Pengenalan Budaya Lokal Program Pendidikan Reguler (PPRA LIV) Lemhanas 2016 di Taman Mayura, Mataram, Lombok. (photo: Apink Alkaff)

Ketika Para Jenderal Mengunjungi Kantong Budaya Lombok

Hari ketiga. Kesan saya terhadap para jenderal ini bertambah satu, lucu. Ternyata, dibalik pangkat berbintangnya, mereka tetap mempertahankan selera humornya. Terutama humor ala Brigjen Laksma TNI Riyadi Syahardani (Direvdik Debiddikpimtknas) yang sering mengundang gelak tawa peserta Lemhanas. Berikut catatan perjalanan bersama rombongan jenderal Lemhanas 2016 mengunjungi kantong-kantong budaya Lombok.

Program Pengenalan Budaya Lokal Program Pendidikan Reguler (PPRA LIV) Lemhanas 2016 di Museum Negeri NTB. (photo: Apink Alkaff)

Program Pengenalan Budaya Lokal Program Pendidikan Reguler (PPRA LIV) Lemhanas 2016 di Museum Negeri NTB. (photo: Apink Alkaff)

Apink Alkaff – Lombok

Program Pengenalan Budaya Lokal Program Pendidikan Reguler (PPRA LIV) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) 2016 mengawali lawatan ke Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pagi yang mendung itu, mereka disambut Kepala Museum Negeri NTB Ir Bq Rahmayati bersama jajarannya.

Dari sembilan peserta Lemhanas 2016 ini, Kolonel AU asal Thailand, Choosak Kasatewit yang mendapat kesan pertama yang cukup mengejutkan. Betapa tidak, begitu masuk pintu museum, Deputy Director of International Thiland ini dikejutkan dengan salah satu lukisan yang memuat tanda tangan Putri Raja Thailand, Putri Maha Chakri Sirindhorn.

‘’Ketika berkunjung ke museum ini, Putri Sirindhorn tidak melewatkan satu pun dari semua koleksi kami. Bahkan, Putri Sirindhorn mencatat beberapa keterangan dari koleksi musem ini,’’ kata Rahmayati, Kepala Museum Negeri NTB kepada peserta Lemhanas 2016 mengawali tour.

Kolonel AU Choosak Kasatewit (Deputy Director of International Thiland) dan tanda tangan Putri Raja Thailand, Putri Maha Chakri Sirindhorn di Museum NTB. (photo; Apink Alkaff)

Kolonel AU Choosak Kasatewit (Deputy Director of International Thiland) dan tanda tangan Putri Raja Thailand, Putri Maha Chakri Sirindhorn di Museum NTB. (photo; Apink Alkaff)

Tanpa banyak basa-basi, jenderal ramah dan murah senyum asal Thailand ini langsung mengabikan momen itu. Choosak tersenyum lebar ketika berpose bareng lukisan tanda tangan Putri Sirindhorn.

Semua jenderal tampak serius mendengar penjelasan seputar benda-benda koleksi Museum Negeri NTB. Tak kelupaan, beberapa jenderal dari negara sahabat ini tak henti-hentinya mengabadikan setiap momen. Terutama jenderal berkumis dari Srilangka, Brigjen AD, HJ Seneviratne yang selalu bersemangat berselfi di sepanjang kegiatan.

Di ujung lawatan museum, sejumlah jenderal sempat mencoba alat musik tradisional gemelan khas Lombok. Mereka bergiliran mencoba alat musik pukul sambil mengikuti rhytem itu.

Bahkan, Letkol AD Rafidison Alain Bernardin (Chief of Cellule TACTIC Madagaskar) sempat melantai bersama Kepala Museum Negeri NTB dan istri pimpinan rombongan Nyonya Dedy Komara.

Goyang bareng di Museum NTB. (photo: Apink Alkaff)

Goyang bareng di Museum NTB. (photo: Apink Alkaff)

Suasana pun mencair. Goyang khas Afrika yang dimainkan Rafidson sambil mengikuti rhytem alat tradisi Lombok itu mengoda jenderal lain untuk ikut joget di tempat.

Sekitar pukul 10.30 WITA, rombongan dari negara sembilan negara sahabat ini mengunjungi Taman Budaya NTB. Mereka diterima Ketua TB NTB Faisal bersama jajarannya di ruang teather baru Taman Budaya NTB.

Atraksi tari Tapal Cupak karya Lalu Surya Mulawarman menjadi menu utama yang disuguhkan tuan rumah. Lima gadis penari bertopeng ini mendapat aplous cukup meriah.

Dalam sambutan singkatnya, ketua rombongan Marsda TNI Dedy Nita Komara menyebutkan, dipilihnya Lombok menjadi tempat pembelajaran dan pengenalan budaya lokal karena saat ini pariwisata Lombok tengah populer. Baik di kancah nasional maupun internasional.

