Pantai Medana, salah spot singgah Sail Indonesia 2010 lalu. (photo: Apink Alkaff)

Djohan Sjamsu: Akan Lebih Greget Jika Namanya Sail Gili Samota

LOMBOK UTARA – Sebelum Samawa Moyo Tambora (Samota) menjadi tuan rumah perhelatan sailing internasional, alangkah baiknya segenap pemangku jabatan ‘’Samota’’ belajar dari Lombok Utara. Betapa tidak, meski menjadi kabupaten termuda NTB, tetapi soal menjadi tuan rumah even sebesar Sail Indonesia, KLU punya cerita bagus.

Selain itu, industri pariwisata Lombok Utara sudah cukup berpengalaman menggelar even jenis ini. Artinya, untuk 2017 ini, para pemangku kebijakan Samota sebaiknya studi banding dulu jika hendak menjamu ratusan petualang laut kren dunia ini.

H Djohan Sjamsu dan Ketua DPD RI Prof Muhammad Farouk (tengah) ketika pertemuan membahas program konservasi lingkungan Daulat Pohon 2016 dan Kayangan Global Hub di Mataram, Minggu (21/8) lalu.

H Djohan Sjamsu dan Ketua DPD RI Prof Muhammad Farouk (tengah) ketika pertemuan membahas program konservasi lingkungan Daulat Pohon 2016 dan Kayangan Global Hub di Mataram, Minggu (21/8) lalu.

Untuk urusan menjadi sohibulbait even sebesar Sail Indonesia, H Djohan Sjamsu, bapak pendiri KLU adalah yang cukup mengerti soal itu. Maklum, mantan Bupati KLU ini pernah memimpin Lombok Utara ketika beberapa kali menjadi tuan rumah sailing kelas dunia seperti ini.

Tidak itu  saja, Djohan Sjamsu juga pernah studi banding khusus untuk lebih memahami cara menjadi tuan rumah sail kelas dunia. ‘’Agar even ini lebih greget, sebaiknya nomenklatur even ini dirubah sedikit menjadi Sail Gili Samota (SGS). Selain untuk mengangkat gaung even sailing itu sendiri, ketersediaan fasilitas pendukung di tiga gili sangat memadai. Dan itu salah satu persyaratan utama menjadi tuan rumah,’’ saran Djohan merespon isu NTB yang akan menjadi tuan rumah sail dunia ini.

‘’Bukankah untuk menjamu kedatangan ratusan kapal yacht ini banyak persyaratan berstandar dunia lain yang harus dilengkapi tuan rumah’’? ungkap Djohan.

Kapal pesiar berukuran sedang saat singgah di Pantai Sira, Tanjung, Lombok Utara, Juni 2012 lalu. (photo: Apink Alkaff)

Kapal pesiar berukuran sedang saat singgah di Pantai Sira, Tanjung, Lombok Utara, Juni 2012 lalu. (photo: Apink Alkaff)

Seperti yang dilansir Radar Lombok online, Kepala Bappeda NTB, Ridwansyah, Kepala Disbudpar NTB, HL Mohamad Faozal, Kepala Dinas Kehutanan, Husnanidiaty Nurdin, ditambah dua Staf Ahli Gubernur NTB, H. Muhammad Nasir dan Aminollah, melakukan survey terkait even sailing 2017 ini. Rabu (24/8). Para pemangku kebijakan NTB ini turun langsung ke sejumlah lokasi di Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa.

Survey lapangan kesiapan NTB sebagai tuan rumah even kebaharian 2017 ini dipimpin Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin. Juga diikuti Wakil Ketua DPRD NTB, Deputi Kemenko Maritim, Dewan Kelautan Indonesia, mantan Wagub NTB, Badrul Munir, serta para bupati/walikota se-pulau Sumbawa, (Selasa lalu).

Pantai Ai Limung, Moyo Utara, Sumbawa, salah Satu kandidat lokasi pelaksanaan Sail Indonesia 2017. (photo: Sigit SL)

Pantai Ai Limung, Moyo Utara, Sumbawa, salah Satu kandidat lokasi pelaksanaan Sail Indonesia 2017. Selain minus fasilitas wisata, akses menuju lokasi ini belum siap. (photo: Sigit SL)

Menurut Faozal hasil survey tersebut nantinya akan didiskusikan kembali dalam pertemuan untuk menentukan lokasi terbaik akan menjadi pusat sailing 2017 di NTB. Tentunya dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak, sebelum menetapkan keputusan fix soal lokasi puncak kegiatan Sail Samota 2017. “Yang jelas, arahan dari pusat menginginkan kalau lokasi pelaksanaan kegiatan sail 2017 ini lebih menekankan pada lokasi-lokasi destinasi wisata yang sudah jadi,” ujarnya.

Apapun itu sambungnya, semangat NTB sebagai tuan rumah sail 2017 ini harus diperjuangkan maksimal. Sehingga pada pelaksanaan nanti bisa berjalan sukses. Terlebih sekarang kegiatan kebaharian Sail Indonesia ini setiap tahunnya digilir di masing-masing provinsi. Hajatannya lebih ditekankan pada pengembangan dan promosi wisata suatu daerah. “Karena itu, kalau sebelumnya eksekutor lapangan kegiatan Sail Indonesia adalah Kementerian Perikanan dan Kelautan, maka mulai tahun ini dialihkan ke Kementerian Pariwisata,” tutur Faozal. (*)

Apink Alkaff

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com