Seniman muda Aceh, Gayo Coffee Blues saat tampil membawakan seni tradisional Didong di arena BBLS 2016, Taman Sangkarean, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Seniman Aceh Gayo Kejutkan Arena Pameran Kreatif BBLS 2016

Setelah menghipnotis pecinta musik di panggung akbar Senggigi Jazz World Music, Gayo Coffee Blues tampil di arena pembukaan Pameran Ekonomi Kreatif Bulan Budaya Lombok Sumbawa, di Kota Mataram, NTB, Senin (22/8). Kehadiran 10 petani kopi Gayo Aceh dalam memainkan musik tradisional Didong ini pun mengejutkan panggung BBLS 2016 di Taman Sangkarean Mataram.

Didong, music tradisional Aceh Gayo saat tampil di pembukaan Pameran Kreatif BBLS 2016, Panggung Sangkarean Kota Mataram, NTB.

Didong, music tradisional Aceh Gayo saat tampil di pembukaan Pameran Kreatif BBLS 2016, Panggung Sangkarean Kota Mataram, NTB.

Yang juga cukup mengejutkan, MA Pramudya, manajer Gayo Coffee Blues yang memainkan alat musik tradisional Aceh Utara ini adalah putra kelahiran Mataram, Lombok.

‘’Tadinya, kami pikir akan tampil membawakan blues. Eh, ternyata kami harus memainkan musik tradisional. Syukurnya, kawan Gayo Coffee Blues ini serba bisa,’’ ungkap Pramudya kepada utarakita.com sambil tersenyum.

Menariknya, meski pemuda Gayo ini berprofesi sebagai petani kopi, kemampuan bermusik mereka tak bisa diremehkan. Wabilkhusus dalam nge-blues. Terbukti, penampilan Gayo Coffee Blues di Senggigi Jazz World Music (21/8) memukau penonton.

Hanya saja, kali ini mereka tidak memainkan blues. Tetapi, memainkan salah satu music tradisional Aceh dengan bantuan alat music Aceh Utara. ‘’Ini namanya seni Didong. Musik ini biasanya dipakai untuk syiar Islam,’’ terang alumni Kalpa Saga, SMAN 3 Mataram yang kini menjadi warga Aceh ini.

Photografer, Wartawan, dan Kadis Budpar NTB bersama Gayo Coffee Blues di arena BBLS 2016, Taman Sangkareang, Mataram, NTB.

Photografer, Wartawan, dan Kadis Budpar NTB bersama Gayo Coffee Blues di arena BBLS 2016, Taman Sangkareang, Mataram, NTB.

Lirik-lirik tentang konflik yang pernah terjadi di Bumi Serambi Mekah ini menjadi syiar yang disampaikan bersama tabuhan rebana bernada tinggi. Syiar dan lagu yang memang tidak pernah dimainkan sebelumnya di tanah Lombok Sumbawa.

‘’Terus terang, kami juga terkejut dengan perkembangan pariwisata Lombok Sumbawa. Kami juga sangat mengapresiasi semua pihak yang menerima kami dengan baik selama di Lombok,’’ tambah Pramudya.

Sore itu, Gayo Coffee Blues tampil di hadapan istri Wakil Gubernur NTB, Hjh Syamsiah Amin, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata NTB, HL Muhamad Faozal, sejumlah kepala dinas Pemprov NTB lain. Hadir juga para menejer perbankan dan para menejer industri pariwisata NTB.

Para pejabat Pemprov NTB, para menejer perbankan, menejer perhotelan, dan segenap undangan pembukaan Pameran Kreatif BBLS 2016 di Kota Mataram, NTB.

Para pejabat Pemprov NTB, para menejer perbankan, menejer perhotelan, dan segenap undangan pembukaan Pameran Kreatif BBLS 2016 di Kota Mataram, NTB.

Lagi-lagi, kehadiran seniman Aceh Gayo ini mendapat big aplous dari ratusan tamu undangan pembukaan Pameran Ekonomi Kreatif Bulan Budaya Lombok Sumbawa, Senin (22/8). Bahkan, Kadis Budpar NTB meminta rombongan seniman petani kopi Aceh ini tampil kembali di panggung BBLS 2016 Taman Sangkareang Kota Mataram itu. ‘’Kami sangat mengapresiasi kehadiran seniman-seniman Aceh Gayo di acara BBLS ini. Kalau bisa, nanti malam tampil lagi ya,’’ kata Faozal bersemangat.

Tidak itu saja, Sekertaris Dikbudpar NTB, Muhamad juga mengaku cukup terkejut dengan kehadiran seniman Aceh Gayo di panggung BBLS ini. ‘’Kalau bisa, besok kita undang mereka (seniman Aceh Gayo) makan siang ya,’’ kata Muhamad kepada manajer Gayo Coffee Blues , Pramudya.

Sebelum aksi panggung seniman Aceh Gayo ini ditampilkan,  Ketua Panitia BBLS 2016 HL Muhamad Faozal menjelaskan. Sedikitnya, ada 28 even yang digelar selama BBLS 2016 ini. Sementara dalam Pameran Kreatif ini ada 40 industri ekonomi kreatif yang menampilkan karyanya. Mulai dari industri kerajinan cukli, emas, perak, tembikar, mutiara, tenun ikat, sampai kuliner tradisional. (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com