JFC 2016. (photo: Apink Alkaff)

Revival JFC: Art Street yang Menyedot Mata Dunia

Untuk kesekian kalinya, saya kembali ke Jember, Jawa Timur. Kabupaten yang tadinya tak banyak disorot media mendadak mencuri perhatian mata dunia. Baik itu mata penggila fashion internasional, sampai mata lensa fotografer manca negara.

JFC 2016

JFC 2016

Apink Alkaff – Jember

Cukup sering saya melihat berbagai jenis parade maupun carnaval di negeri ini. Namun, budaya carnaval di kabupaten ini terasa lebih meriah dan inovatif. Mulai dari gelaran carnaval tingkat desa sampai gelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) yang sudah mendunia.

Nah, melalui JFC 15 inilah, kabupaten yang dipimpin dr. Faida ini menyedot perhatian dunia. Tak ayal, nama bupati ayu spesialis penyakit mata ini pun mengundang perhatian jutaan mata. Lebih-lebih setelah even ini mendapat dukungan penuh dari banyak pihak.

Gelaran tahunan World Class Street Fashion Carnival oleh JFC yang tahun ini memasuki tahun ke-15 digelar di jantung kota karnaval fashion Indonesia, Jember. Kali ini, tema yang dikibarkan Revival. Gelaran art jalanan yang mengusung sedikitnya 10 tema unik ini terlihat lebih inovatif dan kreatif ketimbang tahun sebelumnya.

JFC Revival 2016

JFC Revival 2016

Beberapa tema JFC 2016 yang menyedot perhatian mata dunia adalah tema garuda, refugees, olympic, hortus, chandelier, wood, ocean, technocyber, paradise, dan barong. Namun, tema garuda yang syarat nuansa cinta tanah air ini adalah yang paling banyak mendapat respon positif dari penonton.

Asal diketahui saja, Jember Fashion Carnaval pernah menoreh sejarah dengan menjari juara dua dunia dalam ajang Carnaval International de Victoria, Seychelles. Event yang melihat konsep eksibisi atau pameran kostum jalanan sambil menari (street dance presentation) di seputaran jalan Boise de Rose Avenue inilah yang menjadi salah satu kian ngetopnya carnaval yang digagas Dynand Fariz ini.

Presiden JFC Dynand Fariz dengan kostum garuda-nya tampil penuh semangat. (photo: Apink Alkaff)

Presiden JFC Dynand Fariz dengan kostum garuda-nya tampil penuh semangat. (photo: Apink Alkaff)

Hebatnya, even ini pun sanggup mendatangkan wisatawan nusantara maupun manca negara untuk datang ke Jember. Wabil khusus bagi para pemburu foto dan pencinta fashion art street. ‘’Kita harus mengakui, JFC ini adalah salah satu gelaran art street populer dunia,’’ kata Febri M Kahini, salah seorang traveler yang datang bersama delapan rekan-rekannya asal Jakarta.

Hotel-hotel di pusat kota Jember pun dipenuh bus wisatawan. Bahkan, kursi cukup nyaman untuk menyaksikan JFC ini dibandrol Rp 75 ribu sampai Rp 400 ribu.

Yang cukup mengejutkan lagi, ternyata sebagian besar peserta JFC ini berasal dari kalangan laki-laki yang doyan dandan. Terutama untuk kostum besar yang beratnya sampai 25 kilogram.

‘’Kalau cewek yang mikul kostum seberat 25 kilogram seperti ini, dijamin bakal banyak yang nggeblak,’’ terang Ahmad, saudara sekaligus guide yang mengantar kami menelusuri lorong-lorong Jember menuju arena JFC di jantung kota Jember. (*)

Apink Alkaff

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com