Penampilan Tari Tapal Cupak di Taman Budaya NTB. (photo: Apink Alkaff)

Penampilan Tari Tapal Cupak di Taman Budaya NTB. (photo: Apink Alkaff)

Usai penampilan tarian, rombongan ini sempat dipersilahkan keliling kawasan Taman Budaya kebanggaan NTB. Namun, karena TB sedang direnovasi, sesi keliling urung dilakukan.

Selanjutnya, rombongan jenderal Lemhanas 2016 bergeser ke masjid kebanggaan warga NTB, Islamic Centre. Tidak banyak yang dilakukan di sini, selain selfi dan foto bareng di menara lantai 13 dan lantai 9.

‘’Pemandangan indah dari ketinggian (lantai 13) di Islamic Centre itu seharusnya tidak terhalang oleh pembatas keliling menara. Bila perlu lantainya dibuat pakai kaca. Tapi itu biayanya memang lebih mahal,’’ kata Kolonel Inf Sugeng Santoso SIP, Kasubdit Giattama Ditopsdik Lemhanas sambil mengisahkan salah satu obyek wisata menara di Shanghai yang menjadi perbandingan.

Berselfi ria di menara Islamic Centre Mataram. (photo: Apink Alkaff)

Berselfi ria di menara Islamic Centre Mataram. (photo: Apink Alkaff)

Setelah mengunjungi masjid terbesar di Lombok, rombongan jenderal bertandang ke Taman Mayura. Taman ini terletak persis di depan komplek pura terbesar Lombok, Miru. Sayangnya, di salah satu tempat wisata andalan Kota Mataram ini, tidak ada satu pun keterlibatan Dinas Pariwisata Kota Mataram yang menyambut kedatangan rombongan Lemhanas.

Alhasil, di Taman Mayura rombongan tidak disuguhkan atraksi seni atau budaya sama sekali. Selama di Mayura, rombongan jenderal Lemhanas hanya jalan-jalan singkat dan mengambil beberapa gambar kemudian melanjutkan kunjungan ke obyek wisata budaya lain.

Tour kantong budaya kemudian dilanjutkan ke Lombok Barat, Istana Air Narmada. Di taman miniatur Gunung Rinjani ini, rombongan disambut atraksi dua pepadu presean. Pertarungan pepadu (jagoan) dengan stik rotan ini cukup mengejutkan para pemimpin dari sembilan negara ini.

Letkol AD, Kone Moriba (Mabes TNM Republik Mali) dan Malakai Raceva (Officer Commanding Fiji) mencoba presean, olahraga tradisional Lombok di Taman Narmada. (photo: Apink Alkaff)

Letkol AD, Kone Moriba (Mabes TNM Republik Mali) dan Malakai Raceva (Officer Commanding Fiji) mencoba presean, olahraga tradisional Lombok di Taman Narmada. (photo: Apink Alkaff)

Bahkan, Kolonel Choosak Kasatewit, Letkol AD, Kone Moriba  dan Malakai Raceva sempat mencoba menjajal sensasi adu ketangkasan olah raga tradisional ekstrim khas Lombok.

Taman Narmada cukup mengundang decak kagum peserta Lemhanas yang khusus mempelajari budaya lokal. Kisah seputar sejarah Taman Narmada bersama mitos air awet mudanya juga sanggup menyita waktu kunjungan.

Ketua rombongan dan sebagian besar jenderal ini sempat mengikuti ritual di dalam petirtaan awet muda Narmada. Sejarah dan keterkaitan antara Rinjani dan Taman Narmada juga banyak menyisakan pertanyaan di kepala peserta.

Untuk satu perjalanan wisata budaya, paket tour budaya para jenderal Lemhanas ini tergolong padat. Karena, setelah mengunjungi Narmada water palace, rombongan dibawa untuk menyaksikan seni wayang Sasak di Desa Sesela, Gunungsari,  Lombok Barat.

Pose bareng di sekolah dalang Wayang Sasak, Sesela, Lombok Barat, NTB.

Pose bareng di sekolah dalang Wayang Sasak, Sesela, Lombok Barat, NTB.

Meski di tempat yang amat sederhana, para jenderal ini cukup terkesan. Penampilan pedalang Sekolah Wayang Sasak yang dibentuk pasangan Latif Apriaman dan istrinya Vikong cukup menyentuh  ketua rombongan.

‘’Tidak semua orang mau sibuk mengurus dan mengembangkan hal (Sekolah Wayang Sasak) seperti ini. Semangat mereka patut mendapat apresiasi,’’ ungkap Dedy Nita Komara sebelum mengakhiri lawatan hari itu. (*)

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com