Prof Said Agil Husain Al Munawar, ilmuan dan penghafal Alquran yang juga Ketua Dewan Hakim MTQ 26, tampil memukau di ujung malam final MTQ 2016.

MTQ 26, Provinsi Banten Dijagokan Raih Juara Umum

‘’Beberapa qori’ dan qori’ah NTB mewakili provinsi lain’’

Mataram – Provinsi Banten paling dijagokan meraih juara umum dalam MTQ ke-XXVI 2016 ini. Selain karena jumlah utusan Banten tergolong cukup besar,  peserta dari Banten yang masuk putaran final juga cukup banyak. Yakni, sekitar 20 orang.

NTB sebagai tuan rumah juga mengirim utusan cukup banyak dalam berbagai mata lomba. Hanya saja, utusan NTB yang masuk putaran final tergolong sedikit, sekitar 11 orang.

Husain Fakaubun, kafilah Kepulauan Riau

Husain Fakaubun, kafilah Kepulauan Riau

Dari semua mata lomba yang dipertandingkan, cabang lomba tilawah dewasa adalah yang paling bergengsi. Untuk mata lomba bergengsi ini, utusan Kepulauan Riau dan Sumatera Barat cukup dijagokan. ‘’Banten memang berpeluang juara umum. Tetapi untuk tilawah dewasa, utusan Kepulauan Riau dan Sumatera Barat berpeluang meraih juara satu dan dua,’’ kata Husain Fakaubun, salah satu utusan Kepri.

Husain, pria yang sempat tampil membacakan Salawat Nabil Adnan bersama Zaini Lubis (utusan Medan) dan tiga bocah Kepri ini menilai,  MTQ 26 di Mataram ini adalah MTQ yang paling jujur.  Pasalnya, kata dia, tahun ini seleksi terkait usia peserta melalui I-KTP (online) tidak bisa dibohongin. ‘’Di MTQ 26 ini, peserta tidak bisa main-main dengan umur. Insya Allah ini MTQ yang paling jujur,’’ ungkap pemilik suara emas yang pernah mewakili Kepri di arena MTQ 2005 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sementara itu, NTB yang diperkirakan dikalahkan Papua Barat juga mendapat  perhatian cukup besar dari warga Lombok. ‘’Kita memang harus mengakui, Papua Barat memiliki qori’ dan qori’ah yang berkualitas,’’ kata Fatoni, salah seorang anak pondok dan guru ngaji asal Narmada, Lombo Barat, di tribun penonton.

Di jelaskan Fatoni, meski NTB kalah dari Papua Barat, tetapi guru fashohah di Papua Barat itu justeru orang Lombok. ‘’Salah satu dewan hakim fashohah di MTQ 26 ini adalah DR Muhsin Salim. Dia orang Lombok Tengah yang mengajar di Papua Barat. Ada juga qori’ dan qori’ah Lombok yang mewakili Provinsi Bali, DKI Jakarta, dan Riau,’’ terang Toni yang tidak bisa menyebutkan nama-nama qori’ dan qoriah tersebut.

Budiman, satu-satunya finalis kategori qiroatil sabaah, asal Kota Bima, NTB, yang tampil di malam final MTQ 26, Jumat malam (6/8).

Budiman, satu-satunya finalis kategori qiroatil sabaah, asal Kota Bima, NTB, yang tampil di malam final MTQ 26, Jumat malam (6/8).

Tidak itu saja, dalam MTQ 26 kali ini, tiga putra Bima, NTB, juga disebut-sebut mewakili provinsi lain. Yakni, Awaludin yang kini mewakili Kepulauan Riau, Irwan Ismail (Kota Bima) dan Khoirunnisa yang mewakili NTT. ‘’Khoirunnisa itu  salah satu orang tuanya dari NTT,’’ jelas Budiman, qori’ NTB asal Kota Bima yang masuk final untuk kategori qiroatil sabaah.

Budiman yang juga mengajar di Ponpes Alhusain Kota Bima ini adalah satu-satunya putra NTB yang tampil di putaran final Jumat malam (06/08).  Bagi Budiman, masuk final ini merupakan salah satu pencapaian pertamanya. ‘’Dulu waktu masih kecil, saya pernah ikut MTQ untuk kategori tilawah anak-anak di Jakarta,’’ kenang Budiman. (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com