bertanda itu adalah posisi terbaik di aula itu. Betapa tidak, pandangan dari tempat itu bisa langsung kearah seluruh kota yang berlatar tebing terjal.

Dari batu melayang itu, kita masih harus berjalan beberapa puluh anak tangga lagi untuk bisa sampai makam Nabi Allah Hud. Cat putih masih mendominasi sekitar area makam.

Selain batu yang ‘’melayang’’, posisi makam Nabi Allah Hud ini agak unik. Yakni, memanjang keatas menembus kubah sekitar 12 atau 14 meter. Ujung atas makam itu adalah tebing batu terjal.

Sementara di ujung bawah makam yang terbelah inilah para peziarah biasa memberikan salam kepada semua nabi dan rasul. Yang paling utama, salawat dan salam juga disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan, salam juga disampaikan kepada istri Rasulullah SAW.(*)

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com