Pendaki jail yang pamer edelweis.

Norak, Pendaki Alay ini Siap Dibully

”Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk edelweis”

Mataram – Sepertinya, pendaki jail dan alay ini siap dibully netizen. Betapa tidak, mereka dengan bangganya pamer bunga edelweis yang dipetik di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Ironisnya, para pedaki usil yang merusak kelestarian Rinjani ini terlihat berasal dari komunitas tertentu. Tepatnya, dari komunitas alay yang tidak mengerti etika pendakian gunung.

Foto-foto ini diambil di jalur pendakian Torean (Lombok Utara) dan jalur lain menuju Danau Segara Anak, Rinjani. Setelah beberapa saat foto ini diposting, ratusan netizen langsung merespon. Bahkan, beberapa diantara netizen merespon dengan komentar pedas.

Pendaki muda yang membawa edelweis turun saat mendaki Rinjani.

Pendaki muda yang membawa edelweis turun saat mendaki Rinjani.

‘’Hey kau para pendaki, atau yang mengaku pendaki, atau yang mengaku pecinta alam, atau apalah namanya, tolong diingat ini jika bertualang ke suatu tempat;  Jangan meninggalkan apapun kecuali telapak kaki. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu. Dan jangan mengambil apapun (memetik, mencongkel, atau menebang) kecuali mengambil gambar,’’ kata Alwi Ahmad Dani mengomentari foto pendaki alay tadi.

Sepertinya juga, beragam istilah seputar tanaman eksotis khas ketinggian ini membuat para pendaki alay nekat mengambil atau memindahkannya. Mereka pikir, membawa pulang dan memberikan bunga edelweis kepada orang yang dikasihi merupakan satu ungkapan keabadian atau ketulusan. Atau mereka berpikir, bunga edelweis yang biasa tumbuh di ketinggian dua ribu meter diatas permukaan laut ini merupakan lambang perjuangan yang layak dipetik.

Karena demikian hebatnya bunga ini, tak jarang membuat oknum pecinta alam atau penggiat alam bebas berusaha mengabadikan bunga ini. Bahkan, beberapa diantaranya berusaha memindahkan habitatnya.

Di beberapa tempat wisata gunung di pulau Jawa, karena banyak diburu, edelweis menjadi barang dagangan yang cukup menjanjikan. Khususnya, bagi yang tidak mampu memetik sendiri.

Pendaki alay dan norak yang merusak kelestarian Rinjani

Pendaki alay dan norak yang merusak kelestarian Rinjani

Saking larisnya, eksploitasi edelweis dilakukan penduduk untuk di perdagangkan. Tidak berbeda jauh dengan tangan-tangan usil penggiat alam bebas ini. Walau tidak melakukan jual beli edelweis, tetap saja mengambil tanpa memikirkan dampaknya. Memetik tanpa menanam. Mengambil tanpa pernah menjaga.

Jangan karena embel-embel bunga keabadian lantas seenaknya memetik dan mempersembahkan kepada teman atau orang yang dikasihi.

Jika anggapan itu masih ada di otak kalian, itu sungguh naif dan memalukan. Sungguh, apa yang kalian lakukan itu norak dan tidak terpuji. Sungguh konyol juga jika memetik edelweis ini dianggap sebagai wujud ketulusan cinta. Sebab edelweis lebih tulus dari cinta siapapun.

Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk edelweis! Karena bunga ini memang harus bertahan hidup di tempat dan suhu ekstrim. Jangan pula tanyakan ketulusan untuk edelweis! Karena bunga ketinggian ini selalu berusaha tetap indah dan menjadi yang pertama dalam revegetasi. (*)

Apink Alkaff

 

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com