Sarasehan Kolektor di Museum NTB, Kamis (15/9).

Keris Nusantara dan Lontar Banyak Dikuasai Orang Asing

Mataram – Keris muncul beriringan dengan terciptanya bangunan-bangunan batu tertua. Candi, prasasti, arca, dan setiap bangunan apapun yang terbuat dari batu pasti dikerjakan dengan alat-alat logam. Karena material logam bersifat lebih keras dari batu.

Keris yang bagus adalah keris yang tersusun dari campuran berbagai jenis logam. Seperti besi, baja, dan nikel. Campuran ini cukup sempurna: baja yang keras, tajam, getas dipadukan dengan olahan besi dan nikel yang lebih lunak. Oleh sebab itu ia tidak mudah patah atau bengkok.

Di kalangan masyarakat Nusantara, keris kental sebagai sebuah simbol kejantanan. Keris juga dapat dikatakan lambang pusaka. Kalender masyarakat Jawa misalnya, mengirabkan pusaka unggulan keraton pada hari satu sura (1 Muhamaram).

Keris merupakan warisan budaya asli Nusantara. Meski kebudayaan tersebut sudah mendapatkan pengaruh dari kebudayaan luar. Antara lain dari India, Cina, dan Timur Tengah misalnya. Pengaruh kebudayaan luar ini umumnya dapat terlihat pada keragaman motif ornamen keris.

Menurut tradisi kepercayaan Jawa kuno, keris alias tombak pusaka itu menjadi unggulan keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur baja, besi, nikel, melainkan pula teknik pembuatannya yang sangat berbeda. Pembuatannya disertai dengan ritual pemanjatan doa kepada sang Pencipta Alam oleh sang empu serta pandai besi. Maka keris pun dianggap senjata yang mengandung daya magis.

Bilah keris selalu condong sekitar hampir 30 derajat terhadap pegangannya. Bertujuan agar luka tikaman yang dihasilkan lebih besar. Semakain senjata tikam memiliki kemiringan tertentu, akan makin hebat jugalah kemampuan merusak yang dimilikinya.

Menurut budayawan Lombok, Muhamad Yamin, keris maupun benda-benda cagar budaya lain merupakan pembendaharaan kultural yang memiliki banyak makna. Hal ini diungkapkan Amin dalam sarasehan kolektor bertema meningkatkan jatidiri bangsa melalui pelestarian warisan budaya di Museum NTB, Kamis (15/9).

Dalam sarasehan ini juga terungkap, bahwa keris merupakan prestise dan kebanggaan pemiliknya. Juga menjadi kebanggaan satu komunitas pemiliknya.  Sayangnya kata Habibi, keris nusantara dan lontar ini banyak dikuasai orang asing.

‘’Saya akui, banyak benda-benda cagar budaya Lombok yang saat ini sudah dikuasai orang asing, terutama lontar,’’ ungkap Habibi di hadapan puluhan siswa SMA dan peserta sarasehan.

Lantas bagaimana cara membedakan keris Lombok dengan keris Bali atau keris Jawa. Kolektor muda Karang Taliwang ini mengaku hal itu memang sulit dibedakan. Tetapi lulusan Fakultas Hukum Unram ini mengaku masih bisa mengenali kekhasan keris dan perbedaan keris Lombok dengan keris daerah lain. (*)

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda