Daulat Pohon 2016 Pawang Rinjani

Menuju Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan

‘’Sudut Pandang  Membangun  Greenland dan Icon Daerah’’

Dan surga kecil Nusa Tenggara Barat itu bernama Lombok Utara. Ini tentang bumi dan tanah kita. Bumi Sejuta Flamboyan, next klimatologica.

Ketua Pawang Rinjani, D. Pramoehadi

Ketua Pawang Rinjani, D. Pramoehadi

D. Pramoehardie – WPR.001.15

Hutan dan ruang terbuka hijau tidak hanya memberi tempat bagi siapapun untuk menikmati kemerdekaannya. Sebagai manusia dengan anatomi tubuh yang tersusun dari oksigen yang bersih tapi ia juga adalah struktur bumi yang memiliki fungsi penting bagi keberlanjutan hidup manusia.

Kajian – kajian yang menyebutkan; Tuhan menciptakan segala sesuatu hanya satu kali, mengisyaratkan jika air pun di diciptakan tuhan hanya satu kali dengan volume yang mampu menenggelamkan bumi. Hanya saja tuhan telah meciptakan pepohonan sebagai filter yang membuat mahluk yang benama air ini tidak menenggelamkan bumi

Kajian–kajian tersebut dibenarkan oleh fakta–fakta alam yang dalam siklus pergerakan air. Yang kemudian pepohonan memiliki fungsi tampung sementara dan mengalirkan air secara bertahap.

Dapat dibayangkan jika pepohonan telah berganti dengan tinag–tiang beton  yang kemudian air kembali kelaut tanpa filter. Maka erosi, banjir bandang, abrasi dan penyusutan jumlah daratan pada bumi pun akan terjadi.

Masyarakat di negara–negara yang telah kehilangan pepohonan tidak saja mulai merasa terancam dari aspek kesehatan tapi juga mulai terancam dari bahaya–bahaya bencana turunnya permukaan tanah dan mulai terjadinya penyusustan luas daratan akibat dari penggunaan air tanah yang berlebihan tanpa adanya filter alam.

Pepohonan telah menjadi surga kedua yang ada di bumi bagi negara–negara yang telah kehilangan hutan. Beratnya polusi yang merupakan efek teknologi, ketersediaan sumber air yang telah mulai menyusut, dan bencana alam yang tidak henti–hentinya. Ini mengisyaratkan jika hal terpenting dari penciptaan bumi telah mulai rusak dan itu adalah pepohonan.

Sudah saatnya dalam setiap konsep keterbangunan menjadikan pepohonan sebagai bagian yang tidak dikorbankan. dalih–dalih pembenaran yang mengatakan bertambahnya populasi manusia rentan merusak pepohonan adalah alasan klasik hanya untuk menutupi ketidakmampuan kita membuat perencanaan pembangunan yang lebih berpihak pada pepohonan dan kelangsungan hidup manusia.

Hutan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam pengelolaan modern tidak saja menjadi kaku dengan batasan gelap, kayu, sepi dan menakutkan. Tetapi hutan akan menjadi bagian yang akan menyumbang  peluang terbukanya lapangan ketenagakerjaan asal dikelola dengan baik dan benar.

Sebagaimana hal tersebut dilakukan negara tetangga, Vietnam, yang secara Indeks Prestasi Manusianya (IPM) jauh lebih rendah dibanding Indonesia.Namun karna kekuatannya menjaga keraifan budaya, telah mampu membuat negara tersebut menjadi pengelola wisata hutan, RTH dan air untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

Meyakini manusia adalah bagian dari alam yang kemudian jika alam tersakiti akan berbalik menyakiti manusia adalah consept culture dan budaya yang telah menjadi prinsip dari generasi ke generasi. Lalu apa alasan kita membiarkan pepohonan menjadi tiang beton, membiarkan hutan menjadi seonggok tanah? Apakah kita telah terbiasa melihat saudara–saudara kita dihanyutkan banjir bandang, tertimbun longsor dan kehausan di negeri yang dikatakan pecahan surga?

Pepohonan adalah penjaga bumi, penjaga umat manusia dan semua mahluk dari kehancuran. Terlalu banyak teori dunia dalam diskusi panjang tentang menyelamatkan hutan, namun tetap saja tuan–tuan ilegal loging berkeliaran membabat pepohonan dengan bebas tanpa rasa berdosa.

Hutan sedang menunggu partisipasi siapapun untuk membuatnya kembali menjadi hutan. Bukan menjadi ladang, bukan padang, dan bukan menjadi onggokan tanah? Atau hutan akan memberi kabar tentang kerusakannya melalui bencana longsor, banjir bandang dan lain–lainnya agar manusia mengerti pepohonan adalah bagian dari diri manusia.

Bumi Sejuta Flamboyan

Manusia tidak saja bekerja untuk dirinya dan kekinian. Tetapi sejujurnya untuk titik kecil yang bernama pengabdian kepada Tuhannya, penguasa Jagad yang membentang tujuh tiang bumi dan langit dengan ke Tunggalan-Nya yang hak. Kepada penyempurna nikmat yang mengisi raga dengan tiupan anggin di titik yang lalu kita hanya diam dan menyadarkan akal kita yang terkadang kekanak kanakan.

Jagad ini tidak dicipatakan untuk diam. Begitu juga bumi dan isinya, bergerak dinamis seimbang dengan sisi-sisi keindahan sebagai mana kita kitab suci nukilkan dan kisah para nabi. Sebagai satu kesatuan utuh yang tak mungkin dipisahkan. Seperti rangkaian yang amat rumit.

Manusia adalah manipestasi bumi. Gambaran yang jelas tentang-Nya, sudut kesempurnaan yang dituangkan dengan tambahan modal akal. Sehingga menjadi utuh, sebagai penghulu bumi. Kata kunci dari kerusakan, juga sebaliknya,

Dalam hikayat-hikayat tua, keindahan surga dibahasakan dalam karya sastra dengan idiom dan iktibar yang begitu dalam. Bahwa bumi adalah manifestasi kecil dari gambaran surga  yang menjadi misteri para pemikir dan pengembara ilmu tauhid. Hingga patutlah satu daunpun dalam kutipan hikayat, helainya berzikir memuja keindahan ciptaan-Nya dan Penciptanya.

Lalu menjadi pertayaan kekinian kita yang selalu pada upaya menagih janji Tuhan kita. Jikalau satu manusia diruang keindahan bernama pantai (pesisir) menanam satu pohon yang akan menumbuhkan jutaan helai daun dan bunga yang indah. Kemudian merawatnya dan menumbuhkan mamfaat yang luas. Tidak ada jenis alat penghitung yang akan mampu menuangkan nilai-nilai yang sebenarnya tertanam dalam diri kita (manusia) sebagai penghulu tunggal atas bumi.

Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan adalah bagian dari skema pikiran menyukseskan Program 99 Hari  kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara, dalam rangka percepatan menuju Lombok Utara lebih baik dengan daya dukung keterbangunan pada sektor lingkungan berbasis multisektor. Yang pada titiknya mengahtarkan manusia Lombok Utara yang berdaulat secara lingkungan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan spritual.

Mendaulat Bumi Sejuta Flamboyan menjadi sebutan lain bagi Lombok Utara yang kedepan menjadi ikon daerah. Harapannya, mendaulat areal baru pariwisata yang memberikan manfaat baru untuk masyarakat Lombok Utara. Juga menjadi upaya memperbaiki ekosistem dan menjadikan areal bulevard jalan sebagai ruang rekreasi dan ruang terbuka hijau bagi masayarakat Lombok Utara. Juga merupakan upaya baru pemantik wisata alternatif selain pantai dan gunung di Lombok Utara.

Lombok Utara Bumi Sejuta Flamboyan;  Sebagai upaya mendaulat pohon sebagai solusi pariwisata baru yang nantinya memberikan kesadaran positif bahwa pohonpun menjadi kebutuhan penting. Tidak hanya pada pada wilayah wilayah hulu tetapi hilir juga dan ruang terbuka kota.

Bumi Sejuta flamboyan yang pada pikirannya dan wujudnya nanti, menjadi ruang terpanjang baru diseluruh Indonesia bahkan di dunia dengan memantik kesadaran bersama sebagai bentuk aplikasi bersama menumbuhkan pohon dengan nilai dalam kurun waktu yang tentunya butuh keteguhan dan sumbangan hati bersama. Karena ini tentang bumi dan tanah kita, untuk kita dan anak anak kita nanti(*)

Oleh : D. Pramoehadi

editor: Apink Alkaff

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About D Pramoehardie

D Pramoehardie